<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069</id><updated>2011-12-21T17:06:54.372-08:00</updated><title type='text'>اللهم إنا نسألك الجنة ونعوذبك من النار...وبارك لنا في أعمالنا</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-6104346361587893451</id><published>2011-08-24T00:06:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T00:06:33.227-07:00</updated><title type='text'>Lailatul Qadar dan I'tikaf</title><content type='html'>&lt;a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html"&gt;Lailatul Qadar dan I'tikaf&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-6104346361587893451?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/6104346361587893451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2011/08/lailatul-qadar-dan-itikaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6104346361587893451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6104346361587893451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2011/08/lailatul-qadar-dan-itikaf.html' title='Lailatul Qadar dan I&apos;tikaf'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-9050714042243508659</id><published>2011-08-23T23:59:00.000-07:00</published><updated>2011-08-23T23:59:03.807-07:00</updated><title type='text'>Petunjuk Nabi dalam I'tikaf, Zakat Fithroh, dan Berhari Raya</title><content type='html'>&lt;a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya.html"&gt;Petunjuk Nabi dalam I'tikaf, Zakat Fithroh, dan Berhari Raya&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-9050714042243508659?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/9050714042243508659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2011/08/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/9050714042243508659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/9050714042243508659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2011/08/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat.html' title='Petunjuk Nabi dalam I&apos;tikaf, Zakat Fithroh, dan Berhari Raya'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-5789164810326453599</id><published>2011-02-28T01:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T01:51:35.195-08:00</updated><title type='text'>Racun Hati...Racun turunan Iblis ..</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang takut dengan penyakit yang akan menimpa pada jasad mereka, bahkan mereka berani mengeluarkan tidak sedikit uang demi menjaga diri mereka dari sekian banyak penyakit tubuh yang bisa mengancam kesehatan mereka. Memang kesehatan sangat penting untuk di jaga, terlebih kesehatan tubuh yang bisa mendukung aktivitas keseharian kita agar lancar dan sesuai dengan apa yang kita inginkan dalam kehidupan ini. Tidak ada manusia yang mau untuk sakit/menderita sakit, dan tiada ada manusia yang mau pula untuk senantiasa dihinggapi penyakit, terlebih penyakit menular atau bahkan mematikan. Oleh sebab itu tidak bisa kita ingkari bahwa dalam skala mayoritas hampir bisa kita katakan bahwa semua manusia akan sangat perhatian kepada kesehatan kondisii fisik dan jasad mereka agar jangan sampai terkena penyakit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Akan tetapi pernahkah kita tanyakan kepada diri kita masing-masing apakah kita memiliki ketakutan dengan penyakit yang mungkin bisa menghinggapi hati kita?? Tentunya ada pertanyaan ..lho emang hati ada penyakitnya ya?? Apa namanya Liver.??? Atau penyakit fisik model apaan tuh  penyakit hati?? Banyak ahli menyatakan penyakit yang hinggap di dalam hati seseorang tidak hanya penyakit fisik semacam Liver atau kanker hati semata, akan tetapi ada penyakit hati yang tidak kalah bahayanya dengan penyakit hati(fisik) tadi. Penyakit ini menyerang secara psikis, sangat berbahaya, sangat hina, bahkan yang lebih berbahaya lagi bahwa penyakit ini bisa menular….BAHAYA….!!!!!!!!!!! Lho emang se-bahaya apaan?? Bisa mematikan emang?? Kami jawab : “Ya , bisa mematikan, tidak cuman mematikan jasad dirinya, bahkan juga bisa mematikan jasad orang lain, bisa mematikan hati nuraninya, bisa mematikan hati nurani orang lain, serem deh pokoknya..&lt;br /&gt;Biasanya sih pasien dari penyakit hati semacam ini hidupnya tidak pernah tenang dan nyaman, senantiasa ada rasa was was dalam hati mereka, senantiasa mengawasi keadaan orang lain yang kemudian ia bandingkan dengan keadaan dirinya. Kalaupun keadaan orang lain lebih hina dari keadaan dirinya ia senang dan tenang, kebalikannya apabila keadaan orang lain lebih senang dan tenang dari dirinya ia sangat kebingungan dan marah, ia memendam dendam kesumat yang ia tujukan untuk orang lain tanpa memperhatikan apakah orang lain yang ia benci dalam keadaan salah pada dirinya atau tidak. “Pokoknya aku benci dan tidak suka sama dia(orang lain tadi) !!! “. Ayoo... ada yang merasa pernah memiliki sifat yang seperti ini ???. Yuk !! kita koreksi diri kita masing-masing, ga usah mengurusi diri orang lain, lagian diri kita saat ini pasti kita bisa menjawab kalau diri kita aja masih belum bener, ngapain ngurusin hidup orang lain??.&lt;br /&gt;Kawan, penyakit hati dalam al Quran sempat disinggung oleh Allah Ta’ala dalam awal-awal surat al Baqarah yang sering kita baca, bener ga’ kalau surat ini sering kita baca?? Tentunya bagi yang merasa barusan bisa baca atau barusan “lancar" baca al Quran mereka tidak perlu malu untuk mengatakan “iya”.  Coba kita perhatikan firman Allah Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat ke 10 :&lt;br /&gt;فيِ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضٌا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُوْنَ&lt;br /&gt;Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih .. awal mula ayat ini turun diperuntukkan bagi orang-orang munafik yang iri/dengki dengan kenabian Muhammad SAW, dalam hati-hati mereka orang-orang munafik Allah berikan penyakit, bahkan semakin Allah tambahkan penyakit dengki pada diri mereka. Akan tetapi kawan .. ayat ini secara umum menyatakan bahwa memang peringatan tersebut diperuntukkan bukan hanya untuk mereka semata, juga bagi umat manusia secara keseluruhan sepanjang zaman. Hati yang terkena penyakit seperti biasa tidak terlepas dari hal-hal buruk yang siap menyerang sebagaimana penyakit pada umumnya. Tidak ada penyakit kalau tidak ada sebab, bisa jadi sebabnya adalah kuman, bakteri, racun, dan lain sebagainya. Lha kalau penyakit psikis pada hati tuh Ulama telah menjelaskan dalam berbagai karya emas mereka yang bisa kita nikmati sampai sekarang. Kita ambil beberapa contoh seperti Imam ibn Rajab al Hanbali, Imam Abu Hamid Muhammad al Ghazali, Imam Ibn Qayyim al Jauziyyah – rahimahumullah-(semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada beliau semua) adalah beberapa ulama yang sempat mengukir tinta emas mereka dalam rangka memberikan nasihat kepada umat Islam agar berhati-hati dalam masalah penyakit hati, termasuk berhati-hati dari racun-racun yang siap menyerang hati agar terkena penyakit hati tersebut.&lt;br /&gt;Diantara racun-racun hati, yang selalu disebut pertama kali oleh para ulama adalah racun lisan. Ini dikarenakan banyaknya kemaksiatan dan kerusakan yang disebabkan oleh lisan. Hati dan perasaan bisa tersinggung karena lisan. Gosip yang memerahkan telinga bisa berhembus dengan cepat karena lisan. Fitnah yang dahsyat bisa tersebar karena lisan. Kesalahpahaman terjadi karena lisan. Konflik, pertikaian dan bahkan pertumpahan darah terjadi karena lisan.&lt;br /&gt;Sedemikian bahayanya lisan ini kalau tidak terjaga sehingga Rasulullah mengukur kualitas keimanan seseorang dari lisannya. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ&lt;br /&gt;”Tidaklah lurus iman seseorang sampai lurus hatinya. Dan tidaklah lurus hati seseorang sampai lurus lisannya.” (HR Ahmad).&lt;br /&gt;Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ&lt;br /&gt;”Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam saja.” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Menegaskan bisa sedemikian berbahayanya lisan jika tidak dijaga, Umar bin Khaththab berkata,&lt;br /&gt;مَنْ كَثُرَ كَلاَمُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوْبُهُ وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلىَ بِهِ&lt;br /&gt;”Barangsiapa banyak bicaranya maka akan banyak tergelincirnya. Barangsiapa banyak tergelincirnya maka banyaklah dosanya. Dan barangsiapa banyak dosanya maka neraka lebih pantas untuknya.”&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang cukup panjang pernah suatu ketika Mu’adz bin Jabal menanyakan berbagai kebaikan kepada Rasulullah. Semuanya pun dijawab oleh Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah balik bertanya kepada Mu’adz,&lt;br /&gt;أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ , فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ : كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا , فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ ,وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ , فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ ,وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ&lt;br /&gt;”Maukah engkau aku beritahu yang lebih besar dari semua kebaikan itu?” Mu’adz menjawab, ”Tentu, wahai Rasulullah.” Maka sambil memegang lisan, Rasulullah bersabda, ”Jagalah ini!” Mu’adz bertanya dengan nada agak protes, ”Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dicelakakan oleh apa yang kita ucapkan?” Rasulullah menjawab, ”Kasihan engkau, Mu’adz. Mestinya engkau tahu itu.” Lalu beliau melanjutkan, ”Apakah tidak kau kira bahwa wajah-wajah manusia/tengkuk-tengkuk mereka dilemparkan kedalam api neraka kecuali semua itu adalah akibat dari kejahatan lisannya?” (HR Turmudzi dan Hakim).&lt;br /&gt;Abu Hurairah pernah menceritakan bahwa suatu ketika Nabi ditanya tentang apa yang paling banyak menjadikan manusia masuk surga. Beliau saw menjawab, ”Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Sesudah itu Nabi ditanya apa yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka. Beliau saw menjawab, ”Mulut dan kemaluan.” (HR Ahmad dan Turmudzi).&lt;br /&gt;Dari sini jelas bagi kita semua bahwa ternyata lisan kita amat menentukan nasib kita di akhirat. Selamat dan celakanya kita pada hari pembalasan kelak sangat ditentukan oleh sejauh mana kita bisa menjaga lisan kita. Sayangnya, seringkali kita tidak sadar. Seringkali kita lalai terhadap setiap kata yang meluncur dari lisan kita. Padahal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ&lt;br /&gt;”Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang ia sangka bukan apa-apa (tidak berdosa) padahal satu kata itu ternyata akan menggelincirkannya selama tujuh puluh tahun didalam neraka.”&lt;br /&gt;Dalam redaksi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ&lt;br /&gt;”Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang tidak ia teliti sebelumnya(baik atau tidaknya ucapan tersebut -pent) sehingga akibat satu kata itu ia tergelincir kedalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.”&lt;br /&gt;Maha Suci Allah!!! Kalaupun demikian, bagaimana dengan keadaan kita selama ini kawan…? Apakah kita senantiasa meneliti setiap kata yang keluar dari lisan kita? Ataukah kita tidak pernah mengendalikannya sehingga tanpa sadar hal itu akan melemparkan kita kedalam neraka? Ataukah sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi kita ketika lisan telah terbiasa berucap tanpa melewati otak untuk diseleksi terlebih dahulu, sehingga semuanya keluar dari mulut ibarat orang muntah keluar dari perut langsung ke mulut tanpa melewati otak yang ada di kepala kita??? Lisan berucap asal ngomong tanpa melihat kedepan apa akibat dari apa yang kita ucapkan. Berhati-hatilah wahai lisan….berhati-hatilah wahai kawan… apapun keadaanmu saat ini, setinggi apapun kedudukan saat ini, sebesar apapun gelar status sosial ataupun gelar pendidikan yang kau miliki, kelak dirimu tidak ada apa-apanya dihadapan Allah Ta’ala. Hanya iman dan bekal amal kebaikanmu yang bisa menyelamatkan dirimu dari murka Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Al-Qur’an dalam banyak tempat memerintahkan kepada kita untuk berbicara dengan tepat. Allah swt berfirman,&lt;br /&gt;ياَ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَقُوْلُواْ قَوْلاً سَدِيْدًا - يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيْماً&lt;br /&gt;”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bertuturkatalah dengan tepat, niscaya Allah akan memperbaiki untuk kalian amal-amal kalian dan Dia akan mengampuni untuk kalian dosa-dosa kalian.”(Q.S. Al Ahzab : 70-71)&lt;br /&gt;Demikianlah Allah memerintahkan kepada kita untuk berkata-kata dengan tepat, sesuai dengan tempat, waktu, situasi dan kondisi. Betapa banyak orang yang bermaksud baik akan tetapi ketika ia menyampaikannya dengan tidak tepat maka justru muncul masalah besar.&lt;br /&gt;Akhirnya, marilah kita benar-benar menjaga lisan kita. Katakan tidak pada ghibah (menggosip), namimah (memfitnah), kata-kata batil, kata-kata keji, mau menang sendiri, debat kusir, cekcok mulut, memuji-muji tidak pada tempatnya, menjelek-jelekkan orang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sebagai penutup, marilah kita dengar pesan Rasulullah ketika ‘Uqbah bin Amir bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah, apakah jalan keselamatan itu?” Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ&lt;br /&gt;”Tahanlah (jagalah) lisanmu, bahagiakan keluargamu, dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu.” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan singkat ini bermanfaat buat kita semuanya … ingat kawan .. jangan tersinggung dengan tulisan ini .. kesemuanya adalah dengan niat saling mengingatkan satu sama lain termasuk untuk diri kami pribadi sebagai seorang saudara sesama muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hangat dari saudaramu yang senantiasa menyayangimu dalam kebaikan dan iman yang benar….Harry Abu ‘Azzam&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-5789164810326453599?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/5789164810326453599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2011/02/racun-hatiracun-turunan-iblis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/5789164810326453599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/5789164810326453599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2011/02/racun-hatiracun-turunan-iblis.html' title='Racun Hati...Racun turunan Iblis ..'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-8057736901197123046</id><published>2010-07-08T23:42:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T23:46:22.245-07:00</updated><title type='text'>Mengolok-olok Syariat Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanya : Seringkali didapatkan sebagian muslim mengatakan pada sebagian yang lain yang menjalankan sunnah memelihara jenggot dengan ”jenggot kambing”, atau orang yang menaikkan batas celananya di atas mata kaki dengan ”kebanjiran”. Apa hukum Islam dalam hal ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab : Di antara tanda orang yang beriman adalah menetapi syari’atnya dan mengagungkannya dalam setiap sendi kehidupan. Allah ta’ala telah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al-Hajj : 22].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sikap yang bertentangan dengan keimanan jika ada orang yang mengejek, mencemooh, dan memperolok syari’at atau orang yang melaksanakan syari’at. Para ulama menyebut sikap-sikap seperti itu dengan istilah : istihzaa’.  Sikap istihzaa’ ini merupakan sikap asli yang berasal dari orang-orang kafir. Salah satu kaum yang selalu ber-istihzaa’ terhadap Islam dan kaum muslimin adalah Yahudi. Allah telah mengabadikan sikap orang Yahudi dalam Al-Qur’an ketika mereka membuat plesetan-plesetan untuk menghina Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa`ina", tetapi katakanlah: "Undhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih [QS. Al-Baqarah : 104]. [1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istihzaa’ adalah sikap/perbuatan yang sangat berbahaya bagi seorang muslim jika melakukannya. Para ulama telah sepakat bahwa istihzaa’ merupakan dosa besar yang dapat menyebabkan kekafiran mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sejarah Islam telah mencatat bagaimana sikap kaum munafiqiin yang mengolok-olok Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan kaum muslimin yang dengan itu menyebabkan kekafiran mereka,&lt;br /&gt;sebagaimana difirmankan Allah ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ * وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [QS. At-Taubah : 64-66].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Tafsir-nya dan Al-Imam Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan asbabun-nuzul (sebab turunnya) ayat di atas dengan sanad tidak mengapa (la ba’sa) dari Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قال رجل في غزوة تبوك، في مجلس: ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء؛ أرغب بطونا، ولا أكذب ألسنا، ولا أجبن عند اللقاء. فقال رجل في المجلس: كذبت، ولكنك منافق، لأخبرن رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، فبلغ ذلك النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ونزل القرآن. قال عبد الله بن عمر: فأنا رأيته متعلقا بحقب ناقة رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، تنكبه الحجارة، وهو يقول: يا رسول الله إنما كنا نخوض ونلعب. ورسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ يقول: ( أ بالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم )&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam majelis, berkatalah seorang laki-laki pada perang Tabuk : “Kami tidak pernah melihat seperti tamu-tamu kita ini; sangat mementingkan perut (rakus), sangat pendusta dan penakut dalam pertempuran/peperangan”.  Maka berkatalah seseorang kepadanya : “Engkau berdusta, engkau jelas munafik.  Akan aku laporkan apa yang engkau ucapkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”. Maka, sampailah ucapan tersebut kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian turunlah ayat di atas. Ibnu  Umar kemudian melanjutkan : “Maka aku lihat laki-laki tersebut bergantung di belakang unta Nabi, tersandung batu-batu, sambil berkata : ‘Ya Rasulullah, kami hanya main-main saja, tidak sungguh-sungguh”.  Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu mengolok-olok?.  Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman” [selesai].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Bakr Al-Jashshash rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;فيه الدلالة على أن اللاعب والجاد سواء في إظهار كلمة الكفر على غير وجه الإكراه. لأن هؤلاء المنافقين ذكروا أنهم قالوا ما قالوه لعبا، فأخبر الله عن كفرهم باللعب بذلك. وروى الحسن وقتادة أنهم قالوا في غزوة تبوك: أيرجو هذا الرجل أن يفتح قصور الشام وحصونها!! هيهات هيهات. فأطلع الله نبيه على ذلك. فأخبر أن هذا القول كفر منهم على أي وجه قالوا من جِد أو هزل، فدل على استواء حكم الجاد والهازل في إظهار كلمة الكفر. ودل ـ أيضا ـ على أن الاستهزاء بآيات الله، أو بشيء من شرائع دينه: كفر من فاعله&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Pada ayat tersebut terdapat dalil bahwa seseorang yang bermain-main atau sungguh-sungguh adalah sama kedudukannya dalam hal mengeluarkan kalimat kufur yang dilakukan dengan sengaja. Orang-orang munafik tersebut mengatakan bahwa mereka mengatakan perkataan itu hanya main-main saja. Maka Allah mengkhabarkan (kepada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) akan kekafiran mereka atas sebab hal itu. Al-Hasan dan Qatadah meriwayatkan bahwasannya mereka (kaum munafiq) berkata dalam peperangan Tabuk : ”Apakah laki-laki ini (yaitu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam) berangan-angan untuk membuka istana-istana Syaam beserta benteng-bentengnya ?! Sungguh sangat jauh khayalan ini”. Maka Allah menampakkan perkataan mereka kepada Nabi-Nya. Allah mengkhabarkan bahwasannya perkataan mereka itu adalah tanda kekufuran mereka, baik itu serius atau main-main saja. Ini menunjukkan bahwa dalam mengeluarkan ucapan-ucapan kufur baik serius atau main-main itu hukumnya sama. Juga menunjukkan bahwa mengolok-olok ayat-ayat Allah atau satu bagian dari syari’at agama-Nya adalah kekufuran bagi si pelaku” [selesai – Ahkaamul-Qur’an ju3 hal 142].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وقوله: {قَدْ كَفَرْتُمْ } أي: قد ظهر كفركم بعد إظهاركم الإيمان؛ وهذا يدل على أن الجد واللعب في إظهار كلمة الكفر سواء.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Dan firman-Nya : ”Sungguh karena kamu telah kafir”; yaitu tampaknya kekafiranmu setelah keimananmu. Ini menunjukkan bahwa sungguh-sungguh atau bermain-main dalam mengeluarkan kalimat kekufuran adalah sama” [Zaadul-Masiir 3/465].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Iftaa’ pernah ditanya tentang hukum orang yang mengolok-olok sebagian perkara-perkara yang disunnahkan seperti siwak, pakaian di atas mata kaki, dan minum sambil duduk; maka dijawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;من استهزأ ببعض المستحبات، كالسواك، والقميص الذي لا يتجاوز نصف الساق، والقبض في الصلاة، ونحوها مما ثبت من السنن؛ فحكمه: أنه يبين له مشروعية ذلك، وأن السنة عن الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ دلت على ذلك؛ فإذا أصر على الاستهزاء بالسنن الثابتة: كفر بذلك، لأنه بهذا يكون متنقصا للرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولشرعه، والتنقص بذلك كفر أكبر&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang mengolok-olok sebagian perkara yang disunnahkan, seperti siwak, berpakaian tidak melebihi pertengahan betis, bersedekap ketika shalat dan lainnya yang telah tetap dari Sunnah; maka hukumnya adalah : Hendaknya ia diberikan penjelasan tentang disyari’atkannya perbuatan tersebut (yang ia olok-olok). Bahwasannya Sunnah Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam menunjukkan demikian. Apabila setelah diberi penjelasan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari Sunnah yang telah tetap, (orang tersebut masih saja mengolok-olok), maka ia telah kufur. Hal itu disebabkan karena ia telah mencela dan menghujat Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam dan syari’atnya. Mencela dan menghujat yang seperti ini maka termasuk kufur akbar” [Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah lisy-Syawaarifi hal. 141-142],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanjangkan jenggot dan menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal) termasuk diantara syari’at Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam [2]. Maka tidak pantas bagi seseorang meninggalkannya, apalagi malah mengolok-oloknya. Hendaknya setiap kaum muslimin senantiasa menjaga lisannya agar tidak sampai digelincirkan oleh syaithan untuk mengucapkan kalimat-kalimat kekufuran yang akan membuatnya menyesal di dunia dan di akhirat. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]     Tentang syari’at memanjangkan jenggot :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Pangkaslah kumis, panjangkanlah jenggot, danm selisihilah kaum Majusi” [HR. Muslim no. 260].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang syari’at mengangkat pakaian/celana/sarung di atas mata kaki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن حذيفة قال أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بعضلة ساقي أو ساقه فقال هذا موضع الإزار فإن أبيت فأسفل فإن أبيت فلا حق للإزار في الكعبين قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memegang urat betisku”. Maka beliau bersabda : “Ini adalah batas panjang kain sarungmu. Apabila engkau enggan, maka boleh di bawahnya. Dan jika engkau enggan, maka tidak ada hak bagi kain sarung untuk melebihi mata kaki”  [HR. At-Tirmidzi no. 1783; dan beliau berkata : Ini adalah hadits hasan shahih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]     ”Raa’inaa” artinya : sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Ketika para shahabat radliyallaahu ’anhum menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, orang-orang Yahudi pun latah meniru mereka namun dengan diplesetkan untuk menghina beliau shallallaahu ’alaihi wasallam. Orang Yahudi mengatakan  : ”Ru’unah” yang artinya adalah : ketololan yang amat sangat. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan para shahabat agar mengatakan undhurnaa yang artinya sama dengan raa’inaa. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-8057736901197123046?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/8057736901197123046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/07/mengolok-olok-syariat-islam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/8057736901197123046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/8057736901197123046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/07/mengolok-olok-syariat-islam.html' title='Mengolok-olok Syariat Islam'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-4693964117250169142</id><published>2010-07-08T16:49:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T16:50:44.655-07:00</updated><title type='text'>Mungkinkah si Manusia kawin dengan si Jin</title><content type='html'>Artikel ini tidak akan membahas hukum pernikahan antara jin dengan manusia, karena hal itu telah dibahas dalam artikel sebelumnya (lihat : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/menikah-dengan-jin.html). Yang akan disinggung di sini adalah keberadaan/realitas dari permasalahan itu sendiri : Apakah dimungkinkan pernikahan antara jin dengan manusia ?. Jawabnya : Mungkin, dan itu telah terjadi. Di sini saya tidak akan mengutip dari buku-buku atau majalah-majalah ‘alam ghaib’ kontemporer. Tanpa berpanjang lebar kata, berikut perkataan para ulama kita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis kitab Tafsiir Hadaaiqur-Ruuh war-Raihaan (15/302) berkata :&lt;br /&gt;ومن هنا أخذ بعض العلماء أن يمتنع أن يتزوج المرء امرأة من الجن، إذ لا مجانسة بينهما فلا مناكحة، وأكثرهم على إمكانه&lt;br /&gt;“Dari sini, sebagian ulama menolak pernikahan seorang laki-laki dengan wanita dari kalangan jin, karena tidak sejenis sehingga tidak (mungkin) terjadi pernikahan keduanya. Namun kebanyakan ulama berpendapat mungkinnya pernikahan tersebut” [selesai].&lt;br /&gt;Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;وقد يتناكح الإنس والجن ويولد بينهما ولد، وهذا كثير معروف، وقد ذكر العلماء ذلك وتكلموا عليه&lt;br /&gt;“Sungguh telah terjadi pernikahan antara manusia dengan jin yang kemudian menghasilkan anak dari keduanya. Hal ini telah banyak terjadi lagi ma’ruuf. Para ulama telah menyebutkannya dan memperbincangkan fenomena itu” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 19/39].&lt;br /&gt;Asy-Syibliy rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul Ahkaamul-Marjaan fii Ahkaamil-Jaann (hal. 67) berkata : Dan telah berkata Ahmad bin Sulaimaan An-Najjaad[1] dalam kitab Amaaliy-nya :&lt;br /&gt;حدثنا علي بن الحسن بن سليمان أبو الشعثاء الحضرمي أحد شيوخ مسلم حدثنا أبو معاوية قال سمعت الأعمش يقول: تزوج إلينا جني، فقلت له: ما أحب الطعام إليكم؟ قال: الأرز... القصة.&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Sulaimaan Abusy-Sya’tsaa’ Al-Hadlramiy[2] – salah seorang guru dari (Al-Imam) Muslim – : Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah[3], ia berkata : Aku mendengar Al-A’masy berkata : Seorang jin telah menikah dengan kami (manusia). Lalu aku katakan padanya (jin) : “Makanan apa yang paling kalian sukai ?”. Ia berkata : “Beras/nasi......dst.” [hasan].[4]&lt;br /&gt;Asy-Syibliy rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;قال شيخنا الحافظ أبو الحجاج المزي تغمده الله برحمته: هذا إسناد صحيح إلى الأعمش&lt;br /&gt;“Telah berkata syaikh kami Al-Haafidh Abul-Hajjaaj Al-Miziiy  - semoga Allah memperbaiki keadaannya dengan rahmat-Nya – : ‘Sanad riwayat ini shahih sampai pada Al-A’masy”.&lt;br /&gt;Adz-Dzahabiy rahimahullah :&lt;br /&gt;ونقل رفيقنا أبو الفتح اليعمري وكان متثبثاً قال سمعت الإمام تقي الدين ابن دقيق العيد يقول: سمعت شيخنا أبا محمد بن عبد السلام السلمي يقول: وجرى ذكر أبي عبد الله بن العربي الطائي فقال: هو شيعي سوء كذاب، فقلت له: وكذاب أيضا؟ قال: نعم تذاكرنا بدمشق التزويج بالجن فقال: هذا محال لأن الإنس جسم كثيف والجن روح لطيف، ولن يعلق الجسم الكثيف الروح اللطيف، ثم بعد قليل رأيته وبه شجة فقال: تزوجت جنية فرزقت منها ثلاثة أولاد فاتفق يوما أن أغضبتها فضربتني بعظم حصلت منه هذه الشجة وانصرفت فلم أرها بعد هذا، أو معناه.&lt;br /&gt;”Teman kami Abul-Fath Al-Ya’muriy – ia seorang yang kuat hapalannya – menukil, ia berkata : Aku mendengar Al-Imam Taqiyyuddin bin Daqiiqil-’Ied berkata : Aku mendengar syaikh kami Abu Muhammad bin ’Abdis-Salaam As-Sulamiy berkata bahwa ia pernah terlibat pembicaraan tentang diri Abu ’Abdillah bin Al-’Arabiy Ath-Thaa’iy, lalu berkata : ’Ia seorang Syi’iy (penganut Syi’ah) yang jelek lagi pendusta’. Aku (Ibnu Daqiiqil-’Ied) berkata kepadanya : ’Pendusta jugakah ia ?’. Ia menjawab : ’Benar. Kami pernah berdiskusi di Damaskus sekitar permasalahan pernikahan dengan jin. Lalu ia berkata : ’Ini sesuatu yang mustahil, karena manusia adalah jasmani yang padat, sedangkan jin adalah ruh yang halus. Jasmani yang padat dengan ruh yang halus tidak dapat berhubungan’. Setelah itu, tiba-tiba aku melihatnya terluka. Ia berkata : ’Aku pernah menikah dengan jin perempuan hingga dikaruniai tiga orang anak. Hingga satu hari aku membuatnya marah, sehingga ia memukulku dengan tulang sampai membekas luka ini. Lalu jin perempuan itu kabur dan aku tidak pernah melihatnya lagi setelah itu’. Atau ucapan yang semakna dengan ini” [Miizaanul-I’tidaal, 3/659].&lt;br /&gt;Dusta dari Ath-Thaa’iy adalah karena ia sebelumnya mengatakan tidak mungkinnya pernikahan antara jin dengan manusia, namun ternyata ia sendiri mengakui telah melakukannya.&lt;br /&gt;As-Suyuthiy dalam kitab Laqthul-Marjaan (hal. 64-65) berkata :&lt;br /&gt;وحدثنا قاضي القضاة جلال الدين أحمد بن قاضي القضاة حسام الدين الرازي الحنفي قال: سفرني والدي لإحضار أهله من المشرق فلما جزت البيرة إلى أن نمنا في مغارة وكنت في جماعة، فبينا أنا نائم إذا بشيء يوقظني فانتبهت فإذا بامرأة وسط من النساء لها عين واحدة مشقوقة بالطول فارتعبت فقالت: ما عليك فإنما أتيتك لتتزوج ابنة كالقمر فقلت لخوفي منها: على خيرة الله ثم نظرت فإذا برجال قد أقبلوا فإذا هم كهيئة المرأة عيونهم مشقوقة بالطول في هيئة قاض وشهود فتخطى القاضي وعقد فقبلت ثم نهضوا وعادت المرأة ومعها جارية حسناء إلا أن عينها مثل عين أمها، وتركتها عندي وانصرفت، فزاد خوفي واستيحاشي وبقيت أرمي من كان عندي بالحجارة حتى يستيقظوا فما انتبه منهم أحد، فأقبلت على الدعاء والتضرع، ثم آن الرحيل فرحلنا وتلك الشابة لا تفارقني، فذهب على هذا ثلاثة أيام فلما كان اليوم الرابع أتتني المرأة التي جاءتني أولا وقالت: كأن هذه الشابة ما أعجبتك وكأنك تحب فراقها. فقلت: أي والله قالت: فطلقها فانصرفت ثم لم أرها بعد.&lt;br /&gt;”Telah menceritakan kepada kami Qaadliy Al-Qudlaat Jalaaluddiin Ahmad bin Qaadliy Al-Qudlaat Hisaamuddiin Ar-Raaziy Al-Hanafiy, ia berkata : Ayahku memerintahkakku untuk melakukan safar untuk menjemput keluarganya dari daerah timur. Ketika aku sampai di padang tandus, kami bermalam di sebuah gua. Waktu itu kami berombongan. Maka, saat aku tertidur, ada sesuatu yang membuat aku bangun. Ternyata, ada seorang wanita setengah baya yang mempunyai satu mata melintang vertikal. Ia berkata : ”Ada apa denganmu ? Aku mendatangimu agar engkau mau menikahi anak perempuanku yang (wajahnya) seperti bulan (cantik). Karena takut, aku berkata : ”Aku hanya mau sesuai dengan pilihan Allah”. Kemudian aku lihat beberapa orang laki-laki  datang. Wajah mereka sama seperti wanita tadi yang hanya punya satu mata melintang vertikal. Penampilan mereka seperti hakim dan saksi-saksi. Lalu si hakim melangkah dan mengadakan aqad. Aku menerimanya. Setelah selesai, mereka kemudian bangkit pergi. Wanita itu kembali bersama anak perempuannya yang cantik. Namun, matanya seperti mata ibunya. Ia meninggalkan anak perempuannya itu di sisiku, lalu pergi. Rasa takutku bertambah. Aku melempar orang-orang di sekitarku dengan kerikil agar bangun, namun ternyata tidak seorang pun yang bangun. Lalu aku berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah. Tibalah waktu melanjutkan perjalanan, sementara perempuan itu selalu bersamaku. Hal itu berlangsung selama tiga hari. Ketika menginjak hari keempat, si wanita setengah baya yang menemuiku sebelumnya kembali datang. Ia berkata : ”Sepertinya anak perempuan ini tidak lagi menyukaimu. Dan sepertinya engkau juga ingin menceraikannya”. Aku berkata ”Ya benar, demi Allah”. Ia berkata ”Ceraikanlah ia”. Setelah aku ceraikan, maka mereka pergi dan kemudian aku tidak pernah melihatnya kembali setelah itu” [selesai].&lt;br /&gt;……………………………………&lt;br /&gt;[selesai – abul-jauzaa’ – diambil sebagian dari buku Al-Burhaan ’alaa Tahriimit-Tanaakuhi bainal-Insi wal-Jaan oleh Fadliilatusy-Syaikh Muhammad bin ’Abdillah Al-Imam – bisa di-download dari mauqi’ beliau – dimana penghukuman riwayat Al-A’masy di atas, beliau mendla’ifkannya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]      An-Najjaad, ia adalah Ahmad bin Salmaan bin Al-Hasan bin Israaiil bin Yuunus Abu Bakr Al-Faqiih Al-Hanbaliy An-Najjaad. Ad-Daaruquthniy berkata : “Ahmad bin Salmaan telah meriwayatkan dari kitab orang lain yang tidak terdapat dalam ushul (kitab)-nya itu”. Al-Khathiib kemudian mengomentari perkataan Ad-Daaruquthniy tersebut : “An-Najjaad mengalami kebutaan di akhir umurnya. Kemungkinan sebagian pencari hadits (muridnya) membacakan kepadanya apa yang disebutkan oleh Ad-Daaruquthniy. Wallaahu a’lam”. Sebelumnya Al-Khathiib berkata tentangnya :  “Ia seorang yang shaduuq ‘aarif,…. mempunyai banyak hadits/riwayat”. Ahmad bin ‘Abdaan berkata : “Tidak masuk dalam Ash-Shahiih”. Adz-Dzahabiy berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Penghulu dalam ilmu fiqh dan riwayat/hadits”. Di lain tempat ia berkata : “Al-imaam, al-muhaddits, al-haafidh, al-faqiih, al-muftiy” [lihat : Taariikh Baghdaad 5/309-313 no. 2149, Thabaqatul-Hanaabilah 3/15-23 no. 581, Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 15/502-505 no. 285, Miizaanul-I’tidaal 1/101 no. 396, dan Lisaanul-Miizaan 1/474-475 no. 535].&lt;br /&gt;[2]      ‘Aliy bin Al-Hasan bin Sulaimaan Al-Hadlramiy Abul-Hasan/Abul-Husain Al-Waasithiy/Al-Kuufiy Al-Adamiy; seorang yang tsiqah, dipakai oleh Muslim dalam Shahih-nya. Abu Daawud berkata : “Tsiqah”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat. Al-Haakim berkata : “Tsiqah ma’muun”. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [lihat : Tahdziibul-Kamaal 20/369-371 no. 4041 dan Tahdziibut-Tahdziib 7/297-298 no. 510].&lt;br /&gt;[3]      Muhammad bin Khaazim At-Tamiimiy As-Sa’diy Abu Mu’aawiyyah Adl-Dlariir Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’iin berkata : “Abu Mu’aawiyyah sangat kami senangi/sukai, yaitu dalam riwayat Al-A’masy”. Di lain riwayat Ahmad berkata : “Abu Mu’aawiyyah Adl-Dlariir selain riwayatnya dari Al-A’masy, maka mudltharib, ia tidak menghapalnya dengan hapalan yang baik”. Di lain riwayat Ibnu Ma’iin berkata : “Abu Mu’aawiyyah lebih tsabt daripada Jariir dalam hadits Al-A’masy”. Di lain riwayat Ibnu Ma’iin berkata : “Setelah Sufyaan dan Syu’bah, maka Abu Mu’aawiyyah Adl-Dlariir (adalah orang yang paling tsabt dalam hadits Al-A’masy)”. Al-Wakii’iy berkata : “Kami tidak menjumpai seorang pun yang lebih mengetahui tentang hadits-hadits Al-A’masy selain Abu Mu’aawiyyah”. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Kuffah, tsiqah”. Ya’quub bin Syu’bah berkata : “Ia termasuk di antara orang-orang tsiqah, kadangkala melakukan tadlis”. Ibnul-Khiraasy berkata : “Shaduuq. Kedudukannya dalam hadits Al-A’masy, tsiqah. Namun jika selainnya, maka terdapat idlthiraab”. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia seorang yang haafidh lagi mutqin. Akan tetapi ia seorang murji’ yang jelek/keji (khabiits)” [lihat : Tahdziibul-Kamaal 25/123-133 no. 5173].&lt;br /&gt;[4]      Kekhawatiran riwayat ini berasal dari sisipan muridnya saat ia mengalami kebutaan, maka ini perlu dibuktikan.&lt;br /&gt;‘Aliy bin Al-Hasan Abusy-Sya’tsaa mempunyai mutaba’ah dari Daawud Ash-Shafadiy. Asy-Syibliy dalam Ahkaamul-Marjaan (hal. 68) menyebutkan : Telah berkata Abu Bakr Al-Kharaaithiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Manshuur Ar-Ramaadiy : Telah menceritakan kepada kami Daawud Ash-Shafadiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah Adl-Dlariir, dari Al-A’masy, ia berkata : Aku pernah menyaksikan pernikahan seorang jin di daerah Kauniy….dst”.&lt;br /&gt;Sanad riwayat lemah. Daawud Ash-Shafadiy tidak diketemukan biografinya. Al-Kharaaithiy, ia adalah Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Sahl bin Syaakir Abu Bakr Al-Kharaaithiy. Al-Khaathib berkata : “Hasanul-akhbaar, mempunyai tulisan-tulisan yang bagus/indah”. Ibnu Maakuulaa berkata : “Ia termasuk di antara pribadi-pribadi yang tsiqah”. Adz-Dzahabiy berkata : “Al-imaam, al-haafidh, ash-shaduuq, al-mushannif” [lihat : Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 15/267-268 no. 115]. Abu Bakr Ahmad bin Manshuur Ar-Ramadiy; Adz-Dzahabiy berkata tentangnya : “Tsiqah masyhuur,…. Ditsiqahkan oleh Ad-Daaruquthniy dan yang lainnya” [Miizaanul-I’tidaal, 1/158 no. 632].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-4693964117250169142?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/4693964117250169142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/07/mungkinkah-si-manusia-kawin-dengan-si.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/4693964117250169142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/4693964117250169142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/07/mungkinkah-si-manusia-kawin-dengan-si.html' title='Mungkinkah si Manusia kawin dengan si Jin'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-1075838159629395804</id><published>2010-07-08T16:31:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T16:34:56.930-07:00</updated><title type='text'>Puasa Rajab</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu ada yang menanyakan kepada saya tentang puasa Rajab. Saat saya menulis artikel ini, kalender menunjukkan tanggal 21 Rajab 1431. Mungkin agak ‘telat’. Akan tetapi, bahasan agama tidak mengenal kata telat untuk dipahami dan diamalkan. Berikut akan saya tuliskan secara ringkas – seperti biasa – bahasan sebegaimana tertera dalam judul di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pertanyaan : Apakah terlarang berpuasa di bulan Rajab ?.&lt;br /&gt;Jawabannya : Tidak. Tidak ada dalil yang melarang seseorang berpuasa di bulan Rajab[1], sebagaimana juga tidak ada dalil untuk melarang berpuasa di bulan lainnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat senang berpuasa pada bulan-bulan hijriyah, tidak terkecuali di bulan Rajab.&lt;br /&gt;حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا عبدالله بن نمير. ح وحدثنا ابن نمير. حدثنا أبي. حدثنا عثمان بن حكيم الأنصاري. قال: سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب ؟ ونحن يومئذ في رجب. فقال: سمعت ابن عباس رضي الله عنها يقول: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول: لا يفطر. ويفطر حتى نقول: لا يصوم.&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Numair. Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Hakiim Al-Anshaariy, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Sa’iid bin Jubair tentang puasa Rajab dimana kami waktu itu berada di bulan Rajab. Ia (Sa’iid) menjawab : Aku mendengar Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpuasa hingga kami berkata : ‘beliau tidak pernah berbuka’. Dan beliau pun pernah berbuka hingga kami berkata : ‘beliau tidak pernah berpuasa” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1157].[2]&lt;br /&gt;Apakah hadits di atas menunjukkan pengkhususan puasa di bulan Rajab dengan keutamaannya ?.&lt;br /&gt;Jawabannya : Tidak. Sifat puasa yang diceritakan oleh Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu bukanlah sifat puasa yang ia lihat khusus di bulan Rajab saja, namun juga sifat puasa yang ia secara umum pada diri beliau di luar bulan Ramadlan. Maksudnya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam terkadang banyak berpuasa pada satu bulan, terkadang pula meninggalkannya.&lt;br /&gt;Kebetulan, ‘Utsmaan bin Hakiim bertanya kepada Sa’iid bin Jubair tentang berpuasa di bulan Rajab, dan kemudian ia jawab dengan jawaban umum tentang sifat puasa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di luar bulan Ramadlan.&lt;br /&gt;Perhatikan riwayat berikut :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا كَامِلًا قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ وَيَصُومُ حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ لَا وَاللَّهِ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ لَا وَاللَّهِ لَا يَصُومُ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Abu Bisyr, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadlan. Dan beliau seseorang yang rajin puasa sehingga sehingga ada yang berkata : ‘Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berbuka”. Namun beliau pun berbuka hingga ada yang berkata : ‘Tidak, demi Allah, beliau tidak berpuasa” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1971].&lt;br /&gt;حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ مِنْ الشَّهْرِ حَتَّى نَظُنَّ أَنْ لَا يَصُومَ مِنْهُ وَيَصُومُ حَتَّى نَظُنَّ أَنْ لَا يُفْطِرَ مِنْهُ شَيْئًا وَكَانَ لَا تَشَاءُ تَرَاهُ مِنْ اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْتَهُ وَلَا نَائِمًا إِلَّا رَأَيْتَهُ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepadaku ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far, dari Humaid : Bahwasannya ia pernah mendengar Anas radliyallaahu ‘anhu berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berbuka selama satu bulan hingga kami menduganya beliau tidak pernah berpuasa selama itu. Dan apabila berpuasa, seakan-akan beliau terus menerus berpuasa hingga kami menduganya beliau tidak pernah berbuka sama sekali dalam bulan itu. Dan jika engkau hendak melihat beliau pada suatu malam dalam keadaan shalat, niscaya engkau akan melihatnya. Sebaliknya, jika engkau ingin melihat beliau dalam posisi tertidur, melainkan engkau kalian akan melihatnya juga" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1972].&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, dari Maalik, dari Abun-Nadlr Maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, dari ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya ia berkata : “Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam senantiasa berpuasa hingga kami mengatakan : ‘beliau tidak pernah berbuka’. Dan beliau senantiasa berbuka hingga kami mengatakan : ‘beliau tidak berpuasa’. Dan tidaklah aku melihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadlan, dan tidaklah aku melihat beliau dalam satu bulan lebih banyak melakukan berpuasa daripada bulan Sya'ban” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2434; shahih].[3]&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pelaksanaan puasa di bulan Rajab adalah pelaksanaan puasa sunnah secara mutlak. Tidak ada hadits shahih yang menjadi dasar untuk mengkhususkan puasa di bulan Rajab.&lt;br /&gt;Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;لم يرد في رجب على الخصوص سنة صحيحية ولا حسنة ولا ضعيفة ضعفا خفيفا بل جميع ما روى فيه على الخصوص أما موضوع مكذوب أو ضعيف شديد الضعف&lt;br /&gt;“Tidak ada keutamaan (puasa) Rajab secara khusus dari hadits-hadits shahih, hasan, ataupun lemah (dla’if) dengan kelemahan yang ringan. Bahkan, seluruh hadits yang diriwayatkan tentang pengkhususan (puasa Rajab) adalah palsu lagi dusta atau lemah dengan kelemahan yang sangat parah” [As-Sailul-Jaraar, 1/297; Daar Ibni Hazm, Cet. 1].&lt;br /&gt;Jika ada yang sengaja berpuasa sunnah secara khusus di Rajab, maka salaf membencinya.&lt;br /&gt;حدثنا أبو معاوية عن الاعمش عن وبرة بن عبد الرحمن عن خرشة بن الحر قال رأيت عمر يضرب أكف الناس في رجب حتى يضعوها في الجفان ويقول كلوا فإنما هو شهر كان يعظمه أهل الجاهلية&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah, dari Al-A’masy, dari Wabarah, dari ‘Abdurrahmaan, dari Kharasyah bin Al-Hurr, ia berkata : Aku pernah melihat ‘Umar memukul telapak tangan orang-orang di bulan Rajab hingga ia meletakkannya di mangkok besar (makanan). ‘Umar berkata : “Makanlah, karena ia (Rajab) adalah bulan yang dulu diagungkan orang-orang Jaahiliyyah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 3/102; shahih li-ghairihi].[4]&lt;br /&gt;حدثنا وكيع عن عاصم بن محمد عن أبيه قال كان ابن عمر إذا رأى الناس وما يعدون لرجب كره ذلك&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ‘Aashim bin Muhammad, dari ayahnya, ia berkata : “Adalah Ibnu ‘Umar apabila ia melihat orang-orang dan apa-apa yang mereka khususkan pada bulan Rajab, maka ia membencinya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 3/102; ].[5]&lt;br /&gt;Tapi bukan berarti berpuasa di bulan Rajab menjadi terlarang. Telah lewat hadits yang menyatakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa ataupun berbuka di bulan Rajab. Mari kita simak penjelasan berikut :&lt;br /&gt;An-Nawawiy rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;ولم يثبت في صوم رجب نهي ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه. وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها والله أعلم&lt;br /&gt;“Tidak tsabit adanya larangan ataupun anjuran puasa khusus di bulan Rajab. Akan tetapi asal berpuasa di bulan tersebut adalah dianjurkan. Dalam Sunan Abi Daawud menyebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa di bulan-bulan Haram, sedangkan Rajab salah satu di antaranya. Wallaahu a’lam” [Syarh Shahih Muslim].&lt;br /&gt;Senada dengan An-Nawawiy adalah pendapat Ibnu Shalah rahimahullah.&lt;br /&gt;Hadits yang dimaksudkan oleh An-Nawawiy di atas adalah :&lt;br /&gt;حدثنا موسى بن إسماعيل ثنا حماد عن سعيد الجريري عن أبي السليل عن مجيبة الباهلية عن أبيها أو عمها أنه أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم انطلق فأتاه بعد سنة وقد تغيرت حالته وهيئته فقال يا رسول الله أما تعرفني قال ومن أنت قال أنا الباهلي الذي جئتك عام الأول قال فما غيرك وقد كنت حسن الهيئة قال ما أكلت طعاما إلا بليل منذ فارقتك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لم عذبت نفسك ثم قال صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن بي قوة قال صم يومين قال زدني قال صم ثلاثة أيام قال زدني قال صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصابعه الثلاثة فضمها ثم أرسلها&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Hammaad, dari Sa’iid Al-Jurairiy, dari Abus-Saliil, dari Mujiibah Al-Baahiliyyah, dari ayahnya atau dari pamannya, bahwasannya ia datang kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kemudian pergi. Setelah itu, ia kembali datang kepada beliau setelah satu tahun, dan keadaan serta penampilannya telah berubah. Kemudian ia berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalku ?”. Beliau bertanya : "Siapakan engkau ?". Ia berkata : “Aku adalah Al-Baahiliy yang telah datang kepadamu setahun silam”. Beliau bersabda : "Apakah yang telah mengubahmu ? Padahal dulu penampilanmu baik". Ia berkata : “Aku tidak makan kecuali pada malam hari semenjak aku berpisah denganmu”. Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Kenapa engkau menyiksa dirimu ?". Lalu beliau meneruskan : "Berpuasalah pada bulan yang penuh kesabaran (Ramadlan), dan satu hari setiap bulan". Ia berkata : “Tambahkan untukku, karena sesungguhnya saya masih sanggup (lebih dari itu)”. Beliau bersabda : "Berpuasalah dua hari !". Ia berkata :  “tambahkan untukku !”. Beliau bersabda : "Berpuasalah tiga hari !". Ia berkata : “Tambahkan untukku !”. Beliau bersabda : "Berpuasalah sebagian dari bulan-bulan Haram (Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram)." Beliau mengatakannya dengan memberi isyarat dengan ketiga jarinya, beliau menggenggamnya kemudian membukanya [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2428].&lt;br /&gt;Sayangnya, hadits ini tidak shahih. Mujiibah dalam sanad ini diperselisihkan :&lt;br /&gt;1.    Diperselisihkan apakah ia seorang laki-laki atau wanita. Ibnu Hajar saat menjelaskan biografi Abu Mujiibah menyebutkan perselisihan ini.&lt;br /&gt;2.    Diperselisihkan apakah ia berstatus shahabat atau bukan. Ibnu Hajar dalam At-Taqriib (At-Tahriir, 3/349 no. 6491) berkata : “Dikatakan ia wanita dari kalangan shahabat”. Ia (Ibnu Hajar) menggunakan shighah tamridl yang tidak mengindikasikan satu pemastian darinya. Yang lebih nampak, ia bukanlah shahabat, karena status laki-laki atau perempuannya saja masih menjadi perselisihan. Selain itu, ia hanya memiliki satu hadits (yaitu hadits di atas) yang diriwayatkan oleh Abus-Saliil darinya; sehingga keadaannya adalah majhuul.&lt;br /&gt;Selain itu, sanad riwayat ini juga mudltharib.&lt;br /&gt;1.    Abu Dawud (no. 2428), Ibnu Maajah (no. 1741) Al-Baihaqiy (4/291-292), Abu Nu’aim dalam Mu’jamush-Shahaabah (no. 7097), dan Ibnu Qaani’ dalam Mu’jamush-Shahaabah (2/93 no. 538) meriwayatkan : ‘dari Mujiibah Al-Baahiliyyah, dari ayahnya atau dari pamannya’.&lt;br /&gt;2.    An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa (3/204 no. 2752) dan ‘Abd bin Humaid (1/325 no. 400) meriwayatkan : ‘dari Mujiibah Al-Baahiliy, dari pamannya’.&lt;br /&gt;3.    Ibnu Hajar (At-Tahdziib 4/29) menyebutkan bahwa ia juga diriwayatkan dari Abu Mujiibah, dari ayahnya, dari pamannya.&lt;br /&gt;Meskipun begitu, telah shahih riwayat sebagian shahabat berpuasa di bulan-bulan Haram, seperti Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.&lt;br /&gt;عن معمر عن الزهري عن سالم أن بن عمر كان يصوم أشهر الحرم&lt;br /&gt;Dari Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari Saalim : Bahwasannya Ibnu ‘Umar berpuasa di bulan-bulan Haram [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7856; shahih].&lt;br /&gt;Namun, mereka memakruhkan berpuasa sebulan penuh di bulan Rajab.&lt;br /&gt;عن بن جريج عن عطاء قال كان بن عباس ينهى عن صيام رجب كله لأن لا يتخذ عيدا&lt;br /&gt;Dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa’, ia berkata : “Ibnu ‘Abbaas melarang puasa Rajab secara penuh (dalam satu bulan) agar (bulan tersebut) tidak dijadikan sebagai ‘Ied” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7854; shahih].[6]&lt;br /&gt;Ibnu Rajab rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;وعن ابن عباس: أنه كره أن يصام رجب كله وعن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يريان أن يفطر منه أياما وكرهه أنس أيضا وسعيد بن جبير وكره صيام رجب كله يحيى بن سعيد الأنصاري والإمام أحمد وقال: يفطر منه يوما أو يومين وحكاه عن ابن عمر وابن عباس وقال الشافعي في القديم: أكره أن يتخذ الرجل صوم شهر يكمله كما يكمل رمضان واحتج بحديث عائشة: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل شهرا قط إلا رمضان.&lt;br /&gt;“Dari Ibnu ‘Abbaas, bahwasannya ia membenci berpuasa di bulan Rajab secara penuh. Dan dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas bahwa keduanya berpendapat orang yang berpuasa di bulan Rajab hendaknya berbuka dalam beberapa hari. Anas dan Sa’iid bin Jubair juga membencinya.  Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy dan Al-Imam Ahmad membenci puasa di bulan Rajab secara penuh. Ia (Ahmad) berkata : ‘Hendaknya berbuka sehari atau dua hari’ – dimana ia mengutipnya dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas. Asy-Syaafi’iy dalam al-qadiim berkata : ‘Aku membenci seseorang berpuasa satu bulan secara sempurna sebagaimana ia menyempurnakan Ramadlan’. Ia berhujjah dengan hadits ‘Aaisyah : ‘Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa satu bulan pun selain bulan Ramadlan’…..” [Lathaaiful-Ma’aarif, hal. 119; Daar Ibni Hazm, Cet. 1/1424].&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam bish-shawwaab.&lt;br /&gt;Alhamdulillah, tulisan singkat ini dapat diselesaikan, semoga ada manfaatnya.&lt;br /&gt;[abul-jauzaa’ – 1431 – perumahan ciomas permai].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]      Ada satu riwayat sebagai berikut :&lt;br /&gt;عن ابن عباس؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن صيام رجب.&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa di bulan Rajab [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1743, Ath-Thabaraaniy 10/348 no. 10681, dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 3814].&lt;br /&gt;Sanad hadits ini lemah – bahkan sangat lemah, dengan letak kelemahan pada Daawud bin ‘Athaa’ Al-Muzanniy, Abu Sulaimaan Al-Makkiy.&lt;br /&gt;Ahmad berkata : “Jangan meriwayatkan hadits darinya”. Di lain riwayat ia berkata : “Tidak ada apa-apanya”. Abu Haatim berkata : “Tidak kuat, dla’iiful-hadiits, munkarul-hadiits”. Al-Bukhaariy dan Abu Zur’ah berkata : “Munkarul-hadiits”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Haditsnya tidak banyak, dan sebagian haditsnya terdapat pengingkaran”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruuk, termasuk penduduk Makkah”. Ibnu Hibbaan berkata : “Banyak keliru dalam khabar-khabar/hadits. Tidak boleh berhujjah karena banyaknya kekeliruan yang ada padanya”. Muslim berkata : “Dzaahibul-hadiits”.&lt;br /&gt;[2]      Diriwayatkan juga oleh Ahmad 1/231, Abu Ya’laa no. 2602, Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 3799, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;[3]      ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Al-Qa’nabiy Al-Haaritsiy, seorang yang tsiqah lagi ahli ibadah. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahihnya.&lt;br /&gt;Malik, ia adalah Ibnu Anas; seorang imam yang tidak perlu dipertanyakan lagi.&lt;br /&gt;Abun-Nadlr, ia adalah Saalim bin Abi Umayyah Al-Qurasyiy At-Taimiy, seorang yang tsiqah lagi tsabt, namun sering melakukan irsal. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Akan tetapi riwayatnya di sini bukan termasuk riwayat mursal-nya.&lt;br /&gt;Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.&lt;br /&gt;[4]      Abu Mu’aawiyyah adalah Muhammad bin Khaazim At-Tamiimiy As-Sa’diy, seorang yang tsiqah, dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Ia merupakan orang yang paling haafidh dalam periwayatan dari Al-A’masy.&lt;br /&gt;Al-A’masy adalah seorang yang tsiqah lagi haafidh, termasuk perawi yang dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Akan tetapi masyhur melakukan tadlis, sedangkan di sini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah – sehingga riwayatnya lemah (dla’if).&lt;br /&gt;Wabarah bin ‘Abdirrahman Al-Kuufiy Abu Khuzaimah, seorang yang tsiqah, termasuk perawi yang dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.&lt;br /&gt;Kharasyah bin Al-Hurr Al-Fazaariy, seorang yang tsiqah dari kalangan kibaarut-taabi’iin. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.&lt;br /&gt;Al-A’masy mempunyai mutaba’ah dari Mis’ar dari Wabarah, dari Kharasyah; sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’iid bin Manshuur [Tabayyunul-‘Ujb oleh Ibnu Hajar, hal. 70] dan Ibnu Abi Syaibah [Musnad Al-Faaruq oleh Ibnu Katsiir, 1/285].&lt;br /&gt;[5]      Wakii’ bin Al-Jarraah, seorang yang tsiqah, haafidh, lagi ahli ibadah.&lt;br /&gt;‘Aashim bin Muhammad bin Zaid bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khaththaab, seorang yang tsiqah. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.&lt;br /&gt;Muhammad bin Zaid bin bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khaththaab, seorang yang tsiqah. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.&lt;br /&gt;[6]      ‘An’anah Ibnu Juraij dari ‘Athaa’ – dan ia seorang mudallis – tidak memudlaratkannya. Ibnu Abi Khaitsamah membawakan satu riwayat shahih dari Ibnu Juraij, bahwa ia (Ibnu Juraij berkata) :&lt;br /&gt;إذا قلت قال عطاء فأنا سمعته منه وإن لم أقل سمعت&lt;br /&gt;“Apabila aku berkata : Telah berkata ‘Atha’ , maka artinya aku telah mendengarnya walau aku tidak mengatakan : Aku telah mendengar” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617 – biografi ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziz bin Juraij Al-Umawiy].&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pun kemudian memberikan penegasan :&lt;br /&gt;وهذه فائدة هامة جدا ، تدلنا على أن عنعنة ابن جريج عن عطاء في حكم السماع&lt;br /&gt;“Ini satu faedah yang sangat besar, yang menunjukkan pada kita bahwa ‘an’anah Ibnu Juraij dari ‘Atha’ dihukumi penyimakan (sama’)” [Irwaaul-Ghaliil, 4/244].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu al-Jauzaa'&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-1075838159629395804?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/1075838159629395804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/07/puasa-rajab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/1075838159629395804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/1075838159629395804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/07/puasa-rajab.html' title='Puasa Rajab'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-6477580246974110872</id><published>2010-03-02T04:02:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T04:05:01.483-08:00</updated><title type='text'>Bank Syariah, Kesejahteraan, UMKM, dan Pembalikan Piramida Ekonomi</title><content type='html'>Syariah diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya untuk membawa kebaikan bagi seluruh alam. Allah berfirman (yang artinya): “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS al-Anbiyā’ (para nabi)/21: 107) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Syāthibi (wafat 790 H), dalam magnum opus-nya, al-Muwāfaqāt, menyatakan bahwa tujuan dari eksistensi syariah (maqāshid al-syarī`ah) dapat disimpulkan dalam dua hal: mendatangkan maslahat dan menolak mudarat. Kedua hal ini selanjutnya diderivasikan dalam lima aspek mendasar (al-dharūriyyāt al-khams) yang dipelihara oleh syariah, yaitu: (1) hifzh al-dīn (pemeliharaan agama); (2) hifzh al-nafs (pemeliharaan jiwa/nyawa); (3) hifzh al-māl (pemeliharaan harta); (4) hifzh al-`aql (pemeliharaan akal/intelektual); dan (5) hifzh al-nasab (pemeliharaan nasab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian ulama yang menambahkan aspek keenam, yaitu hifzh al-`irdh (pemeliharaan kehormatan). Seiring dengan perkembangan dan perubahan peradaban, ada pula dari kalangan ulama kontemporer yang menambahkan aspek pemeliharaan lingkungan hidup (hifzh al-bī-ah). Inilah gambaran umum (big picture) kemaslahatan sekaligus kebenaran transendental-universal yang diusung oleh syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn al-Qayyim (wafat 751 H) berkata, “Sesungguhnya bangunan dan pondasi syariah dibangun di atas hikmah dan kemaslahatan para hamba, baik di dunia maupun akhirat. Seluruh syariah adalah keadilan, rahmat, maslahat dan hikmah. Dengan demikian, setiap perkara yang keluar dari keadilan kepada kezaliman, dari maslahat kepada kerusakan, dari hikmah kepada kesia-siaan, dan dari rahmat kepada antipodenya, maka ia bukan termasuk syariah, meskipun ia dimasukkan (oleh sebagian orang) ke dalam syariah dengan metode takwil (yang keliru).” (Lihat: I`lām al-Muwaqqi`īn `an Rabb al-`Ālamīn, vol. III, hlm. 3, Dār al-Jīl, Beirut, 1973.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu maslahat terpenting yang menjadi tujuan syariah adalah kesejahteraan sosial. Banyak sekali ayat Quran yang menyebutkan tema ini. Tidak kurang dari 69 (enam puluh sembilan) ayat Quran yang secara literal mengandung kata ‘miskin’ berikut derivasinya seperti faqīr, ba’s, sāil, qāni`, mu`tarr, dha`īf, dan lain-lain. Jumlah ayat akan jauh lebih besar apabila ayat-ayat yang secara kontekstual membahas tentang kemisikinan namun tidak mengandung kata-kata miskin dan turunannya diperhitungkan. Selain itu, terdapat tidak kurang dari 42 (empat puluh dua) ayat Quran yang secara eksplisit membahas tentang zakat. Jumlah ayat tersebut di atas jauh lebih banyak dibandingkan ayat yang berbicara tentang larangan riba (7 ayat) dan maisir atau perjudian (3 ayat). (Lihat: al-Mu`jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm, karya Muhammad Fuād `Abd al-Bāqi dan Fiqh al-Zakāh, karya Prof. Dr. Yūsuf al-Qaradhāwi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan syariah untuk menciptakan kesejahteraan sosial ini seharusnya menjadi ruh dan spirit bagi industri perbankan syariah selaku institusi yang menisbatkan dirinya kepada syariah. Dengan demikian, bank syariah bukanlah bank yang hanya sekedar concern dengan aspek legal-formal yang dirumuskan dengan larangan “maghrib”—yang merupakan akronim dari maisīr (judi), gharar (spekulasi) dan ribā (usury). Namun lebih daripada itu, bank syariah adalah industri keuangan yang ter-shibghah dengan semangat peningkatan kesejahteraan sosial sebagai pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan universal (habl minannās) dalam rangka peribadahan dan pengabdian kepada-Nya (habl minallāh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat menciptakan kesejahteraan sosial direpresentasikan oleh industri perbankan setidaknya dalam dua hal: tingkat FDR/LDR (Financing/Loan to Deposit Ratio) yang tinggi dan keberpihakan kepada sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). FDR/LDR adalah rasio yang menjelaskan tentang seberapa tinggi bank syariah/konvensional mampu menyalurkan dana yang telah dihimpunnya dari masyarakat ke sektor riil (financial intermediary function). FDR/LDR yang semakin tinggi menyebabkan sektor perekonomian berjalan semakin baik dan pada akhirnya kesejahteraan menjadi semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FDR/LDR bank syariah dari tahun ke tahun senantiasa lebih tinggi dibandingkan bank konvensional. Pada tahun 2008, FDR/LDR bank syariah adalah sebesar 103,34% dibandingkan bank konvensional sebesar 74,58%. Per Agustus 2009, FDR/LDR bank syariah mengalami penurunan, yaitu menjadi 99,71%, namun masih tetap lebih tinggi dibandingkan bank konvensional yang FDR/LDR-nya sebesar 73,95%, yang juga mengalami penurunan dibandingan sebelumnya. (Source: situs resmi Bank Indonesia: http://www.bi.go.id.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bank syariah menghindari hal-hal spekulatif (gharar) yang menyebabkan bubble economy, sehingga memiliki kecenderungan yang lebih untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor riil. Hal ini berkontribusi positif pada peningkatan Gross Domestic Product (GDP) dan kesejahteraan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang diusung oleh bank syariah dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial adalah concern terhadap sektor UMKM yang merupakan bottom of the pyramid (meminjam istilah C.K. Prahalad dalam bukunya, The Fortune At The Bottom of The Pyramid) dalam sektor perekonomian di Indonesia. Ketangguhan sektor UMKM dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi sudah terbukti. Sektor ini tetap tumbuh selama masa krisis. Dari tahun ke tahun, jumlah pengusaha yang terjun dalam sektor ini terus meningkat sehingga UMKM dan menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMKM memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap GDP nasional. Pada tahun 2007, dari total GDP nasional yang mencapai angka Rp 3.957,4 triliun, UMKM menyumbangkan sebesar Rp 2.121,3 triliun. Angka ini naik dari total GDP yang disumbangkan UMKM pada tahun 2006 sebesar Rp 1.786,2 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran sektor UMKM dalam menyerap tenaga kerja juga sangat signifikan. Selama 2004, sektor ini mampu menyerap hampir 97% tenaga kerja yang tersedia. Dan, pada tahun 2009 pertumbuhan UMKM mencapai 10%. Ini disebabkan oleh tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis keuangan global yang membuat para pekerja beralih profesi menjadi wirausahawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran UMKM dalam perkembangan perekomomian nasional sangat penting, namun sektor ini masih memiliki kendala dalam hal legalitas, sumber daya manusia (SDM), rendahnya produktivitas, dan khususnya permodalan. (Source: situs resmi Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia: http://www.depkop.go.id.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank syariah memiliki perhatian besar dalam hal pemberian modal kepada sektor UMKM. Hal ini dikarenakan bank syariah berupaya melakukan flipping up the pyramid (pembalikan piramida ekonomi; meminjam istilah Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri (BSM), Bp. Yuslam Fauzi, dalam sebagian ceramahnya). Per Agustus 2009, porsi pembiayaan UMKM perbankan nasional adalah sebesar 50,7%, sedangkan porsi pembiayaan UMKM bank syariah sebesar 72,8%. (Source: Situs resmi Bank Indonesia: http://www.bi.go.id.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembalikan piramida ekonomi bukanlah suatu utopia. Hal ini sudah pernah terjadi dalam catatan sejarah, misalnya pada zaman kekhalifahan `Umar ibn `Abd al-`Azīz. Pada saat itu, hampir-hampir tidak ada dan tidak ditemukan orang yang mau menerima zakat (mustahiqq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, semoga bank syariah tetap berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, sebagaimana tujuan dari eksistensi syariah itu sendiri, yaitu dengan cara menjalan fungsinya sebagai financial intermediary dengan baik dan fokus kepada sektor UMKM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adni kurniawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-6477580246974110872?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/6477580246974110872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/03/bank-syariah-kesejahteraan-umkm-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6477580246974110872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6477580246974110872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/03/bank-syariah-kesejahteraan-umkm-dan.html' title='Bank Syariah, Kesejahteraan, UMKM, dan Pembalikan Piramida Ekonomi'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-2294901380114555889</id><published>2010-03-02T03:56:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T03:59:42.187-08:00</updated><title type='text'>Kalangan Shari'a Minded : Peluang ataukah Kendala bagi Bank Syariah??</title><content type='html'>Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah (GSP3S), yang merupakan strategi pemasaran hasil racikan Bank Indonesia (BI) berdasarkan hasil analisa mendalam terhadap peta target market perbankan syariah dan berbagai faktor strategis, telah mengungkap 5 (lima) segmen pasar berdasarkan orientasi perbankan syariah dan profil psikografisnya: (1) mereka yang sangat mengutamakan penggunaan bank syariah (“pokoknya syariah”); (2) mereka yang ikut-ikutan; (3) mereka yang mengutamakan benefit seperti kepraktisan transaksi dan kemudahan akses; (4) mereka yang menggunakan bank syariah sebagai sarana pembayaran gaji dan transaksi bisnis; dan (5) mereka yang mengutamakan penggunaan jasa bank konvensional. Riset pasar dalam GSP3S juga mengungkap bahwa pengguna pasar perbankan syariah cenderung bersikap pragmatis (sumber: Situs resmi BI: http://www.bi.go.id).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan di atas, secara lebih sederhana mungkin dapat dikatakan bahwa terdapat 2 (dua) parameter yang menentukan apakah seseorang itu memilih atau meninggalkan bank syariah, yaitu: benefit dan aspek kesyariahan. Dengan isu kesyariahan, segmen pasar dapat digolongkan menjadi tiga: (1) mereka yang resisten dan “anti” terhadap hal-hal yang “berbau” syariah; (2) mereka yang bersifat sharia minded atau sangat concern dengan aspek kesyariahan; dan (3) mereka yang bersifat apatis-pragmatis, di mana bagi mereka yang terpenting adalah benefit terbaik yang dapat mereka peroleh, tidak peduli apakah itu sumbernya dari bank syariah atau konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pembahas beranggapan bahwa golongan sharia minded akan cenderung untuk menggunakan bank syariah. Namun, tampaknya anggapan ini merupakan kesimpulan prematur yang kurang tepat karena terkadang tidak sejalan dengan realita. Golongan sharia minded ini secara umum dapat dikategorisasi lagi menjadi dua: konservatif dan moderat. Penyebutan “konservatif” di sini mungkin tidak selalu tepat dan tidak diridhai alias akan menyinggung sebagian pihak, dan untuk itu saya mohon maaf sebelumnya, namun ini tetap saya lakukan untuk mempermudah dan menyederhanakan penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan yang moderat memang cenderung untuk menggunakan bank syariah, namun tidak demikian halnya dengan golongan konservatif. Penilaian golongan konservatif bahwa masih terdapat kekurangan di sana-sini dalam pemenuhan aspek kesyariahan oleh bank syariah sering berujung pada satu kesimpulan bahwa bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional. Sebagian mereka dengan “tega” bahkan menyatakan bahwa penggunaan bank konvensional yang menurut mereka status keharamannya jelas masih lebih baik ketimbang bank syariah yang sifatnya “musang berbulu domba” (sekali lagi: menurut mereka). Dengan demikian, hasil akhir dari golongan syariah konservatif adalah sama dengan golongan yang “anti” syariah, yaitu ketidaksetujuan terhadap eksistensi bank syariah. Ketidaksetujuan tersebut terkadang diekspresikan dalam bentuk black campaign terhadap perbankan syariah, baik secara lisan maupun tulisan. Cukup ironis memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ketidaksetujuan golongan ini bukan tidak beralasan. Sebab, karakter fiqh dalam syariah yang memungkinkan perbedaan pendapat dan interpretasi. Syariah dalam banyak hal (khususnya yang berkaitan aspek legal-fiqh) bukanlah ilmu pasti seperti halnya matematika, namun merupakan ilmu relatif-subjektif. Perbedaan pendapat dalam fiqh ini bahkan menyebabkan perbedaan operasional antara bank syariah satu sama lain. Misalnya, bank syariah di Indonesia tidak diperkenankan melakukan bisnis berbasis bay` al-`iinah karena dinilai tidak sesuai syariah oleh ulama yang tergabung dalam Dewan Syariah Nasional (DSN), sementara bank syariah di Malaysia diperkenankan melakukan hal tersebut, karena otoritas kesyariahan di sana menilai bahwa hal itu memungkinkan untuk diakomodasi secara syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beberapa kali mendapat pertanyaan dari golongan syariah konservatif: “Apakah bank syariah memang sudah sesuai dengan syariah?” Menanggapi pertanyaan semacam ini, saya justru melontarkan pertanyaan balik yang sifatnya retoris: “Syariah berdasarkan perspektif manakah yang dimaksud?” Saya lalu memberi contoh dengan kasus bay` al-taqsiith (jual beli secara kredit). Yang dimaksud dengan bay` al-taqsiith di sini adalah jual beli barang dengan pembayaran tunda dan dengan cara mencicil sampai periode tertentu, di mana harga barang tersebut lebih mahal apabila dibandingkan dengan harga jual beli secara kontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama berbeda pendapat dalam menghukumi bay` al-taqsiith tersebut. Mayoritas (jumhuur) ulama menilai bahwa hal tersebut hukumnya boleh, sedangkan ada sebagian kecil ulama yang memandang bahwa hal itu terlarang dan termasuk riba. Jika demikian halnya, maka apakah bay` al-taqsiith itu sesuai syariah? Jawabannya relatif, tergantung dari aliran fiqh ulama mana yang dipilih. Bagi yang sependapat dengan mayoritas ulama, maka tentu hal itu sesuai dengan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, saya ingin menyampaikan bahwa sebagian kalangan yang berorientasi kesyariahan (sharia minded) itu merupakan barrier bagi pengembangan industri perbankan syariah, dan bukan merupakan peluang. Untuk menghadapi kalangan yang dimaksud diperlukan approach secara persuasif-argumentatif agar mereka mau bertransformasi sikap dari “memusuhi” menjadi pro bank syariah, atau agar setidaknya mereka lebih toleran dalam menyikapi kehadiran bank syariah, minimal mereka tidak melakukan black campaign yang merugikan bank syariah. Dan, approach tersebut tentunya membutuhkan effort yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah al Akh Adni Kurniawan-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;semoga Allah senantiasa menjaga diri dan keluarganya dalam ridha-Nya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-2294901380114555889?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/2294901380114555889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/03/kalangan-sharia-minded-peluang-ataukah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/2294901380114555889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/2294901380114555889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/03/kalangan-sharia-minded-peluang-ataukah.html' title='Kalangan Shari&apos;a Minded : Peluang ataukah Kendala bagi Bank Syariah??'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-6944199208943875468</id><published>2010-03-02T03:50:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T03:55:27.516-08:00</updated><title type='text'>Shari'a Compliant Vs Shari'a Based</title><content type='html'>Tidak diragukan lagi bahwa saat ini perkembangan industri keuangan Islam dunia dimotori oleh produk yang berbasis shari’a compliant. Namun, agar industri keuangan Islam bisa berkembang lebih pesat ke arah yang positif dan memenuhi tuntutan shari’a industri yang umurnya masih muda ini memerlukan produk yang berbasis shari’a based.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam tulisan ini penulis akan memaparkan persamaan dan juga perbedaan antara shari’a compliant dan shari’a based. Di samping itu pentingnya produk yang berbasis shari’a based bagi industri keuangan Islam dunia. Khususnya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu persamaan antara shari’a compliant dan shari’a based yaitu terletak pada terpenuhinya rukun kontrak atau aqad sesuai dengan ketentuan shari’a. Rukun tersebut adalah adanya penjual, pembeli, barang yang diperdagangkan (mauqud alaihi), harga (thaman), dan serah terima (ijab qabul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya rukun ini didokumentasikan oleh para penasihat keuangan shari’a di bank shari’a untuk menyetujui produk tertentu. Tidak terpenuhi salah satu komponen dalam rukun tersebut menyebabkan tidak sahnya kontrak tersebut (void).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada dua perbedaan penting yang mendasar antara produk shari’a compliant dan shari’a based. Pertama, shari’a compliant product bentuk (form)-nya halal atau legal dalam perspektif shari’a. Tetapi, substansinya (substance)-nya belum tentu halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi 80% halal, 40% halal, bahkan 0% halal! Sedangkan shari’a based product tidak hanya form-nya halal. Tetapi, substansinya juga halal dan dijamin 100% halal. Sayangnya mayoritas produk bank shari’a secara global masih pada tahapan shari’a compliant. Belum sampai pada tahapan shari’a based.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa terlihat pada kontrak Bay Al Inah (sell and buy back contract) dan versi pihak ketiganya. Tawarruq (tripartite sale) yang masih marak digunakan oleh bank shari’a di berbagai belahan dunia. Kontrak Bay Al Inah biasanya digunakan pada produk Bay Bithaman Ajil (BBA) home financing, personal financing, dan kontrak Tawarruq biasanya digunakan pada working capital financing, Islamic hedge funds melalui commodity murabahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini penulis tidak menjelaskan secara detail tentang proses tersebut. Tetapi, inti dari kontrak tersebut. Inti dari kontrak tersebut adalah secara form adanya kontrak jual-beli&lt;br /&gt;antara customer dan bank yang mana terlihat halal. Tetapi, secara substansi tidak ada perpindahan barang dari salah satu pihak di dalam kontrak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kata lain substansi kontrak tersebut adalah kontrak pinjaman uang (debt contract) yang sama sekali tidak berbeda dengan produk bank konvensional dan haram dalam perspektif shari’a. Inilah yang disebut samaran/ replikasi produk bank konvesional dengan label Islam yang masih diperdebatkan dalam kalangan penasihat keuangan shari’a dan ulama di industri keuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kontrak tersebut masih tidak bisa dikatakan shari’a compliant. Tetapi, inilah jargon yang diklaim oleh penasihat keuangan shari’a dalam menyetujui produk tersebut. Oleh karena itu untuk membedakan mana produk yang halal dan haram adanya jargon shari’a based.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk shari’a based adalah produk yang dasar (base)-nya sumber hukum Islam yaitu Al Quran dan As Sunnah atau dalam kata lain murni mematuhi sumber hukum Islam. Oleh karena itu produk shari’a based ini dijamin 100% halal dan sangat dicintai oleh pakar ekonomi Islam seperti Nejatullah Shidiqi, Umer Chapra, dan shari’a scholars yang idealis seperti Wahbah Al-Zuhayli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrak yang berlandaskan shari’a based ini adalah jual beli di mana jelas ada perpindahan barang dari penjual ke pembeli sesuai harga yang disepakati, Musharakah, dan Mudharabah (joint venture partnership). Pada kontrak ini adanya risk sharing di antara pihak yang bersangkutan dan sistem bagi hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu juga ada Salam. Pembeli memesan komoditas untuk diserahkan setelah beberapa bulan oleh produsen dengan membayar harga komoditas di awal kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan kontrak Musharakah bisa terlihat pada produk Musharakah Mutanaqisah untuk pembiayaan rumah yang mulai diterapkan oleh beberapa bank shari’a. Customer dan bank sama-sama mempunyai hak milik di awal kontrak (joint ownership) dan secara berturut-turut kepemilikan rumah tersebut berpindah kepada customer dengan membayar uang sewa (rental payment) berdasarkan daerah setempat dengan menggunakan kontrak sewa (ijarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk ini sudah diterapkan oleh berberapa bank shari’a seperti RHB Islamic Bank Malaysia Berhad dan Bank Muamalat Indonesia. Demikian pula Salam. Kontrak ini bisa melindungi petani atau wong cilik dari fluktuasi harga hasil panen mereka secara harga panen dibayar di awal kontrak oleh sang pembeli atau distributor. Menariknya kontrak Salam ini sebenarnya berpotensi untuk diinovasikan menjadi alat mitigasi risiko bagi bank shari’a dan investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang kedua adalah objektif Shari’a (Maqasid Al Shari’ah). Shari’a compliant belum tentu mempunyai unsur maslahah seperti tertuang dalam objektif shari’a. Sedangkan shari’a based sudah pasti mempunyai unsur maslahah. Hal ini bisa terlihat pada shari’a compliant stock investment Islamic Hedge Funds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perputaran uangnya masih berputar di antara investor dan sektor keuangan. Atau dalam kata lain belum ada kontribusi terhadap sektor riil di ekonomi dan masih rentan dengan spekulasi di pasar modal. Di dalam shari’a based produk seperti musharakah/ mudharabah sukuk (surat obligasi shari’a), Islamic microfinance berdasarkan kontrak musharakah/ mudharabah mempunyai potensi sangat besar untuk kontribusi terhadap sektor riil di ekonomi dikarenakan produk tersebut berdasarkan real asset. Namun, sayangnya Industri keuangan Shari’a dunia masih enggan menggunakan produk shari’a based.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan Keuangan Islam di Indonesia: Shari’a Compliant atau Shari’a Based&lt;br /&gt;Penulis sangat bersyukur bahwa pertumbuhan keuangan Islam di Indonesia saat ini bisa dikatakan shari’a based growth. Hal ini dikarenakan Bank Shari’a Indonesia tidak menggunakan kontrak ‘inah/ tawarruq secara Dewan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Bank Indonesia (BI) tidak memperbolehkan kontrak tersebut digunakan. Walaupun efeknya pertumbuhan perbankan shari’a di Indonesia hanya berkisar 2%-3%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbankan shari’a di Indonesia bisa tumbuh dengan sehat dan halal. Namun, di sini penulis juga menghimbau agar Indonesia juga berhati-hati dalam mengeluarkan sukuk ritelnya. Jangan sampai kontrak yang digunakan sama dengan kontrak yang digunakan untuk mengeluarkan surat berharga konvensional. Sangat disarankan kontrak yang digunakan adalah kontrak Musharakah/ Mudharabah. Kontrak ini adalah shari’a based dan bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor riil di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata penulis berharap bahwa tidak hanya Indonesia saja yang bisa menggunakan produk shari’a based. Tetapi, juga negara lain yang mempunyai sektor keuangan Islam juga bisa menggunakan produk shari’a based. Walaupun untuk mencapai tahapan itu sepertinya akan memakan waktu yang lama. Semoga Indonesia bisa menjadi perintis untuk mencapai tahapan tersebut. Wallahualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jhordy Kashoogie Nazar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nazar.jhordyk@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah kandidat Master Islamic Finance, Durham Islamic Finance Program (DIFP), Durham University, Anggota Islamic Economics Forum for Indonesian Development (ISEFID).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-6944199208943875468?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/6944199208943875468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/03/sharia-compliant-vs-sharia-based.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6944199208943875468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6944199208943875468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2010/03/sharia-compliant-vs-sharia-based.html' title='Shari&apos;a Compliant Vs Shari&apos;a Based'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-8108846350466494903</id><published>2009-11-12T05:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T05:24:09.732-08:00</updated><title type='text'>Akhlaq terhadap Allah Subhaanahu wa Ta'ala</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhlaq terhadap Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Definisi Akhlaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlaq berasal dari bahasa Arab أخلاق (akhlaq) yang merupakan bentuk jama’(plural) dari kata خلق (khuluq). Secara bahasa akhlaq mempunyai arti budi pekerti, tabiat, watak. Dalam kebahasaan akhlaq sering disinonimkan dengan moral atau etika. &lt;br /&gt;Al-Imam al-Ghazali mendefinisikan akhlaq dengan artian : &lt;br /&gt;اَلأَخْلاَقُ هِيَ صِفَةٌ رَاسِخَةٌ فِيْ الْقَلْبِ تَصْدُرُ عَنْهَا أَفْعَالٌ بِسُهُوْلَةٍ وَتَسِيْرُ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَىْ فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ &lt;br /&gt;“Akhlaq adalah segala sifat yang tertanam di dalam hati, yang dapat menimbulkan segala macam perbuatan yang ringan dan mudah tanpa memerlukan sebuah pemikiran sebagai pertimbangan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi tersebut dapat kita tarik kesimpulan : &lt;br /&gt;• Bahwa akhlaq berpangkal pada hati, jiwa atau kehendak, yang kemudian&lt;br /&gt;• Diwujudkan dalam amal perbuatan sebagai kebiasaan(bukan perbuatan yang di buat-buat akan tetapi yang sewajarnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian untuk meraih kesempurnaan akhlaq, seseorang harus melatih diri dan membiasakannya di dalam hidupnya sehari-hari. Seseorang harus berlatih dan membiasakan diri berfikir dan berkehendak baik, serta membiasakan mewujudkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan cara yang demikian seorang muslim akan memperoleh kesempurnaan akhlaq, sebab akhlaq seseorang bukanlah tindakan yang direncanakan pada saat-saat tertentu saja, namun akhlaq merupakan keutuhan kehendak dan perbuatan yang melekat pada seseorang, yang akan nampak pada perilakunya sehari-hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman akhlaq di dalam Islam&lt;br /&gt;Karena akhlaq adalah kehendak dan perbuatan seseorang, maka pedoman akhlaqpun bermacam-macam. Hal ini terjadi karena seseorang mempunyai kehendak yang bersumber dan berlandaskan dari berbagai macam acuan, bergantung kepada lingkungan, pengetahuan, atau pengalaman orang tersebut. Seseorang yang berkehendak menolong orang misalnya, ia mempunyai alasan atau pedoman, sehingga orang tersebut bersedia dan berkehendak untuk melakukan tindakan pertolongan tersebut. &lt;br /&gt;Demikian pula perbuatan seseorang terwujud tentunya didasari berbagai sumber atau acuan yang berbeda-beda. Bagi seorang muslim tentunya akan menjadikan pedoman sumber akhlaq mereka adalah dari agama Islam. &lt;br /&gt;Islam sebagai agama yang bersumber pada wahyu memiliki seperangkat bimbingan bagi umat manusia untuk mencapai keselamatan dalam perjalanan hidup di dunia dan akhirat. Akhlaq dalam kehidupan manusia adalah faktor yang sangat penting dalam Islam. Oleh karena itu sumber ajaran Islam tidak luput memuat akhlaq sebagai sisi penting dalan kehidupan manusia. Pedoman akhlaq di dalam Islam tidak dapat lepas dari wahyu Ilahi (al-Quran) dan al-Sunnah yang shahihah. &lt;br /&gt;a. al-Quran &lt;br /&gt;al-Quran sebagai pedoman utama di dalam agama Islam mengandung bimbingan, petunjuk, penjelas dan pembeda antara perkara yang haq dan yang bathil. Al-Quran memuat bimbingan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah Ta’ala. Sebagai contoh Allah memberikan bimbingan kepada makhluq-Nya apabila ingin memohon pertolongan, sebagaimana disebuykan di sebuah ayat: &lt;br /&gt;وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ &lt;br /&gt;“dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan melalui sabar dan shalat”.(Q.S. al-Baqarah : 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. al-Sunnah &lt;br /&gt;al-Sunnah adalah salah satu rujukan pedoman di dalam Islam setelah al-Quran al-Karim. Dalam al-Quran disebutkan : &lt;br /&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا&lt;br /&gt;” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Q.S. al-Ahzab : 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal ini juga mengukuhkan tentang risalah kenabian Rasulullah SAW, Rasulullah SAW diutus oleh Allah di muka bumi ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq. Sebagaimana dalam ayat lain disebutkan : &lt;br /&gt;وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ&lt;br /&gt;” Dan sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(Q.S. Qalam : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam sebuah sabda beliau SAW disebutkan : &lt;br /&gt;إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اَلأَخْلاَقِ&lt;br /&gt;“Bahwasanya aku(Muhammad) diutus adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq”. (H.R. Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW adalah salah satu sumber akhlaq di dalam Islam, karena beliau adalah contoh konkrit pelaksanaan wahyu Allah yang tertuang di dalam al-Quran. Segala ucapan, tingkah laku, sopan santun Rasulullah adalah suri tauladan bagi umat Muhammad SAW dalam melaksanakan dan mengimplementasikan al-Quran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlaq terhadap Allah Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti akhlaq seorang hamba kepada Allah ta’ala adalah sebagaimana tertuang di dalam ayat : &lt;br /&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(Q.S. al-Dzariyat : 56)&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (Q.S. al-Nisa : 36)&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;“Sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”.(Q.S. al-Hajj : 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah SAW pernah beliau bersabda kepada Mu’adz ibn Jabal : &lt;br /&gt;هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا&lt;br /&gt;“Tahukah engkau apakah hak Allah atas hamba-Nya dan apakah hak hamba-Nya kepada Allah?, di jawab oleh Mu’adz : Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, Kemudian beliau SAW bersabda : “Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaknya seorang hamba senantiasa bertauhid dalam beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak seorang hamba kepada Allah adalah sesungguhnya Allah tidak akan memberikan adzab-Nya bagi hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (H.S.R al-Bukhari )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari penggalan ayat dan al-Sunnah di atas dapat kita petik sebuah pelajaran bahwa akhlaq seorang hamba kepada Allah adalah : &lt;br /&gt;1. Hendaknya seorang hamba senantiasa mentauhidkan Allah dalam masalah ibadah &lt;br /&gt;2. Seorang hamba tidak menjadikan selain Allah sesembahan yang lain disisi Allah Ta’ala dan menjaga diri mereka dari dosa syirik kepada Allah Ta’ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa&lt;br /&gt;Takwa adalah sebuah wasiat yang sangat agung, sebuah wasiat yang senantiasa diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terdahulu hingga yang akan datang. Sekian banyak definisi takwa diberikan oleh para salaf, diantaranya : &lt;br /&gt;Hasan al-Bashri mengatakan : &lt;br /&gt;المتقون : اتَّقَوْا ما حُرِّمَ عليهم , وأَدَّوْا ما افْتُرِض عليهم&lt;br /&gt;“Orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa menjaga dari apa-apa yang diharamkan untuknya, dan menunaikan apa-apa yang telah diwajibkan atas diri mereka” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar ibn Abdul Aziz menyampaikan: “Bukanlah yang dinamakan bertakwa kepada Allah hanya semata dengan mengerjakan puasa di siang hari, atau mengerjakan shalat malam, atau bahkan mengerjakan diantara keduanya, akan tetapi takwa adalah :&lt;br /&gt;تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللهُ , وَأَدَاءُ مَا اْفتَرَضَ اللهُ &lt;br /&gt;“Meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Allah, dan mengerjakan apa-apa yang telah Allah wajibkan atasnya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talqu ibn Habib mendefinisikan takwa dengan : &lt;br /&gt;التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ , وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله تَخَافُ عِقَابَ اللهِ &lt;br /&gt;“Takwa adalah engkau mengerjakan ketaatan kepada Allah atas naungan cahaya dari Allah dalam rangka mengharap pahala/balasan Allah, dan engkau tinggalkan maksiat kepada Allah atas naungan cahaya dari Allah dalam rangka takut akan adzab Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang sahabat Abdullah ibn Mas’ud ketika menafsirkan ayat : &lt;br /&gt;اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ&lt;br /&gt;“Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benar taqwa”.(Q.S.Ali Imran : 103)&lt;br /&gt;Beliau menuturkan penjelasan makna takwa di atas dengan ucapan beliau : &lt;br /&gt;أَنْ يُطاعَ, فَلاَ يُعْصَى , وَيُذْكَر , فَلاَ يُنْسَى , وَأن يُشْكَر , فَلاَ يُكْفَر  &lt;br /&gt;“Hendaknya Allah senantiasa ditaati tidak dimaksiati, senantiasa di ingat tidak dilupakan, dan senantiasa disyukuri dan tidak dikufuri.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesemua definisi di atas dapat kita simpulkan definisi takwa adalah : &lt;br /&gt;1. Senantiasa mengerjakan kewajiban ketaatan kepada Allah diiringi dengan cahaya ilmu dalam mengerjakan ketaatannya tersebut, serta&lt;br /&gt;2. Senantiasa menjauhi larangan yang telah Allah tetapkan, diiringi dengan cahaya ilmu dalam menjauhi larangan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian banyak wasiat Allah kepada seluruh hamba-Nya agar mereka senantiasa bertakwa kepada-Nya, bahkan wasiat ini  berlaku bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Allah berfirman : &lt;br /&gt;وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ&lt;br /&gt;Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. (Q.S. al-Nisa : 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga memberikan jaminan bahwa Dia akan senantiasa menyertai orang-orang yang beriman dan bertakwa,&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ&lt;br /&gt; “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Q.S. al-Nahl : 128)&lt;br /&gt;Takwa adalah bekal bagi setiap makhluq pada hari kiamat kelak, dan gambaran bagi orang yang beriman agar senantiasa mempersiapkan bekal mereka sebelum hari akhir kelak, dalam firman-Nya Allah menyebutkan : &lt;br /&gt;وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ  &lt;br /&gt;“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.(Q.S. al-Baqarah : 197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Hasyr : 18) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga memberikan jaminan bagi orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa akan sebuah musibah dan kesusahan, Allah akan memberikan kepada mereka jalan keluar, demikian pula Allah akan mencukupi rezeki mereka :&lt;br /&gt;وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar, Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (Q.S. al-Thalaq : 2,3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits disebutkan oleh Rasulullah SAW : &lt;br /&gt;اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ &lt;br /&gt;“Bertakwalah kalian kepada Allah dimana saja kalian berada, dan ikutilah perbuatan jahat yang telah kalian lakukan dengan perbuatan baik, niscaya dapat menghapuskannya(kejelekan kalian), dan pergauilah manusia dengan perangai yang baik lagi mulia”. (H.S.R. Tirmidzi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya penanaman ketakwaan dalam diri setiap muslim dimanapum mereka berada, hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan di dalam agama Islam tidak hanya terbatas ketika seseorang muslim sedang memasuki atau berada di dalam masjid saja. Akan tetapi ketakwaan di dalam Islam sangatlah  luas cakupannya, tidak terbatas hanya pada lingkungan masjid semata. Islam juga menyeru umatnya agar senantiasa berbuat kebajikan untuk menambah ketakwaan dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala, dan menyeru kepada akhlaq yang mulia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah SAW tidak pernah lepas dari memohon kepada Allah agar beliau senantiasa diberikan ketakwaan dan keteguhan dalam imannya, ada sebuah riwayat yang menyebutkan tentang sebuah doa yang senantiasa dibaca oleh beliau : &lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَىْ وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَىْ &lt;br /&gt;“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu al-Huda(petunjuk), dan ketakwaan, kehormatan, dan kekayaan”.(H.S.R. Muslim dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan ridha&lt;br /&gt;Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan sepenuh semangat kasih sayang. Cinta dengan pengertian yangdemikian syudah merupakan fitrah yang dimiliki setiap orang. Islam tidak hanya mengakui keberadaan cinta itu pada diri manusia, tetapi juga mengaturnya hingga terwujud dengan mulia. Bagi orang yang beriman, cinta yang pertama dan paling utama adalah kecintaan yang ada pada diri mereka dan hanya ditujukan kepada Allah semata. Kecintaannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada selain-Nya. Sebagaimana disebutkan : &lt;br /&gt;وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (Q.S. al-Baqarah : 165)&lt;br /&gt;Ia mencintai Allah di atas segala galanya karena didorong oleh sebuah kesadaran diri bahwasanya Allah yang telah menciptakan alam beserta isinya, dan ia adalah bagian dari alam tersebut. Sejalan dengan cintanya kepada Allah, orang yang beriman akan mencintai Rasulullah  dan berjuang di dalam menegakkan agama Allah. &lt;br /&gt;Konsekuensi cinta kepada Allah adalah mengikuti semua yang diajarkan oleh Rasulullah  , Allah befirman : &lt;br /&gt;قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. ali Imran : 31)&lt;br /&gt;Disamping secara khusus dijelaskan oleh Allah, bahwa Dia juga  memberikan kecintaan-Nya kepada orang-orang dengan sifat dan amalan terttentu. Sebagaimana Allah mencintai orang yang berbuat ihsan(Q,S. al-Baqarah : 195), bertaubat(Q.S. al-Baqarah : 222), bertakwa (Q.S. ali Imran : 76), dan lain sebagainya dari sekian banyak sifat dan amalan terpuji yang dilakukan oleh seorang hamba. &lt;br /&gt;Sejalan dengan cinta, seorang muslim harus dapat bersikap ridha terhadap segala aturan dan keputusan Allah  . Artinya ia harus dapat menerima dengan sepenuh hati, tanpa penolakan sedikitpun, segala sesuatu yangdatang dari Allah dan rasul-Nya, baik yang beupa perintah ataupun larangan. Ia ridha karena ia mengetahui bahwa dirinya sangat mencintai Allah dan yakin bahwasanya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Mengetahui segala-galanya, Maha Bijak dan Benar, tidaklah mungkin Allah membuat perintah dan larangan yang tidak sesuai atau merugikan umat manusia. &lt;br /&gt;Dengan demikian kita dapat menerima segala qadha dan qadar dari Allah ta’ala. Dengan cinta kita mengharapkan ridha-Nya, dengan ridha kita mengharapkan cinta-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlash&lt;br /&gt;Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan(kebajikan) hanya mengharap balasan pahala dari Allah semata, bukan kepada yang lain. Dan ikhlas ini adalah salah satu syarat dari dua syarat diterimanya sebuah amal perbuatan seseorang. Kemudian syarat yang kedua adalah benar dalam beramal, yang memiliki pengertian suatu amalan yang didasari atas ilmu yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Dasar ikhlas diantaranya adalah firman Allah : &lt;br /&gt;وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ&lt;br /&gt;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Q.S. al-Bayyinah : 5)&lt;br /&gt;Allah menjelaskan dalam ayat yang mulia di atas bahwasanya Ia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa mentauhidkan-Nya dalam masalah peribadahan, dan melarang dari menyembah yang selain-Nya. Agama Islam adalah agama hanif agama bagi umat yang lurus di atas al-haq, dan inilah yang akan membedakan umat Islam atas apa yang ada pada diri mereka dalam masalah aqidah dan akhlaq dengan umat kafir yang lainnya. &lt;br /&gt;Diantaranya pula firman Allah yang lain : &lt;br /&gt;لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ&lt;br /&gt;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Q.S. al-Hajj : 37). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penjelasan dari Allah Ta’ala bahwasanya ketika Allah mensyariatkan kurban, adalah bertujuan agar hamba-Nya selalu ingat atas rizqi yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala. Dan agar mereka senantiasa ingat bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Pemberi Rizqi, tidaklah darah dan daging yang mereka persembahkan kepada Allah sampai kepada-Nya, karena Allah adalah Dzat yang Maha memberi makan dan tidak membutuhkan makanan. Dia-lah Allah Yang Maha Kaya atas segala sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman : &lt;br /&gt;قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  &lt;br /&gt;“Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“.(Q.S. ali Imran : 29). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu atas segala sesuatu baik itu yang nampak oleh mata ataupun apa-apa yang berada di dalam hati para hamba-Nya, dan ilmu Allah adalah meliputi segala sesuatu dalam peri kehidupan hamba-hamba-Nya. Semua perkara yang ada di muka bumi, terpendam di dalam bumi , dalam setiap langkah waktu, zaman, kesemuanya diketahui oleh Allah. Inilah peringatan yang jelas dari Allah ta’ala kepada segenap hamba-Nya agar mereka senantiasa takut dalam melaksanakan perkara-perkara yang telah di larang oleh-Nya, serta membenci perkara-perkara tersebut. Dan apabila seorang hamba mengetahui akan peringatan ini mereka akan senantiasa berbuat amal kebajikan yang terbaik untuk mereka dalam keikhlasan dan ittiba’(mengikuti sunnah Rasul SAW). &lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : &lt;br /&gt;إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى &lt;br /&gt;“Sesungguhnya amal perbuatan adalah didasarkan atas niat, dan setiap perbuatan seseorang adalah tergantung atas niatnya”. (H.S.R. al-Bukhari dan Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits di atas dapat kita ambil berbagai pelajaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah ikhlas. Diantaranya masalah keikhlasan seseorang adalah bedasarkan atas niat yang ia tanamkan dalam hatinya ketika akan dan sedang melakukan amal perbuatan tertentu. Sebuah niat ikhlas yang mulia tidak dapat menjadikan sebuah perkara yang mungkar menjadi ma’ruf, akan tetapi sebuah niat yang mulia diiringi dengan sebuah amal perbuatan yang mulia akan diberikan ganjaran pahala oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Banyak dari manusia yang mengerjakan amal perbuatan mulia akan tetapi mereka memiliki tujuan niat bukan karena mengharap ridha dan pahala dari Allah, mereka memiliki niat dalam hati mereka agar mereka dianggap oleh kalangan masyarakat sebagai orang yang dermawan dan suka akan sedekah, suka menolong, dan lain sebagainya. Sebuah gambaran yang ironis, amal perbuatan yang sama sekali tidak mengharap wajah Allah, dan hanya akan menghasilkan pujian manusia yang fana. &lt;br /&gt;Dari sini dapat kita ambil sekian banyak hikmah akan pentingnya peran ikhlas dalam diri seseorang ketika mereka beramal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khauf(rasa takut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khauf memiliki definisi takut, yaitu reaksi emosional yang muncul disebabkan oleh dugaan seseorang tentang adanya kebinasaan, bahaya atau gangguan yang akan menimpa dirinya. Allah telah melarang perasaan takut kepada wali-wali syaithan dan memerintakan untuk takut hanya kepada-Nya semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Khauf&lt;br /&gt;1. Khauf Thabi’i , yaitu perasaan takut yang bersifat naluriah. Misalnya perasaan seseorang yang takut kepada binatang buas, api, tenggelam dan lain sebagainya. Dan seseorang yang memiliki rasa takut seperti ini adalah tidak tercela, hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah yang mengisahkan kisah Musa AS&lt;br /&gt;فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ &lt;br /&gt;Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya) (Q.S. al-Qhashash : 18). &lt;br /&gt;Perasaan takut kepada Allah yang terpuji adalah jika akhirnya bisa menghalangi diri Anda dari kemaksiatan kepada-Nya, dan mendorong untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan mencegah dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dan apabila tujuan ini terwujud, hati akan senantiasa tenang dan tentram serta diliputi oleh perasaan gembira oleh nikmat-nikmat-Nya dan harapan-harapan akan pahala-Nya. &lt;br /&gt;Perasaan takut kepada Allah yang tidak terpuji adalah yang menjadikan seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, sehingga ia banyak menyesali diri, patah semangat, dan bahkan semakin jauh terjerumus dalam kemaksiatan disebabkan oleh kuatnya rasa putus asa. &lt;br /&gt;2. Khauf Ibadah, misalnya seseorang yang takut kepada orang lain dalam rangka beribadah kepadanya. Perasaan takut yang semacam ini hanya boleh diarahkan hanya kepada Allah semata. Dan memalingkan rasa takut seperti ini kepada selain Allah adalah merupakan kesyirikan yang besar.&lt;br /&gt;3. Khauf Sirr, perasaan takut yang tersembunyi. Misalnya takutnya seseorang kepada penghuni kuburan tertentu atau kepada wali yang berjauhan tempat dengannya, yang tidak dapat memberikan pengaruh apapun kepadanya, akan tetapi ia memiliki perasaan takut yang tersembunyi kepadanya, maka takut yang seperti ini disebut oleh para ulama sebagai salah satu bentuk kesyirikan pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menejelaskan dalam firman-Nya &lt;br /&gt;فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S. ali Imran : 175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja’ adalah harapan manusia kepada suatu perkara yang mudah diperoleh, atau perkara yang sukar diperoleh tetapi dianggap mudah. &lt;br /&gt;Raja’ yang mengandung makna kerendahan dan ketundukan hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Mengarahkannya kepada selain Allah dapat menyeret seseorang dalam jurang kesyirikan baik itu syirik kecil atau besar. Yang kesemuanya tergantung dari apa-apa yang terdapat di hati orang yang berharap tersebut. &lt;br /&gt;Wajib kita ketahui bahwa raja’ yang terpuji hanyalah dimiliki oleh orang yang mentaati Allah seraya mengharap pahala ketaatan tersebut, atau orang yang bertaubat dari maksiat seraya mengharap diterimanya taubat itu. Adapun harapan yang tidak disertai dengan perbuatan, maka tidak lebih dari sekedar kesombongan dan angan-angan yang tercela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman : &lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. al-Baqarah : 218)&lt;br /&gt;فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا&lt;br /&gt;Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S. al-Kahfi 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertawakkal artinya mengantungkan diri kepada sesuatu. Bertawakkal kepada Allah berarti menggantungkan diri kepada Allah sebagai pemberi kecukupan dalam mendatangkan menfaat dan mencegah mudharat. Tawakal kepada Allah merupakan gambaran kesempurnaan dan tanda iman, karena Allah berfirman :&lt;br /&gt;وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt; Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (Q.S. al-Maidah : 23)&lt;br /&gt;Jika seorang hamba benar-benar bertawakal kepada Allah maka Allah akan menjamin akan memberikan kecukupan akan keperluannya. Karena Allah berfirman : &lt;br /&gt;وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Q.S. al-Thalaq : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesemuanya adalah ditangan Allah ‘Azza wa Jalla semata, tidak ada sesuatu yang dikehendaki-Nya yang tidak terlaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal ada beberapa macam : &lt;br /&gt;1. Tawakal kepada Allah ta’ala. Ini merupakan kesempurnaan iman dan salah satu ciri kebenarannya. Hukumnya wajib dan iman tidak sempurna kecuali dengannya. &lt;br /&gt;2. Tawakal terselubung, yaitu apabila seseorang menggantungkan diri kepada mayit dalam rangka mendatangkan manfaat dan menolak mudharat. Ini sangat tidak diragukan lagi bahwa ia adalah Syirik Akbar, karena ia tidak mungkin terjadi kecuali kepada orang yang berkeyakinan bahwa mayit tersebut memiliki kekuasaan tersembunyi untuk mengatur alam. Tidak ada perbedaan apakah mayat tersebut adalah seorang wali, Nabi, Thaghut musuh Allah ta’ala. &lt;br /&gt;3. Tawakal dalam artian menggantungkan kepada orang lain dalam hal yang mampu untuk dilakukan orang tersebut, diiringi dengan perasaan akan tingginya kedudukan orang itu dan rendahnya kedudukan orang yang bertawakal. Misalnya, seseorang bergantung kepada orang lain dalam memperoleh penghidupan, dan sebagainya. Ini merupakan jenis syirik ashghar, karena kuatnya ketergantungan hati kepadanya. Adapun jika seseorang bergantung kepadanya dengan anggapan bahwa ia bukan merupakan sebab, sedangkan Allah ta’ala adalah satu-satunya yang berkuasa untuk mewujudkannya, maka ia tidak berdosa. Jika memang yang ditawakali benar-benar berpengaruh dalam mewujudkannya. &lt;br /&gt;4. Menggantungkan diri kepada orang lain dalam urusan yang sebenarnya menjadi wewenang orang yang bertawakal. Dengan kata lain, ia mewakilkan kepada orang lain, perkara yang memang boleh diwakilkan. Tindakan ini tidak berdosa , berdasarkan dalil dari al-Kitab, al-Sunnah dan Ijma’. Nabi Ya’qub pernah berkata kepada anak-anaknya : &lt;br /&gt;يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ&lt;br /&gt;Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya (Q.S. Yusuf : 87)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi SAW pernah mewakilkan urusan pengambilan sedekah kepada para amil dan pegawai, memberi kuasa kepada orang lain untuk membuktikan dan melaksanakan hukuman had, meyerahi Ali ibn Abi Thalib pengelolaan binatang-binatang kurbannya dalam haji wada’, agar Ali menyedekahkan kulit dan pelana binatang-binatang itu dan menyembelih sisa dari seratus binatang-binatang itu, dimana enam puluh tiga diantaranya telah disembelih oleh Rasulullah SAW sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur&lt;br /&gt;Syukur adalah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukur seorang hamba berkisar pada tiga hal; yang apabila ketiganya tidak berkumpul maka tidaklah dinamakan bersyukur. Tiga dimensi tersebut adalah : mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana ketaatan kepada Allah . Sehingga syukur berkaiatan erat dengan hati, lisan, dan anggota badan. &lt;br /&gt;Syukur memiliki keutamaan bagi seorang hamba, agar ia senantiasa merasakan keutamaan yang telah Allah berikan kepadanya. Allah memerintahkan di dalam firman-Nya : &lt;br /&gt;فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ&lt;br /&gt;Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.(Q.S. al-Baqarah : 152)&lt;br /&gt;Perintah untuk bersyukur bukan untuk kepentingan Allah Ta’ala, karena Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan segala sesuatu yang ada di alam semesta. Kesemuanya itu adalah untuk kepentingan bagi setiap hamba sebagai wujud sopan santun seorang hamba kepada sang Khaliq. Allah berfirman : &lt;br /&gt;وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".(Q.S. Luqman : 12)&lt;br /&gt;Allah memberikan motivasi bagi setiap hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya, Dia akan memberikan tambahan kenikmatan yang telah diberikan bagi hamba tersebut. Sebaliknya bagi siapa saja yang tidak mau bersyukur Allah menyediakan bagi mereka adzab yang pedih. &lt;br /&gt;وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ&lt;br /&gt;Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Q.S. Ibrahim: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabah&lt;br /&gt;Wajib bagi setiap hamba untuk senantiasa muraqabah(merasa diawasi) oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap perilaku yang ada. Dan harus diyakini bahwasanya Allah adalah selalu mengetahui atas apa-apa yang ada dalam hati seorang hamba, sehingga ditanamkan dalam diri seorang hamba tersebut rasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Dan seandainya seorang hamba tidak dapat melihat Allah maka ia harus meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengawasi dirinya. &lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah Ta’ala : &lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Q.S. al-Nisa : 1)&lt;br /&gt;يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ&lt;br /&gt;“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.(Q.S. Ghafir : 19)&lt;br /&gt;وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ  الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ  وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.(Q.S. al-Syuaraa’ : 217-219)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bukti dari Allah ta’ala bahwa Ia senantiasa mengawasi gerak-gerik hamba-hamba-Nya, baik dalam keadaan berdiri(dalam shalat), ruku’, ataupun sujud, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Dalam sebuah ayat lain disebutkan : &lt;br /&gt;هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ&lt;br /&gt;“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”. (Q.S. al-Hadid : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah senantiasa bersama para hamba-Nya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh-Nya, Dia berada bersemayam di atas ‘Arsy-Nya jauh dan berbeda dari para hamba-Nya. Dimanapun seorang hamba berada Allah selalu mengetahuinya, apakah di daratan, lautan, siang, malam, dalam rumah ataupun dibangunan yang kokoh, kesemuanya berada dalam genggaman ilmu Allah. &lt;br /&gt;Yang harus kita tekankan dalam masalah kebersamaan Allah bersama para hamba-Nya adalah bukan kebersamaan Dzat Allah bersama para hamba, akan tetapi kebersamaan ilmu Allah  dengan para hamba-Nya. Dan ini adalah pemahaman yang dimiliki dan kita warisi dari para Sahabat Nabi SAW, Tabi’in, dan para pengikutnya yang lurus dalam menempuh manhaj mereka-semoga ridha Allah selalu bersama mereka-. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjelaskan tentang ma’iyyah Allah bersama hamba-Nya sebagaimana dapat kita lihat dalam hadits Jibril yang cukup panjang, beliau menjelaskan definisi tersebut sebagaimana definisi Ihsan : &lt;br /&gt;أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ , فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ &lt;br /&gt;“Engkau menyembah Allah seakan-akan Allah melihat dirimu, dan seandainya engkau tidak dapat melihat Allah maka sesungguhnya Allah melihat dirimu”. (H.S.R. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat berasal dari bahasa Arab تَابَ – يَتُوْبُ – تَوْبَةً   yang memiliki arti jika kembali. Dan dari kaidah syar’i taubat memiliki makna kembalinya seorang hamba dari bermaksiat kepada Allah menuju keta’atan kepada-Nya. Diantara taubat yang paling utama dan paling agung adalah kembalinya seorang hamba dari kekufuran menuju keimanan kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala : &lt;br /&gt;قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu".(Q.S. al-Anfal : 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian disusul yang kedua yaitu taubatnya hamba dari dosa-dosa besar, dan yang ketiga taubatnya hamba dari dosa-dosa kecil. &lt;br /&gt;Oleh karena itu sangatlah wajib bagi seorang hamba untuk senantiasa bertaubat kepada Allah Ta’ala dari dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. &lt;br /&gt;Syarat taubat ada 3 hal , : &lt;br /&gt;1. Hendaknya seorang hamba berlepas diri dari kemaksiatan kepada Allah&lt;br /&gt;2. Hendaknya seorang hamba menyesal dari apa-apa yang pernah ia kerjakan dalam masalah maksiat kepada-Nya&lt;br /&gt;3. Hendaknya seorang hamba berjanji kepada Allah dan dirinya untuk tidak kembali kepada dosa-dosa yang pernah ia lakukan sebelumnya selama-lamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi apabila sebuah dosa atau maksiat ini berhubungan dengan hak antar sesama hamba maka di tambah dengan satu syarat lagi yaitu:&lt;br /&gt;4. Mengembalikan apa-apa yang menjadi hak dari orang yang telah di dzhalimi, apabila berupa barang maka harus dikembalikan, apabila berkaitan dengan hak-hak yang lain maka hendaknya meminta permohonan maaf, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tambahan syarat taubat yang sangat penting pula dan merupakan salah satu syarat taubat yang tidak dapat dipisahkan yaitu  : &lt;br /&gt;5. Hendaknya taubat seorang hamba tersebut adalah pada saat waktu-waktu dimana sebuat taubat itu diterima oleh Allah, karena apabila sebuah taubat dilakukan seorang hamba pada waktu dimana taubat tidak dapat diterima tentunya sangatlah tidak bermanfaat ketika itu. Sebagaimana digambarkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya : &lt;br /&gt;وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ  وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا&lt;br /&gt;“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”.(Q.S. al-Nisa : 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman : &lt;br /&gt;وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(Q.S. al-Nur : 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam ayat yang lain disebutkan : &lt;br /&gt;وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ&lt;br /&gt;“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian)”.(Q.S. Huud : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ&lt;br /&gt;” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ’’.(Q.S. al-Tahrim : 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW senantiasa bertaubat kepada Allah meskipun dosa-dosa beliau sudah diampuni Allah baik yang telah lampau ataupun yang akan datang. Akan tetapi beliau tetap melaksanakannya sebagai perwujudan seorang hamba yang senantiasa bersyukur. Disebutkan dalam sebuah riwayat: &lt;br /&gt;قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً&lt;br /&gt;”Berkata Abu Hurairah : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata : “ Demi Allah , sungguh aku selalu memohon ampun kepada Allah dan taubat kepada-Nya dalam satu hari tidak kurang dari tujuh puluh kali”. (H.S.R. Bukhari )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan dalam riwayat yang lain pernah beliau memberikan motivasi kepada para sahabat beliau, : &lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ &lt;br /&gt;“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku senantiasa memohon taubat kepada Allah dalam satu hari seratus kali”.(H.S.R. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam sebuah riwayat disebutkan pula:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah selalu membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang bermaksiat di siang harinya, dan Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang bermaksiat di malam harinya. Dan ini berlangsung hingga terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya(kiamat).“(H.S.R. Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-8108846350466494903?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/8108846350466494903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/11/akhlaq-terhadap-allah-subhaanahu-wa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/8108846350466494903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/8108846350466494903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/11/akhlaq-terhadap-allah-subhaanahu-wa.html' title='Akhlaq terhadap Allah Subhaanahu wa Ta&apos;ala'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-6075022481477051197</id><published>2009-11-12T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T05:17:27.631-08:00</updated><title type='text'>Sekilas tentang Al Asma' al Husna</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asma wa Sifat Allah dan manhaj Ahlus Sunnah di dalam masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I. Al-Asma’ wa al-Sifat  Allah dalam tinjauan Aqidah Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan al-asma’ dan al-Sifat milik Allah adalah sangat agung kedudukannya di dalam agama Islam. Dimana keberadaan tersebut adalah sebagai salah satu asas pondasi Islam dalam masalah keimanan(aqidah) seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. &lt;br /&gt;Keimanan kepada al-asma’ wa al-sifat (tauhid al-asma’ wa al-sifat) memiliki definisi yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan di dalam al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut apa yang pantas bagi Allah SWT, tanpa adanya penyimpangan makna dari apa-apa yang dikehendaki oleh-Nya(seperti ta’wil, ta’thil   , takyif  , ataupun tahrif  .).  Pemahaman ini berdasarkan dari firman Allah ta’ala, yang artinya : &lt;br /&gt;“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”(Q.S. asy-Syura : 11). &lt;br /&gt;Allah menafikkan jika ada sesuatu yang menyerupai diri-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya dalam kitrab-Nya dan dengan nama dan sifat yang diberikan oleh Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dalam hal ini apa-apa yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah tidak boleh dilanggar, karena tidak seorangpun yang lebih mengetahui tentang Allah daripada Allah sendiri. Serta tidak ada (-sesudah Allah) seorangpun yang lebih mengetahui tentang Allah daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;br /&gt;Maka barangsiapa yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau menamakan Allah dan mensifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluq-Nya, atau menta’wilkan nama-nama dan sifat-sifat tersebut dari makna yang benar, maka sesungguhnya ia berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan rasul-Nya. &lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya : &lt;br /&gt;“Siapakah yang lebih Zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ???”(Q.S. al-Kahfi : 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II. al-Asma’ al-Husna &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman, yang artinya: &lt;br /&gt;“Hanya milik Allah al-asma’ al-husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ husna itu dan tinggalkannlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan”.(Q.S. al-A’raf : 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat yang mulia diatas, ada beberapa hal yang dapat kita petik : &lt;br /&gt;1. Menetapkan nama-nama untuk Allah ta’ala, maka barangsiapa yang menafikan nama-nama Allah tersebut berarti ia telah menafikan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri, secara otomatis pula ia telah menentang Allah.&lt;br /&gt;2. Bahwasanya asma’ Allah ta’ala semuanya adalah husna, maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa adanya kekurangan dan cacat sedikitpun. Dan bukanlah nama-nama tersebut hanya sekedar nama-nama kosong semata tanpa memiliki makna dan arti.&lt;br /&gt;3. Sesungguhya Alah memerintahkan berdoa dan ber-tawassul kepada-Nya dengan nama-nama-Nya. Maka dalam hal ini, menunjukkan keagungannya serta kecintaan Allah kepada doa yang disertai nama-nama-Nya.&lt;br /&gt;4. Bahwasanya Allah ‘azza wa Jalla mengancam orang-orang yang ilhad  dalam asma’-Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam tafsir ibnu Katsier bahwasanya pernah suatu ketika salah seorang musyrik mendengar doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengucapkan dalam sujud beliau “Yaa Allah, yaa Rahman ..”. Maka orang tersebut berkata :”Sesungguhnya Muhammad mengaku hanya menyembah kepada satu Tuhan, sedangkan ia saat ini menyembah dua tuhan????”. Sehingga Allah menurunkan sebuah ayat dari al-Quran surat al-Isra’ : 110, yang artinya: &lt;br /&gt;“Katakanlah! :’Serulah Allah atau serulah al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma’ al-husna(nama-nama yang terbaik)…..”&lt;br /&gt;Sehingga dari kisah di atas dapat kita ambil hikmah bahwasanya Allah sangat menyukai apabila seorang hamba memohon kepada-Nya dengan seruan nama-nama yang Allah miliki sesuai dengan keinginan hamba tersebut. Dan seorang hamba dapat memilih diantara nama-nama tersebut yang  ia suka, seperti dengan seruan “Yaa Allah,…yaa Rahman, yaa Ghaffar….” dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan akan tetapnya nama-nama Allah tersebut dan masing-masing dari nama Allah tersebut bisa digunakan sesuai dengan maqam dan suasananya, karena kesemuanya adalah husna.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam surat yang lain yang artinya: &lt;br /&gt;“Dialah Allah, tiada tuhan yang berhak untuk disembah melainkan Dia. Dia mempunyai al-asma’ al-husna”. (Q.S. Thaha : 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III. Kandungan al-Asma’ al-Husna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama Allah yang mulia adalah bukan sekedar nama yang kosong dari makna dan sifat. Dari nama-nama Allah tersebut menunjukkan akan keagungan sifat yan dimiliki Allah dan kemuliaan nama yang dimiliki-Nya. Setiap nama menunjukkan akan sifat yang terkandung didalamya. Sebagaimana nama Allah al-Rahman dan al-Rahim, kedua nama ini menunjukkan akan sifat rahmah(kasih sayang), al-Sami’ dan al-Bashir, dua nama ini menunjukkan sifat mendengar dan melihat. al-‘Alim menunjukkan akan sebuah sifat ilmu yang tiada terkira luasnya. Al-Karim menunjukkan sifat karam(mulia dan dermawan). Al-Khaliq menunjukkan Dia adalah Zat yang menciptakan, dan al-Razzaaq menunjukkan Dia memberi rizqi dengan jumlah yang sangat banyak. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan sifat dari sifat-sifat-Nya. &lt;br /&gt;Syaikh al-Islam Al-Imam ibnu Taimiyyah mengatakan : “Setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti al-’Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, al-Qadir menunjukkan Dzat dan qudrah(kekuasaan), al-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat Rahmat…” &lt;br /&gt;Al-Imam ibnu Qayyim al-Jauziah pernah mengatakan : &lt;br /&gt;“Nama-nama Rabb Subhanahu wa ta’ala menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, karena nama-nama tersebut di ambil dari sifat-sifat-Nya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafadz-lafadz yang tidak memiliki makna  maka tentunya tidak akan disebut husna, juga tidak menunjukkan pujian dan kesempurnaan. Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam(balas dendam) dan ghadhab(marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan : “Yaa Allah sesungguhnya aku telah menzalimi diri saya sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah al-Muntaqim(Maha membalas Dendam). Yaa Allah anugerahilah aku, karena Engkau adalah adh-Dharr(Yang Maha Memberi Mudharat) dan al-Mani’(Yang Maha Menolak)……”dan yang semacamnya. Lagipula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdarnya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkan untuk diri-Nya dan telah ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, sebagaimana dalam sebuah ayat dijelaskan, yang artinya: &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi Rizqi Yang mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh”.(Q.S. Al-Dzariyat : 58). &lt;br /&gt;Dari sini diketahui bahwa al-Qawiy adalah salah satu nama-nama-Nya yang memiliki makna “Dia Yang memiliki Kekuatan”. Demikian halnya dengan firman-Nya yang lain : &lt;br /&gt;“…Maka bagi Allah lah kemuliaan itu semuanya…” (Q.S. al-Fathir : 10).&lt;br /&gt;Al-‘Aziz adalah “Yang memiliki Izzah(kemuliaan)”. Seandainya tidak memiliki kekuatan dan izzah (kemuliaan) maka tidak boleh dinamakan al-Aziz dan al-Qawiy. Demikian penjelasan ibnu Qayyim al-Jauziah .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;IV. Penjelasan tentang sebagian sifat-sifat Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat yang disebutkan Allah tentang diri-Nya ada dua macam sifat; Sifat Tsubutiyyah dan Sifat Salbiyyah. &lt;br /&gt;Sifat Tsubutiyyah adalah setiap sifat yang ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk Diri-Nya di dalam al-Quran ataupun yang melalui sabda Rasulullah . Sifat-sifat ini adalah sifat kesempurnaan, tidak menunjukkan sama sekali cela ataupun kekurangan. Sifat Tsubutiyyah ini terbagi menjadi dua bagian : &lt;br /&gt;Bagian pertama adalah sifat dzatiyah, yaitu sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya Sifat ini tidak terpisah dari Dzat-Nya. Seperti (القدرة) Maha Berkuasa. Dalam sekian banyak ayat al-Quran dijelaskan perihal sifat al-Qudrah ini sebagaimana dalam contoh berikut: &lt;br /&gt;“….dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. al-Maaidah : 120)&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (Q.S al-Baqarah : 20)&lt;br /&gt;”Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : ‘Jadilah, maka terjadilah ia ”. (Q.S. Yasin : 82)&lt;br /&gt;Maka seluruh makhluq-Nya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satupun partikel yang dapat keluar dari-Nya. Dan sangat cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan dirinya, bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan pengelihatannya, menciptakan sepasang mata untuknya, sebuah lisan dan sepasang bibir. Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagad raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrah-Nya yang menunjukkan akan keagungan-Nya. Dan sifat Allah yang lain sebagainya. &lt;br /&gt;Bagian kedua adalah sifat fi’liyyah, yaitu sifat yang Allah perbuat jika berkehendak. Seperti bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datangnya Dia pada hari kiamat. Banyak dari sifat Allah pada bagian kedua ini  diingkari oleh sebagian kaum muslimin yang cenderung mengedepankan akal mereka di atas nash(dalil) baik itu dari al-Quran ataupun hadits yang shahih. &lt;br /&gt;Di dalam al-Quran al-Karim, Allah telah mengabarkan akan bersemayamnya diri-Nya di atas ‘Arsy. Ada tujuh ayat di berbagai surat dalam al-Quran yang menjelaskannya. Sebagaimana dalam surat al-A’raf : &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy ”.(Q.S. al-A’raf : 54).&lt;br /&gt;Pada surat Yunus: &lt;br /&gt;”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy “.(Q.S. Yunus : 3)&lt;br /&gt;dan pada surat yang lainnya seperti (Q.S. ar-Ra’d : 2), (Q.S. Thaha : 5), (Q.S. al-Furqan : 59), (Q.S. al-Sajdah : 4), dan (Q.S. al-Hadid : 4). &lt;br /&gt;Dalam ketujuh ayat di atas lafadz istiwa’ datang dalam bentuk dan lafadz yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta’wil, yaitu ketinggian dan keluhuran-Nya di atas ‘Arsy  . &lt;br /&gt;‘Arsy dalam tinjauan etimologi Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja, akan tetapi yang dimaksudkan dengan ‘Arsy di sini adalah singgasana yang memiliki beberapa kaki yang dipikul oleh para malaikat-Nya , ia merupakan atap bagi semua makhluq. Dan bersemayamnya Allah di atasnya ialah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Kita tidak mengetahui kaifiyah(cara)-nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifat-Nya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita fahami dari maknanya dalam Bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Salbiyyah adalah setiap sifat yang dinafi’kan (ditiadakan) Allah ‘Azza wa Jalla bagi Diri-Nya melalui al-Quran ataupun sabda Rasul-Nya . Dan seluruh sifat ini adalah sifat kekurangan dan tercela bagi Allah, contohnya : maut(mati tidak hidup), naum(tidur), jahl(bodoh), nisyan(kelupaan), ‘ajz(kelemahan), ta’ab(lelah dan capek),dan lain-lainnya. Sifat-sifat tersebut wajib dinafi’kan dari Allah Ta’ala berdasarkan keterangan di atas, dengan disertai penetapan sifat kebalikannya secara lebih sempurna. Sebagai contoh permisalan, menafi’kan maut(mati) dan naum(tidur), berarti menetapkan kebalikannya bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Hidup dengan sempurna. Menafi’kan jahl(bodoh), berarti menetapkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui dengan ilmu-ilmu-Nya yang sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;V. Apakah al-asma’ al-husna terikat dengan bilangan tertentu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma’(nama-nama) Allah tidak terikat dengan bilangan tertentu, hal ini adalah berdasarkan riwayat Rasulullah  dalam sebuah hadits yang masyhur : &lt;br /&gt;أَسْأَلُكَ بِكُلَّ اْسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْـزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ , أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ , أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ . &lt;br /&gt;“Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-nama-Mu, yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluq-Mu, atau masih dalam rahasia Ghaib pada-Mu yang hanya Engkau sendiri mengetahuinya”. (H.S.R. Ahmad, ibnu Hibban dan al-Hakim). &lt;br /&gt;Padahal sesuatu yang masih dalam rahasia ghaib dan hanya diketahui oleh Allah semata tidak mungkin dapat dihitung atau diketahui dengan pasti oleh seseorang. Mungkin dalam sebagian pemahaman masyarakat muslimin akan bertanya-tanya tentang keberadaan sebuah riwayat yang masyhur dan disandarkan pengucapan riwayat tersebut kepada Rasulullah   yang berbunyi : &lt;br /&gt;إِنَّ ِللهِ تِسْعَةُ وَتِسْعِيْنَ اِسْماً , مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ &lt;br /&gt;“Sesungguhnya ada bagi Allah sembilan puluh sembilan(99) asma(nama), seratus kurang satu, yang barang siapa dapat menghitungnya   akan masuk sorga”.&lt;br /&gt;Ada sebuah penjelasan yang cukup bisa menjawab permasalahan di atas, al-Imam asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin-rahimahullah- menjelaskan: &lt;br /&gt;“Hadits di atas tidak menunjukkan bahwa asma Allah hanya sejumlah 99 ini saja. Andaikata maksud hadits ini demikian tentu susunan redaksi kalimatnya adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;إِنَّ أَسْمَاءَ اللهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اِسْماً , مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ &lt;br /&gt;“Sesungguhnya asma’ Allah ada sembilan puluh sembilan(99)  asma(nama), seratus kurang satu, yang barang siapa dapat menghitungnya  akan masuk sorga”.&lt;br /&gt;Karena pengertian riwayat di atas yaitu bahwa sembilan puluh sembilan asma’ ini diantara yang menghafal dan menghitungnya akan masuk ke dalam surga. Hal in disebabkan karena susunan kalimat “man ahshaaha dakhala al-jannah” merupakan kalimat pelengkap , dan bukan kalimat terpisah yang berdiri sendiri. Sebagai contoh seperti ini bila ada Anda mengatakan : ’’Saya punya uang 100 dirham yang saya persiapkan untuk sedekah ’’, yang mungkin dalam hal ini memiliki arti bisa saja Anda memiliki dirham-dirham lain yang tidak Anda persiapkan untuk bersedekah. &lt;br /&gt;Dan sesunguhnya tidak benar adanya penyusunan asma Allah tersebut berasal dari Nabi  , dan riwayat yang berkenaan dengan hal ini adalah lemah(dha’if) . Demikian penjelasan beliau –rahimahullah- secara ringkas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-6075022481477051197?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/6075022481477051197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/11/sekilas-tentang-al-asma-al-husna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6075022481477051197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6075022481477051197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/11/sekilas-tentang-al-asma-al-husna.html' title='Sekilas tentang Al Asma&apos; al Husna'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-6983256900144816441</id><published>2009-10-12T17:52:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T17:54:20.777-07:00</updated><title type='text'>Jimatku yang ku sayang .....:(</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenal jimat atau kalung yang dikeramatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamimah dan Wada’ah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan yang berkaitan dengan bab ini tidak akan lepas dari dua buah istilah di atas yaitu Tamimah dan Wada’ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal atau menolak ‘ain(semacam penyakit atau musibah yang disebabkan sebuah pandangan hasad/iri dengki  seseorang terhadap orang lain yang dihasadinya). &lt;br /&gt;Terkadang yang dikalungkan bentuknya bermacam-macam, ada yang berupa tulisan(Arab dan lain sebagainya) yang apabila di baca tulisan tersebut terkadang tidak memiliki makna yang jelas, dan hanya di fahami oleh orang yang membuatnya. Dalam hal ini ulama’ ahlu al-Sunnah sepakat akan keharaman pemakaian hal-hal yang seperti ini. Akan tetapi apabila tulisan tersebut berasal dari ayat-ayat al-Quran, sebagian ulama ada yang memperbolehkannya, dan sebagian yang lain tetap memandang hal tersebut termasuk yang dilarang dan diharamkan  oleh Islam, sebagaimana pendapat ibnu Mas’ud. R.A.&lt;br /&gt;Wada’ah adalah sesuatu yang dikalungkan di leher atau bagian tubuh yang lain, berasal dari rumah hewan sejenis siput di laut(kul buntet/kerang), dengan tujuan untuk menolak penyakit demam, atau pengusir ‘ain dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Dikalangan masyarakat yang sangat mejemuk, akan kita temui sekian banyak fenomena kebudayaan yang berkembang dan bahkan terkadang dijadikan sebagai bagian dari keyakinan aqidah masyarakat yang mendarah daging tumbuh subur dan sangat sulit untuk dihilangkan. Sebagai permisalan, pada zaman dahulu tentunya istilah bahan pusaka adalah bukan sebagai sesuatu yang asing bagi masyarakat. Bahkan terkadang bahan pusaka tersebut merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang yang dapat memeliharanya dengan baik, seperti jenis senjata : panah dan busurnya, tombak, pedang, keris, dan lain-lainya, atau dari jenis perhiasan seperti kalung, gelang, anting-anting, cincin dan lainnya. Dimana pada saat itu barang-barang pusaka tersebut tidak lepas dari unsur ikatan magic/supranatural dan diyakini(oleh masyarakat) bahwa benda tersebut memiliki kekuatan besar yang dapat memberikan manfaat (bagi orang yang menghormati benda tersebut), atau bahkan memberikan mudharat (bagi orang yang melecehkannya). &lt;br /&gt;Kisah-kisah tersebut bukanlah sekedar omong kosong, di zaman era modern ini pun masih banyak sisa-sisa masyarakat yang masih mau percaya dan meyakini akan kehebatan kekuatan yang dimiliki oleh beberapa benda pusaka sisa-sisa sejarah zaman dahulu. Kalangan inipun mau berkorban harta, benda bahkan jiwa raga mereka untuk mempertahankan kepercayaan atau mendapatkan sisa-sisa dari benda yang di anggap mereka keramat. Keyakinan mereka sangat kuat, rasa tawakkal yang dipasrahkan kepada benda-benda pusaka tersebut, kesialan, keberuntungan akan hidup dan sebagainya kesemuanya adalah tergantung dari benda-benda itu. &lt;br /&gt;Akan tetapi dengan adanya keberadaan Islam dan apa-apa yang di bawa oleh agama Islam tentunya merupakan suatu hal tersendiri dalam mengukur nilai-nilai religi yang berkaitan dengan hal-hal khurafat di atas. Islam memandang keberadaan fenomena tesebut sebagai sebuah ikatan kerjasama yang erat antara manusia dan iblis(dari kalangan jin tertentu). Sebagaimana firman Allah yang menggambarkan akan hal ini dalam surat Jin: &lt;br /&gt;وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا&lt;br /&gt;“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”.(Q.S. Jin : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya tidaklah bahan atau benda-benda pusaka tersebut memiliki kekuatan tertentu kecuali si pemilik benda tersebut mengikat kerjasama dan perjanjian dengan jin-jin tertentu. Dan secara otomatis Islam memberikan konsekuensi tertentu bagi siapa saja yang melakukan perbuatan tersebut di atas dengan sebutan syirik, khurafat, dan bid’ah. Dikatakan suatu hal yang bid’ah(baru) karena hal tersebut di atas memang bukan dari ajaran Islam yang di bawa oleh Rasulullah SAW. Demikian pula dikatakan suatu perkara  khurafat karena hal tersebut di atas selalu diiringi dengan berbagai kepercayaan mistis yang Islam mengingkari dan melarang akan hal tersebut. Dikatakan perkara syirik karena perbuatan tersebut di atas senantiasa tidak lepas dari ikatan perjanjian antara manusia dan jin yang menggunakan perantara “pengorbanan” atau “tumbal” dan lain sebagainya. Dan Allah dengan sangat tegas melaknat dan melarang akan hal ini dan dihukumi pelakunya sebagai orang yang kafir dan syirik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman : &lt;br /&gt;قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”,(Q.S. al-An’am : 162)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam sebuah hadits Nabi SAW disebutkan : &lt;br /&gt;لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ &lt;br /&gt;“Allah melaknat bagi siapa saja yang menyembelih(berkorban) untuk selain Allah”.(H.S.R. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pandangan Islam terhadap keberadaan jimat dan yang semacamnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan para Nabi dan Rasul adalah dalam rangka mengemban sebuah tugas yang sama dari Allah ‘Azza wa Jalla untuk mereka dakwahkan kepada para umat mereka yaitu meng-esakan Allah dalam peribadahan. Sebuah tugas yang sangat berat dan senantiasa mereka akan dimusuhi oleh musuh-musuh Allah baik itu dari kalangan Jin /Syaithan ataupun manusia. Dimana sudah sangat dikenal perihal permusuhan yang akan dan senantiasa terjadi antara dua hal yang sangat berlawanan yaitu tauhid dan syirik. &lt;br /&gt;Allah menjelaskan dalam al-Quran tentang tugas utama para Rasul dan Nabi tersebut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu keberadaan penggunaan jimat atau yang sejenisnya dalam rangka menolak mudharat dan mendatangkan manfaat dikalangan masyarakat kaum muslimin masih sangat melekat. Terkadang penggunaan sarana-sarana tersebut dibumbui dengan bumbu-bumbu “yang terkesan Islamy” sehingga  banyak menipu masyarakat awam dan secara tidak sengaja akan menggugurkan aqidah mereka, sehingga tanpa sadar mereka berada di tepi jurang api neraka. Allah menjelaskan dalam surat az-Zumar (39): 38&lt;br /&gt;قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ&lt;br /&gt;Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.(Q.S. al-Zumar: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula di antara kalangan masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaanya dalam masalah penggunaan jimat-jimat berdalih bahwa saesungguhnya jimat-jimat tersebut hanyalah sebagai perantara/washilah (yang akan membantu mereka dalam mendatangkan keberuntungan/kekuatan ataupun menolak kesialan dan kelemahan), karena sesungguhnya mereka meyakini pula bahwa hal tersebut adalah datangnya dari Allah semata. Hal ini tidak lepas dari lemahnya masyarakat Islam dalam masalah iman dan Aqidah yang benar, disamping itu lemahnya kemampuan edukasi/pendidikan Islam dan jauhnya pemahaman mereka dari cahaya Islam adalah merupakan beberapa faktor yang menyebabkan mereka berkeyakinan yang sedemikian. &lt;br /&gt;Ada sebuah kisah menarik bersumber dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad,dan yang Ibnu Majah dalam sunan beliau, dimana dikisahkan : &lt;br /&gt;عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلْقَةٌ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ مَا هَذِهِ الْحَلْقَةُ قَالَ : هَذِهِ مِنَ الْوَاهِنَةِ , قَالَ : انْزِعْهَا فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا,  فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا &lt;br /&gt;Dari sahabat Imran ibn Husain RA, ia menuturkan, pernah suatu hari Rasulullah SAW melihat seorang laki-laiki yang ditanganya terdapat sebuah gelang yang berasal dari kuningan. Lalu beliau SAW bertanya : “Apa ini??” Orang tersebut menjawab : “Untuk menangkal sakit/menambah kekuatan”, Nabi-pun bersabda : “Lepaskan(tarik dan putus) gelang itu, karena ia hanya akan menambah kelemahan dalam dirimu. Sebab jika suatu saat engkau mati wahai pemuda, sedangkan gelang tersebut masih menempel dalam tubuhmu niscaya dirimu tidak akan beruntung selama-lamanya.”(dengan sanad yang bisa diterima).&lt;br /&gt;Dari kisah diatas dapat kita petik beberapa pelajaran penting bahwasanya permasalahan penggunaan jimat atau yang semisalnya(dalam rangka menambah keberuntungan dan menolak kesialan) adalah sudah ada dan dipercaya oleh masyarakat waktu itu. Akan tetapi ketika Rasulullah SAW melihat seseorang yang mengguanakan benda-benda yang semacam ini beliau SAW mengignkari perbuatan tersebut dengan sangat keras dan tegas. Lebih lanjut beliau SAW memberikan gambaran apabila benda-benda tersebut masih senantiasa dipergunakan, ada sebuah konsekuensi tersendiri dengan sebuah ancaman ke-tidak beruntungan selama-lamanya, dan bukanlah keberuntungan yang akan diperoleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain(dalam al-Musnad Imam Ahmad) dikisahkan: &lt;br /&gt;عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِد,ٍ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا , قَالَ : " إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً " فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ , وَقَالَ : " مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ " &lt;br /&gt;Dari sahabat ‘Uqbah bin Amir al-Juhani menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah SAW menerima kedatangan sekelompok orang yang ingin berbaiat kepada beliau. Kemudian beliau membaiat sembilan orang yang ada dan menolak seorang lainnya. Sehingga para sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, engkau membaiat sembilan orang ini, akan tetapi mengapa engkau menolak satu orang ini?. Dan dijawab oleh beliau :”Karena orang ini membawa tamimah(semacam jimat,pent)”. Lalu ia memasukkan tangannya dan memotong jimat tersebut, setelah itu Rasulullah SAW mau menerima baiatnya. Lalu beliau bersabda : “Barang siapa menggantungkan tamimah, maka ia telah musyrik”. (al-Hakim juga meriwayatkan dengan lafadz yang sama dengan rawi-rawi yang tsiqah/dapat dipercaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan jimat-jimat dan yang semisal dengannya dalam pandangan Islam adalah sebuah hal yang tercela dan syirik hukumnya. Secara otomatis pelakunya adalah seorang yang musyrik menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Karena mereka bertawakkal dan berharap keberuntungan serta menolak kesialan dan mudharat bukan kepada Allah, akan tetapi melalui washilah benda-benda hina lagi tercela tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah sebuah agama yang kamil(sempurna/lengkap) sehingga Allah sendiri yang memberikan jaminan atas kesempurnaan agama ini. Dalam al-Quran Surat al-Maidah ayat 3 disebutkan : &lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu”…&lt;br /&gt;dan cukuplah ayat di atas sebagai penjelas dan bukti akan kesempurnaan ajaran Islam yang di bawa oleh Rasulullah SAW, dimana beliau telah menunaikan amanah secara sempura. Sehingga sangat tidak layak ada orang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim, akan tetapi masih memiliki keyakinan bahwa ada sisi ghaib lain yang berupa ajaran Islam dan belum dijelaskan oleh Rasulullah Saw.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-6983256900144816441?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/6983256900144816441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/10/jimatku-yang-ku-sayang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6983256900144816441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/6983256900144816441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/10/jimatku-yang-ku-sayang.html' title='Jimatku yang ku sayang .....:('/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-5762061934694732730</id><published>2009-10-09T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T08:21:47.342-07:00</updated><title type='text'>صورة الجواب للشيخ أحمد السركتي الأنصاري السلفي</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSUHARI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"AGA Arabesque"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:Symbol; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Times New Arabic"; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;} @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} h1 	{mso-style-next:Normal; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:1; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:20.0pt; 	font-family:"Book Antiqua"; 	mso-bidi-font-family:"Traditional Arabic"; 	mso-font-kerning:0pt; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US; 	font-weight:normal;} h2 	{mso-style-next:Normal; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Book Antiqua"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	vertical-align:super;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:center; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:14.0pt; 	font-family:"Book Antiqua"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Book Antiqua"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:239869841; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-213633146 67698703 1875570904 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1 	{mso-list-id:1207135710; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1372351556 67698701 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l2 	{mso-list-id:1277715595; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-271548352 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3 	{mso-list-id:1669287183; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1897637882 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Surkati al-Anshari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kitab S{u&gt;ratu al-Jawa&gt;b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;(Studi keabsahan hukum pernikahan antara keturunan Ba Alwi dengan non Ba Alwi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;I. Biografi Syaikh Ahmad al-Surkati : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Beliau dilahirkan di desa Udfu, jazirah Urqu&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; bagian daerah Dongula, Sudan. Pada tahun 1292 H atau 1875 M, ayah beliau bernama Muhammad yang diyakini bernasab pada qabiilah &lt;i&gt;al-khazraj &lt;/i&gt;yang bersambung nasab tersebut hingga kepada salah seorang sahabat Jabir ibn Abdillah ibn ‘Amru al-Anshari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;. Sehingga gelar nama al-Anshari melekat kepada beliau. Sedangkan nama al-Surkati adalah berasal dari nenek moyang beliau yang ke-empat. Asal mula nama surkati ini adalah dari bahasa penduduk Dongula yang memiliki arti banyak buku. (Dalam bahasa masyarakat Dongula “ &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;سَوْر&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;ْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; “ memiliki arti “buku”, dan “ &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كَتِيْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; “ dalam bahasa Dongula digunakan sebagai penunjukan makna “yang banyak”) &lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Karena dikisahkan dahulu nenek moyang Syaikh Ahmad menuntut ilmu di Mesir dan ketika pulang membawa buku yang sangat banyak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Syaikh Ahmad Surkati berasal dari keluarga yang sangat gemar dalam menuntut ilmu, selain nenek moyang beliau yang memiliki banyak buku, demikian pula halnya dengan ayahanda beliau. Ayah syaikh adalah seorang terpelajar lulusan dari al-Azhar, beliau-pun menyandang gelar “Surkati” dan ketika pulang dari menuntut ilmu ia membawa buku yang banyak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Syaikh Ahmad Surkati memiliki banyak keistimewaan, diantaranya dalam masalah kecerdasan. Ketika usia muda beliau tidak memiliki kesulitan dalam menghafalkan al-Quran sebagaimana yang dialami teman-teman beliau. Sehingga dengan sangat mudah beliau menghafalkan al-Quran dengan waktu yang sangat singkat. Dikisahkan bahwasanya pada saat usia muda pernah beliau diuji hafalannya dalam sebuah majelis oleh salah satu guru al-Quran &lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Syaikh Ahmad menghafalkan al-Quran hanya berbekal pada bacaan salah satu teman beliau yang ia dengar satu kali. Sehingga semenjak saat itu Syaikh Ahmad mendapatkan perhatian khusus dari sang guru dalam menuntut ilmu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Setelah selesai dari menuntut ilmu di masjid al-Qaulid beliau melanjutkan studi ke Ma’had Sharqy Nawa yang diasuh oleh salah seorang ‘alim terkenal di sana. Di tempat ini pula beliau memiliki keistimewaan yang menonjol dalam masalah kecerdasan sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan waktu yang singkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Selesai dari studi di Ma’had Sharqy Nawa, Syaikh Ahmad melanjutkan studi beliau ke kota Madinah al-Munawarah. Diantara guru-guru beliau yang terkemuka dalam bidang hadits adalah Syaikh Fa&gt;lih} &lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan Syaikh ‘Umar H{amda&gt;n &lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; keduanya berasal dari Maroko. Kemudian dalam ilmu fiqih beliau belajar kepada Syaikh Ah}mad ibn al-Ha&gt;jj ‘Ali&gt; al-Majdhu&gt;b&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, sedangkan dalam ilmu qiraat beliau belajar kepada Syaikh al-Khuyari&gt; al-Maghriby&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, serta belajar bahasa Arab kepada Syaikh Ah}mad al-Barzanjy al-Madi&gt;ni&gt;&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Di kota Madinah ini Syaikh Ahmad tinggal kurang lebih selama empat tahun setengah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kemudian beliau melanjutkan menuntut ilmu di kota Makkah, dan di kota ini Syaikh mendapatkan gelar kehormatan dari majelis Ulama Makkah sehingga mendapatkan sebutan &lt;i&gt;al-‘Alla&gt;mah&lt;/i&gt;. Salah seorang kakak kandung Syaikh yang bernama Sati Muhammad Surkati menuturkan bahwasanya tidak ada orang Sudan yang mendapatkan gelar yang semacam ini sebelumnya,walaupun pada saat itu banyak ulama Sudan yang tinggal di kota Makkah. Hal ini disebabkan bahwasanya konon ulama’ Makkah sangat selektif dalam memberikan pujian dan gelar sanjungan kepada orang-orang ‘&lt;i&gt;A&lt;fa&gt;qi&gt; &lt;/i&gt;(orang yang bukan berasal dari negeri Hijaz). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Diantara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh As’ad dan Syaikh Abdurrama&gt;n&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang merupakan putera tertua dari Syaikh al-Kabi&gt;r Ah}mad al-Duh}a&gt;n. Selain beliau berdua Syaikh Ahmad juga belajar kepada al-’Alla&gt;mah Syaikh Muh}ammad ibn Yu&gt;suf al-Khayya&gt;t} dan Syaikh Shu’ayb ibn Mu&gt;sa&gt; al-Maghribi&gt;. Akhirnya beliau (Syaikh Ahmad) mendapatkan ijazah pada tahun 1326 H, dan sejak saat itu beliau mulai mengajar secara resmi di Masjid al-H{ara&gt;m Makkah&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Selain itu beliau juga mengajar di beberapa madrasah lain di Makkah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam mengembangkan pandangan keilmuan yang dimiliki, beliau banyak berhubungan dengan menulis surat kepada beberapa ulama al-Azha&gt;r, sehingga beliau banyak di kenal oleh mereka. Hingga pada suatu ketika datang utusan Jam’iyat al-Khayr untuk mencari guru dan ulama al-Azha&gt;r merekomendasikan Syaikh Ah}mad Surkati untuk segera dihubungi oleh mereka secara langsung di Makkah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Setelah utusan Jam’iyat al-Khayr bertemu dengan Syaikh Ahmad Surkati, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke Indonesia dengan ditemani dua orang sahabat Syaikh yang bernama Syaikh Muhammad Abd al-Hamid al-Sudani dan Syaikh Muhammad Thayyib al-Maghribi. Dan akhirnya beliau meninggalkan Makkah untuk menuju ke Indonesia. &lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;II. Perjalanan dakwah di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kedatangan Syaikh Ahmad Surkati di Indonesia disambut hangat oleh para pengurus Jam’iyat al-khair di Batavia(Jakarta). Kedatangan beliau merupakan jawaban atas undangan Jam’iat al-Khair yang merupakan sebuah lembaga dakwah dan sosial yang membidangi berbagai macam bidang usaha, dan diantaranya adalah pendidikan. Lembaga pendidikan Jam’iyah al-Khair membutuhkan bantuan tenaga pengajar di sekolah-sekolah mereka. Jam’iyat ini dikelola oleh orang-orang Indonesia keturunan Arab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;golongan Ba Alwi(keluarga besar Alawi)&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;III. Keberadaan masyarakat Ba Alwi di Hadramaut &lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dijelaskan oleh Syaikh Ahmad al-‘A&gt;qib al-Ans}a&gt;ri dalam salah satu risalah beliau ketika menjelaskan bagaimana perjuangan Syaikh Ahmad Muhammad al-Surkati di pulau Jawa dalam mengajarkan pemahaman Islam yang benar. Dalam risalah beliau dijelaskan bagaimana keadaan masyarakat Arab keturunan Ba Alwi yang sebelumnya hidup di Hadramaut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam kehidupan mereka di negeri hadharim ada beberapa kejanggalan terutama menyebarnya sebuah pemahaman “bangga dan ‘ujub terhadap keturunan nenek moyang”, terlebih bagi mereka yang ‘mengaku’ memiliki keturunan Ba Alwi(anak keturunan dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;). Rasa ujub ini menutup hati kebanyakan umat Islam (kelangan Ba Alwi) untuk bermalas-malasan dalam beramal shalih, karena mereka beranggapan bahwa keberadaan nasab yang mulia dapat menyelamatkan mereka dari kesalahan yang mereka perbuat dalam kehidupan di dunia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga mereka yang mengaku keturunan Ba Alwi banyak melakukan kesalahan dan perbuatan dosa, mereka tidak memiliki rasa malu ketika berbuat salah sebagaimana manusia lain merasa malu apabila berbuat hal tersebut. Tidak pula ada dalam diri mereka rasa takut ketika berbuat dosa sebagaimana rasa takut yang dimiliki oleh orang selain mereka. Kesemuanya kembali kepada anggapan dan aqidah mereka, bahwa keberadaan nasab yang mereka miliki dapat menyelamatkannya dari kesalahan apapun yang telah mereka perbuat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Keberadaan pemahaman yang salah di atas di dukung dengan menyebarnya kebodohan di tengah masyarakat, menyebarnya kebodohan ini berupa beredarnya sekian banyak kisah dan riwayat ‘palsu’ yang dinisbatkan kepada Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;. Kisah-kisah yang berbau khurafat dan takhayul banyak disebarkan oleh masyarakat Ba Alwi dalam rangka melanggengkan keberadaan mereka di tengah masyarakat. Keberadaan kisah-kisah ‘palsu’ ini sangat menguntungkan bagi keturunan Ba Alwi pada saat itu. Sehingga masyarakat non Ba Alwi di&lt;i&gt;cekoki &lt;/i&gt;dengan rasa takut untuk senantiasa menghargai, mengagungkan, menghormati, bahkan mengkultuskan keturunan Ba Alwi baik yang masih hidup ataupun yang telah wafat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tentunya dari kisah di atas sangatlah bertentangan dengan keberadaan Islam ketika pertama kali di bawa oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;, dari realita sejarah dapat kita temukan bahwa kaum muslimin pada zaman tersebut sebagaimana jasad/tubuh yang satu, mereka terikat dengan ikatan keadilan dan persaudaraan Iman dan Islam dan persamaan derajat di mata Allah. Perbedaan derajat hanya ada dalam lingkup amal shalih dan ketakwaan yang dimiliki seseorang. Tanpa melihat dari keturunan atau dari mana orang tersebut. Mereka bangga akan agama yang mereka anut dan yakini(yaitu Islam), persatuan mereka dalam naungan rasa cinta dan Islam. Mereka meyakini akan kemuliaan dan kemerdekaan yang di bawa oleh Islam, mereka saling berlomba untuk mendapatkan kedudukan dan derajat yang tinggi di sisi Allah dengan cara melakukan amal shalih dan berakhlaq mulia. Inilah beda antara pemahaman Islam dahulu dan Islam pada masa setelah bergulirnya zaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;IV. Keturunan Ba Alwi dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam pandangan masyarakat secara umum, dahulu keluarga keturunan Ba Alwi adalah sosok keturunan yang memiliki “derajat” yang tinggi apabila dibandingkan dengan masyarakat keturunan Arab non Ba Alwi, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan masyarakat non Arab. Bahkan di beberapa kalangan, keberadaan mereka(masyarakat Ba Alwi) terkadang “dipercaya” dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hal ini dikarenakan adanya doktrin yang dikembangkan oleh kalangan Ba Alwi kepada masyarakat umum akan keutamaan yang mereka miliki dari kalangan yang lainnya. Yang terkadang kalangan Ba Alwi menggunakan ayat-ayat al-Quran dan sunnah Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; sebagai dalil/landasan untuk menguatkan dalam melanggengkan kedudukan dan derajat yang mereka miliki di pandangan masyarakat. Mereka berdalih bahwa dalam al-Quran&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan sunnah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; -pun mengajarkan tentang &lt;i&gt;tafadhul &lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; atas dasar keturunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Diantara dalil-dalil al-Quran yang mereka gunakan sebagaimana yang ditulis oleh Shadaqah Zaini Dahlan&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dalam menyanggah tulisan Syaikh Ahmad Surkati(S}u&gt;rat al-Jawa&gt;b) : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;يَانِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat.&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain….., &lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam ayat lanjutan, orang-orang Ba Alwi menjadikan sebagai landasan utama akan keberadaan tafadhul dikalangan &lt;i&gt;ahli al-bayt&lt;/i&gt; sebagai golongan yang termulia setelah Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;, yang berbunyi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.&lt;a style="" href="#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan bebapa riwayat hadits yang mereka gunakan dalam memperkuat hujjahnya adalah : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; : Riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat surat al-Ahzab : 33, dan doa Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; kepada keluarga beliau (Fatimah, Hasan, Husein dan Ali &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;) yang pada saat itu bersama beliau :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Yaa Allah mereka adalah ahlu Bait-ku, hilangkanlah dari mereka segala macam kotoran, dan sucikanlah mereka(dari segala macam kotoran) dengan sesuci-sucinya.&lt;a style="" href="#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kedua : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ. ثُمَّ قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang didatangi oleh utusan Tuhanku, kemudian aku menyambut utusan tersebut. Dan aku tinggalkan untuk kalian dua hal, &lt;b&gt;pertama&lt;/b&gt; adalah kitab Allah yang didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (bagi manusia). Maka ambillah kitab Allah tersebut dan berpegang teguhlah dengannya. Kemudian beliau &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; melanjutkan :&lt;b&gt;(Kedua, pent)&lt;/b&gt;kemudian adalah ahlu Bait-ku(keluargaku). Semoga Allah senantiasa mengingatkan kalian terhadap ahlu baitku(diucapkan beliau sebanyak tiga kali).&lt;a style="" href="#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ketiga: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنَ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Aku tinggalkan untuk kalian yang selama kalian berpegangteguh dengannya sepeninggalku, tidak akan pernah tersesat. &lt;b&gt;Yang pertama&lt;/b&gt; lebih agung daripada yang lainnya(yang kedua) adalah kitab Allah, merupakan tali yang terbentang dari langit ke bumi. Kemudian yang lainnya(&lt;b&gt;keduanya&lt;/b&gt;) adalah ahlu bait-ku. Tidak akan berpisah dua hal ini sehingga keduanya bertemu denganku di al-Haudh(telaga). Lihatlah kalian semua, bagaimana kalian akan menggantikan aku dalam kedua hal tersebut.&lt;a style="" href="#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dari dalil-dalil di atas tadi akhirnya masyarakat keturunan Ba Alwi beranggapan bagaimanapun perilaku yang mereka lakukan, tetap keberadaan nasab dapat mengangkat dan menyelamatkan mereka. Selain itu, derajat dan kedudukan tinggi yang mereka yakini menyebabkan adanya pemahaman mereka akan &lt;b&gt;ketidak absahan&lt;/b&gt; sebuah pernikahan yang dilakukan oleh pihak wanita masyarakat Ba Alwi dengan pria masyarakat non Ba Alwi.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atau dengan kata lain salah satu &lt;b&gt;syarat atau rukun keabsahan sebuah pernikahan&lt;/b&gt; adalah &lt;b&gt;adanya kesamaan derajat(kufu’ / kafa’ah)&lt;/b&gt;. Dan kejadian ini sudah berlangsung sekian lama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;V. Fatwa Solo sebab dan dampaknya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Keberadaan Syaikh Ahmad Surkati di Jam’iyat al-Khair Batavia membawa dampak positif yang sangat cepat, kemajuan akan bidang pengajaran dan hasilnya yang dikembangkan di sekolah-sekolah Jam’iyat ini membuat nama sekolah semakin banyak diminati oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya itu saja, perhatian yang sangat besar dari masyarakat secara luas membuat pengurus jam’iyat berkeinginan untuk mendatangkan lagi guru dari luar negeri lewat perantaraan Syaikh Ahmad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sangat disayangkan sambutan dan penerimaan yang hangat terhadap Syaikh Ahmad dari pengurus Jam’iyat al-Khair tidak bertahan lama. Terlebih pada tahun ketiga dari kedatangan Syaikh ke Batavia, pernah suatu hari beliau melakukan kunjungan di kota Solo. Di kota ini beliau singgah di rumah salah satu keluarga keturunan Arab al-Hamid, dan pada saat itu Sa’ad ibn Sunkar bertanya tentang keabsahan hukum perkawinan (menurut Allah dan Rasul-Nya) antara Sharifah&lt;a style="" href="#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dengan pria non Sayyid. Dan dijawab oleh beliau dengan jawaban yang tegas &lt;b&gt;“Boleh dan sah menurut hukum &lt;i&gt;shara’&lt;/i&gt; yang adil”.&lt;a style="" href="#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; Terhadap jawaban yang seperti ini masyarakat Ba Alwi sangat marah, dan menuntut Syaikh untuk mencabut jawabannya tersebut yang mereka anggap sebagai penghinaan terhadap kedudukan yang mereka miliki selama ini. Mengingat kepercayaan akan kedudukan dan derajat tinggi yang mereka miliki dibandingkan dengan golongan masyarakat lainnya sudah mendarah daging secara turun temurun. Selain itu pula masyarakat Ba Alwi telah mendapatkan sekian banyak penghormatan dan fasilitas dari masyarakat keturunan Arab non Ba Alwi atau non keturunan Arab dengan sebab kepercayaan tersebut. Keberadaan fatwa Syaikh Surkati tentunya akan memberikan dampak negatif bagi mereka yang telah sekian lama sebelumnya mendapatkan banyak keuntungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Permintaan untuk mencabut jawaban tersebut ditolak oleh Syaikh Ahmad, dan beliau mengatakan bahwa apa yang ia ucapkan adalah sesuai dengan al-Quran dan al-Sunnah yang shahih. Dan akhirnya beliau-pun menyatakan keberatannya untuk menarik jawaban yang beliau lontarkan ketika di kota Solo. Sehingga sejak saat itu beliau dibenci, difitnah, dan dijauhi oleh mayoritas masyarakat Ba Alwi yang semula menghormati beliau. Melihat gelagat yang tidak baik akhirnya beliau meminta untukmengundurkan diri dari mengajar dan pulang kembali ke Makkah kepada pengurus Jam’iyat al-Khair, akan tetapi pengurus jam’iyat tidak bersedia memberikan tiket perjalanan kepada beliau. Sehingga kemudian, beliau bersama beberapa masyarakat keturunan Arab non Ba Alwi mendirikan &lt;i&gt;Jam’iyat al-Is}la&gt;h} wa al-Irsha&gt;d al-‘Arabiyah&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Keberadaan fatwa Solo semakin menimbulkan keresahan di kalangan Ba Alwi sehingga serangan terhadap fatwa ini dari mereka semakin gencar dilakukan. Mengingat keberadaan fatwa tersebut telah beredar tidak hanya dari mulut ke mulut bahkan sampai ke surat kabar yang beredar. Akhirnya H.O.S Tjokroaminoto selaku pimpinan surat kabar &lt;i&gt;Suluh Hindia&lt;/i&gt; meminta beliau untuk menjawab beberapa pertanyaan yang menyangkut fatwa Solo dan meminta beliau untuk memberikan dasar hukum dan contoh-contoh atas fatwa ini&lt;a style="" href="#_ftn26" name="_ftnref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam rangka meluruskan kesimpang siuran fatwa ini akhirnya Shaikh Ahmad Surkati menerbitkan risalah yang berjudul &lt;i&gt;S}u&gt;ratu al-Jawa&gt;b.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;VI. S{u&gt;rat al-Jawa&gt;b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keberadaan risalah S}u&gt;ratu al-Jawa&gt;b merupakan jawaban atas sekian banyak gejolak masyarakat Arab non Ba Alwi dan non Arab terhadap masyarakat keturunan Arab Ba Alwi. Syaikh Ahmad membuka risalah ini dengan beberapa hujjah yang akan mendukung terhadap risalah yang akan dibawakan olehnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Beliau memulai dengan menukil beberapa ayat al-Quran dalam kaitan yang berhubungan dengan permasalahan ilmu. Diantaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya."&lt;a style="" href="#_ftn27" name="_ftnref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;+&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila`nati Allah dan dila`nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela`nati,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 20pt; line-height: 150%;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;a style="" href="#_ftn28" name="_ftnref28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam masalah wajibnya untuk mengembalikan segala macam perselisihan dan perbedaan beliau mengacu pada beberapa ayat di antaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn29" name="_ftnref29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah&lt;a style="" href="#_ftn30" name="_ftnref30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;a style="" href="#_ftn31" name="_ftnref31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu”&lt;a style="" href="#_ftn32" name="_ftnref32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Akhirnya beliau(Syaikh Ahmad Surkati) memulai membuka permasalan yang berkaitan dengan persamaan dan derajat keturunan. Menurut beliau pembagian kabilah dan suku atau nama-nama yang beraneka ragam adalah bertujuan untuk saling mengenal satu sama lainnya. Bahkan diantara berbagai macam agama yang ada dan berkembang juga mengakui bahwa asal mula manusia adalah dari satu keturunan yang sama. Dalam sebuah ayat dibawakan oleh beliau : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal &lt;a style="" href="#_ftn33" name="_ftnref33" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Berlandaskan ayat yang mulia di atas Syaikh mengisyaratkan bahwa keutamaan yang dimiliki seseorang bukanlah diukur dari keturunan atau nasab yang ia miliki, akan tetapi diukur dari ilmu yang mereka miliki, kemudian amal shalih yang mereka kerjakan dan akhlaq yang mulia. Kedudukan ilmu, amal shalih, dan akhlaq yang mulia adalah lebih utama dan lebih tinggi dibandingkan dengan keberadaan nasab yang diunggulkan. Ada beberapa riwayat dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang bisa memberikan pendukung dari teori ini, diantaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Barangsiapa yang lambat akan amal perbuatannya, nasab(keturunannya) tidak akan mempercepat(dalam membantu amal)nya”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a style="" href="#_ftn34" name="_ftnref34" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;لَيْسَ لِأَحَدٍ فَضْلٌ إِلَّا بِالدِّينِ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Tidak ada keutamaan yang dimiliki seseorang kecuali dengan agama atau amal shalih”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn35" name="_ftnref35" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;لَيْسَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلَّا بِدِينٍ أَوْ تَقْوَى &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Tidak ada keutamaan yang dimiliki seseorang terhadap orang yang lainnya kecuali dengan agama atau ketaqwaan”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a style="" href="#_ftn36" name="_ftnref36" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tidak ada keutamaan bagi keturunan Arab terhadap keturunan non Arab(A'jamiy)demikian pula sebaliknya, tidak ada pula keutamaan yang dimiliki oleh keturunan yang berwarna kulit merah terhadap keturunan yang berkulit hitam, demikian pula sebaliknya. Terkecuali dengan keutamaan ketakwaan(yang mereka miliki).&lt;a style="" href="#_ftn37" name="_ftnref37" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Setelah memaparkan sekian banyak dalil dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Syaikh Surkati menyatakan bahwa keberadaan kelompok manusia yang merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan yang lainnya, dengan sebab adanya keutamaan nasab/keturunan, darah, daging, dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu tidak dilandasi dengan adanya amal shalih dan ilmu yang benar, terlebih lagi apabila hal tersebut disandarkan kepada syariat yang ada&lt;a style="" href="#_ftn38" name="_ftnref38" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, maka anggapan ini adalah &lt;b&gt;tertolak. &lt;/b&gt;Beliau&lt;b&gt; &lt;/b&gt;beralasan bahwa perilaku tersebut tidak ada tauladan dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;, dan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;bersabda dalam salah satu riwayat : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan(agama) kami ini, maka hal tersebut akan tertolak”.&lt;a style="" href="#_ftn39" name="_ftnref39" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pembicaraan para ulama tentang keberadaan keutamaan yang terdapat pada suatu nasab diantara kaum muslimin, bukanlah sebagai penjelasan akan keutamaan yang dimiliki seseorang terhadap seseorang yang lainnya. Akan tetapi sudut pandang para ulama dalam masalah ini adalah dalam rangka kebaikan muamalah/sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Syaikh Ahmad mengambil beberapa contoh untuk membatalkan pemahaman masyarakat keturunan Ba Alwi yang menganggap bahwa pernikahan wanita keturunan Ba Alwi dengan pria keturunan non Ba Alwi adalah tidak sah. Diantara contoh-contoh yang beliau ambil adalah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kisah      Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;yang menikahkan Zainab binti      Jahsyin puteri bibi beliau Amiimah binti Abdil Muthalib dengan Zaid ibn      Haritsah mantan budak beliau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn40" name="_ftnref40" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kisah      Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;yang menikahkan Ummu Kultsum binti      ‘Uqbah ibn Abi Mu’ith dengan Zaid ibn Haritsah(setelah bercerai dengan      Zainab)&lt;a style="" href="#_ftn41" name="_ftnref41" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pernikahan      antara Fatimah binti Qays al-Qursyiyah dengan Usamah bin Zaid seorang      keturunan Budak&lt;a style="" href="#_ftn42" name="_ftnref42" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pernikahan      antara kedua puteri Rasulullah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Ruqayyah dan Ummu      Kultsum dengan Utsman ibn ‘Affan&lt;a style="" href="#_ftn43" name="_ftnref43" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ali      &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; menikahkan puterinya      Ummu Kultsum(puteri dari Fatimah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;) dengan Umar ibn      al-Khatthab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;a style="" href="#_ftn44" name="_ftnref44" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.      &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Abdurrahman      ibn ‘Auf menikahkan saudara perempuannya dengan sahabat Bilal al-Habasyi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;      sebagaimana disebutkan dalam Za&gt;d al-Ma’a&gt;d&lt;a style="" href="#_ftn45" name="_ftnref45" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Abu      Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabii’ah al-Qursiyyi(salah satu sahabat Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; yang ikut perang Badar)      menikahkan Salim(salah seorang mantan budak wanita Anshar) dengan anak      perempuan saudaranya Hindun binti al-Waliid binti al-‘Utbah ibn Rabii’ah      al-Quraisy, sebagaimana dikisahkan dalam shahih al-Bukhari&lt;a style="" href="#_ftn46" name="_ftnref46" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam      sunan al-Tirmidzi disebutkan dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; bahwasanya beliau      bersabda : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;ثَلَاثَ مَرَّاتٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;(&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Jika datang kepada kalian seorang laki-laki(datang melamar) yang kalian ridha akan agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia. Dan seandainya hal ini tidak kalian lakukan, niscaya akan ada fitnah dan kerusakan di muka bumi ini. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah ! Walaupun dengan apa(kekurangan, pent) yang dimiliki oleh laki-laki tersebut?”. Dan dijawab oleh beliau &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:” Jika datang kepada kalian seorang laki-laki(datang melamar) yang kalian ridha akan agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia”(dan diulangi oleh beliau hingga tiga kali)&lt;a style="" href="#_ftn47" name="_ftnref47" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ditutup oleh Syaikh Ahmad tentang kisah-kisah yang beliau contohkan bahwa inilah suri tauladan yang pernah dan telah dilakukan oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; beserta para sahabat beliau yang mulia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;. Kemudian beliau menukil tiga buah ayat al-Quran sebagai bahan renungan bagi orang-orang yang cinta kepada Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; dan berkeinginan untuk mengikuti tauladan yang dibawa olehnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn48" name="_ftnref48" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn49" name="_ftnref49" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn50" name="_ftnref50" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;VII. Kesimpulan penulis dalam masalah keabsahan pernikahan yang tidak sekufu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah      merupakan salah satu standarisasi dalam kriteria memilih pasangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Hal ini telah jelas dan disampaikan oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; dalam salah satu riwayat yang berbunyi : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Seorang wanita dinikahi karena empat faktor : karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama niscaya engkau akan beruntung”&lt;a style="" href="#_ftn51" name="_ftnref51" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sehingga dari keterangan riwayat di atas Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; menganjurkan untuk memilih wanita yang memiliki empat kriteria sebagai jodoh atau calon isteri. Akan tetapi pada kalimat terakhir ada sebuah anjuran dari beliau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; untuk mendahulukan memilih wanita yang memiliki kelebihan dalam masalah pemahaman agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Islam      telah menetapkan masalah kafaah tersebut&lt;a style="" href="#_ftn52" name="_ftnref52" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam sekian banyak kitab fiqih yang ditulis oleh para ulama dapat kita jumpai akan pembahasan masalah kafaah yang dijadikan sebagai salah satu syarat keabsahan sebuah pernikahan. Walaupun dalam hal ini banyak terjadi ikhtilaf. Diantara beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kafaah adalah : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; yang berkaitan dengan &lt;b&gt;agama&lt;/b&gt;       &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Masalah agama sebagai tolok ukur kafaah telah disepakati secara ijma’ oleh kaum muslimin. Para imam-pun sepakat meletakkan standarisasi kafaah dalam masalah agama sebagai yang paling utama. Sebagaimana ucapan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pilihlah wanita yang memiliki agama niscaya engkau akan beruntung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; yang berkaitan dengan &lt;b&gt;nasab atau keturunan&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Diantara para ulama pembahasan masalah kafaah yang berkaitan dengan masalah nasab terjadi banyak perselisihan, apakah merupakan salah satu faktor mutlak yang harus dipenuhi terhadap keabsahan sebuah pernikahan ataukah tidak. Dalil yang digunakan diantaranya adalah sabda Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; yang berbunyi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;aku dipilih dari Bani Hasyim &lt;a style="" href="#_ftn53" name="_ftnref53" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Akan tetapi ada beberapa dalil lain yang menghapuskan keberadaan kafaah nasab ini sebagaimana tercantum pada kisah-kisah yang dinukil oleh Syaikh Ahmad al-Surkati. &lt;a style="" href="#_ftn54" name="_ftnref54" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[54]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Demikian pula terdapat beberapa nukilan dari para imam dan ulama madzhab yang membahas tentang kafaah nasab, kami nukilkan diantaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kalangan Hanafiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dikatakan oleh Abu Hanifah, demikian pula oleh Abu Yusuf dengan redaksi : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;"لأَن التفاخر بالدين أحق من التفاخر بالنسب والحرية والمال.... "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Dikarenakan kebanggaan di dalam masalah agama adalah lebih berhak dan layak apabila dibandingkan dengan &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 18pt; line-height: 150%;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;kebanggaan dalam nasab(keturunan), dan kemerdekaan, dan harta…”&lt;a style="" href="#_ftn55" name="_ftnref55" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;ibnu Humam menjelaskan bahwasanya kedua pendapat beliau di atas adalah &lt;i&gt;shahih&lt;a style="" href="#_ftn56" name="_ftnref56" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kalangan Malikiyyah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dikatakan oleh Ahmad al-Dirdi&gt;r, penulis Syarhu al-Kabi&gt;r “ Kafaah adalah pada agama….”&lt;a style="" href="#_ftn57" name="_ftnref57" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[57]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kalangan Syafi’iyyah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Al-Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i menjelaskan: “Tidaklah haram sebuah pernikahan yang dilaksanakan oleh orang yang tidak se&lt;i&gt;kufu’&lt;/i&gt;, karena seandainya si wanita ridha akan keadaan mempelai pria, demikian pula sang wali maka hal itu(kafa’ah) tidaklah menjadi masalah”&lt;a style="" href="#_ftn58" name="_ftnref58" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[58]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Abu Is}h}a&gt;q Ibra&gt;hi&gt;m ibn ‘Ali&gt; al-Syi&gt;ra&gt;zi mengatakan : “Kafaah adalah dalam masalah agama, nasab(keturunan), kemerdekaan, ……, akan tetapi pertimbangan dalam masalah agama adalah yang lebih utama”&lt;a style="" href="#_ftn59" name="_ftnref59" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[59]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kalangan Hanabilah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ibn Qudamah menjelaskan ucapan al-Khiraqi: “Banyak diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal tentang syarat kafaah, dikatakan ada dua yaitu agama dan keturunan, kemudian ada pula yang meriwayatkan lima, dua yang tadi, kemudian kemerdekaan, keahlian/profesionalisme, dan kemudahan dalam harta(kekayaan).&lt;i&gt;”.&lt;a style="" href="#_ftn60" name="_ftnref60" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[60]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dari kesemuanya yang benar adalah bahwasanya kafaah ada dalam masalah agama dan yang mendukung keabsahan sebuah pernikahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;dalam masalah &lt;b&gt;harta kekayaan&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Demikian pula terhadap masalah ini terjadi ikhtilaf diantara ulama, dalil yang digunakan dalam hal ini adalah salah satu ucapan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; kepada Fatimah binti Qays tentang Mu'awiyyah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;"Sedangkan Mu'awiyyah adalah seorang yang faqir dan tidak memiliki harta.." &lt;a style="" href="#_ftn61" name="_ftnref61" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[61]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Dan dalil ini juga dibatalkan oleh salah satu ayat :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn62" name="_ftnref62" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[62]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;yang berkaitan dengan masalah &lt;b&gt;profesi/keahlian&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; yang berkaitan dengan &lt;b&gt;kekayaan&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="#_ftn63" name="_ftnref63" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[63]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kafaah      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;nasab bukan merupakan syarat keabsahan      sebuah pernikahan dalam agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Telah jelas dalam keterangan di atas tadi bahwasanya keberadaan nasab atau keturunan bukanlah tolok ukur/standarisasi keabsahan sebuah pernikahan. Keberadaan agama/al-Di&gt;n dan amal shalih adalah penentu utama dalam syariat Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Daftar Pustaka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;‘Abdi al-Jabba&gt;r, ‘Umar , &lt;i&gt;Siyar wa Tara&gt;ji&gt;m Ba’d} ‘Ulama&gt;’ina&gt; fi&gt; al-Qarni al-Ra&gt;bi’ ‘Ashar li al-Hijrah&lt;/i&gt;, Cet. II (Makkah : Mu’assasah Makkah li al-T{iba&gt;’ah wa al-I’la&gt;m, 1385 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Abu&gt; Shauky, Ah}mad Ibra&gt;hi&gt;m, &lt;i&gt;Ta&gt;ri&gt;kh Harakat al-Is}lah} wa al-Irsha&gt;d&lt;/i&gt;, (Kuala Lumpur: Akademi Islam, University Malaya, 2000 M)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Affandi, Bisri, &lt;i&gt;Syaikh Ahmad Surkati Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia&lt;/i&gt;.(Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1999)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dah}la&gt;n, ‘Abdulla&gt;h ibn Muhammad S{adaqah Zayni: &lt;i&gt;Irsa&gt;l al-Shiha&gt;b ‘ala S{u&gt;rat al-Jawa&gt;b&lt;/i&gt;:(Surabaya, Setia Usaha, tt).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Dirdi&gt;r, Abu al-Baraka&gt;t Si&gt;di&gt; Ah}mad, &lt;i&gt;Syarh} al-Kabi&gt;r, &lt;/i&gt;(t.p: Da&gt;r al-Ihya&gt;’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.t)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Dhahaby, Shams al-Di&gt;n Muhammad, &lt;i&gt;Siyar a'la&gt;m al-Nubala&gt;’ :&lt;/i&gt;(Beirut: Mu’assasah al-Risa&gt;lah, 1414)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Jawziyyah, ibn Qayyim, &lt;i&gt;Za&gt;d al-Ma’a&gt;d,&lt;/i&gt;(Beirut: Mu’assasah al-Risa&gt;lah, 1421)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ibn Kathi&gt;r, &lt;i&gt;Tafsi&gt;r al-Qur’a&gt;n al-‘Az}i&gt;m, Vol. II, &lt;/i&gt;tafsir surat al-Ahzab : 33&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Ka&gt;sa&gt;ni&gt;, ‘Alla’u al-Di&gt;n Abi&gt; Bakr ibn Mas’u&gt;d, &lt;i&gt;Bada&gt;’i'u al-S{ana&gt;’i' fi&gt; Tarti&gt;b al-Shara&gt;’i' &lt;/i&gt;, (Beirut: Da&gt;r al-Kutub al-‘Arabi, 1410 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;ibn Mahfoed, Ahmad, &lt;i&gt;Menjelang 60 tahun berdirinya Yayasan Perguruan al-Irsyad.&lt;/i&gt;(Surabaya :Yayasan Perguruan al-Irsyad Surabaya. 1981)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Maqdisi&gt;, Ibn Quda&gt;mah, &lt;i&gt;al-Mughni&gt;, &lt;/i&gt;tah}qi&gt;q : ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Muhsin al-Turky(Kairo: Hajru li&gt; al-T{iba&gt;’ah wa al-Nashr, 1406&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Murghi&gt;na&gt;ni&gt;, Burhan al-Di&gt;n ‘Ali&gt; ibn Abi&gt; Bakr, &lt;i&gt;al-Hida&gt;yat Sharh}u Bida&gt;yat al-Mubtadi&gt;, &lt;/i&gt;yang di cetak bersama&lt;i&gt; Sharah}&lt;/i&gt;nya &lt;i&gt;Fath} al-Qadi&gt;r &lt;/i&gt;oleh Ibn Huma&gt;m(Kairo : al-Maktabah al-Tija&gt;riyah al-Kubra&gt;, 1401 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Na&gt;ji&gt;, ‘Umar Sulaima&gt;n: Ta&gt;ri&gt;kh Thawrat al-Is}la&gt;h} wa al-Irsha&gt;d,(t.l: t.p,t.t)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Ruhayli, Ibra&gt;hi&gt;m, &lt;i&gt;Mawqif Ahl al-Sunnah wa al-Jama&gt;’ah min Ahl al-Ahwa&gt;’ wa al-Bida’&lt;/i&gt; (Madinah : Maktabah al-‘Ulu&gt;m wa al-H{ikam, 1422 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Sha&gt;fi’i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Muh}ammad ibn Idri&gt;s, &lt;i&gt;al-Umm, &lt;/i&gt;(Beirut : Da&gt;r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1413 H )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Shi&gt;ra&gt;zi&gt;, Abu Is}haq Ibra&gt;hi&gt;m ibn ‘Ali&gt;, &lt;i&gt;al-Muhadhdhab fi&gt; Fiqh al-Ima&gt;m al-Sha&gt;fi’i&gt;. &lt;/i&gt;(Kairo: Mus}t}ofa al-Ba&gt;bi&gt; al-H}alibi&gt;, tt)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Surkati, Ahmad Muhammad, &lt;i&gt;S{u&gt;rat al-Jawa&gt;b&lt;/i&gt; : (t.l : t.p, t.t)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Zarkaly, Khair al-Di&gt;n, &lt;i&gt;al-A’la&gt;m: Qa&gt;mu&gt;s Tara&gt;jim li ashhuri al-Rija&gt;l wa al-Nisa&gt;’ &lt;/i&gt;, &lt;i&gt;min al-‘Arab wa al-Musta’ribi&gt;n wa al-Mustasyriqi&gt;n.&lt;/i&gt;,(Beirut : Da&gt;r al-‘Ilmi li al-Mala&gt;yin, 1986 M)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;S{ahi&gt;h al-Bukha&gt;ri&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;(Riyad} : Da&gt;r al-Sala&gt;m, 1418 H) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;S{ahi&gt;h Muslim&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; (Riyad} : Da&gt;r al-Sala&gt;m, 1419 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sunan al-Tirmidhi&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;(Riyad} : Da&gt;r al-Sala&gt;m, 1420 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sunan al-Tirmidhi&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;(Riyad} : Maktabah al-Ma’a&gt;rif, tt) cet. I.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sunan al-Nasa&gt;’i &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;(Riyad} : Da&gt;r al-Sala&gt;m, 1420 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Musnad Ahmad &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;(Riyad} : Bayt al-‘Afka&gt;r li al-Nashr wa al-Tawzi&gt;’, 1419 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Urqu adalah sebuah jazirah besar dekat sungai Nil, yang terletak disebelah Selatan kota Dongala. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad Ibra&gt;hi&gt;m Abu&gt; Shauky&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ta&gt;ri&gt;kh H{arakat al-Is}lah} wa al-Irsha&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, (Kuala Lumpur: Akademi Islam, University Malaya, 2000 M). 26&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad Ibra&gt;hi&gt;m Abu&gt; Shauky&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ta&gt;ri&gt;kh H{arakat…..&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;27&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; kejadian ini bertempat di masjid al-Qaulid yang pada saat itu adalah salah satu ma’had al-Quran terbesar dikawasan daerah Dongula Sudan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad Ibra&gt;hi&gt;m Abu&gt; Shauky&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ta&gt;ri&gt;kh H{arakat…..&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.). 28. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Beliau adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Fa&gt;lih} ibn Muh}ammad ibn ‘Abdilla&gt;h ibn Fa&gt;lih} al-Z{a&gt;hiri&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; w. 1328 H), seorang ahli hadits dan &lt;i&gt;faqih &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang belajar dari ulama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-H{aramain&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; dan Kairo. Lihat dalam ‘Umar ‘Abdi al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Jabba&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;r , &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Siyar wa Tara&gt;ji&gt;m Ba’d} ‘Ulama&gt;’ina&gt; fi&gt; al-Qarni al-Ra&gt;bi’&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; ‘Ashar li al-Hijrah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, Cet. II (Makkah : Mu’assasah Makkah li &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-T{iba&gt;’ah wa al-I’la&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, 1385 H). 330. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Beliau adalah ‘Umar ibn &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;H{amda&gt;n al-Maghribi&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; (w. 1949 M) seorang faqih dan ahli hadits. Lahir di Tunisia dan belajar dari beberapa ulama Madinah, Makkah, Tunisia, Persia, Damaskus, dan Hadramaut. Lihat ‘Umar ‘Abdi al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Jabba&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;r, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Siyar wa….&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, hal. 330-334&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Seorang Faqih yang berasal dari Sudan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad Ibra&gt;hi&gt;m Abu&gt; Shauky&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ta&gt;ri&gt;kh H{arakat…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.). 34&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Sampai sekarang belum ditemukan keterangan tentang pribadi beliau dalam beberapa daftar pustaka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; ibn &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Isma&gt;’i&gt;l ibn Zaynu al-‘A&lt;bidi&gt;n al-Barzanji al-Madi&gt;ni&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(w. 1919 M), seorang ahli sastra dan bahasa Arab yang berasal dari kota Madinah. Belajar dari berbagai ulama kota Madinah dan Kairo, salah seorang pengajar di masjid Nabawi, kemudian pindah ke kota Damaskus pada waktu perang Dunia I hingga beliau wafat. Lihat dalam Khair al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Di&gt;n al-Zarkaly, &lt;i&gt;al-A’la&gt;m: Qa&gt;mu&gt;s Tara&gt;jim li ashhuri al-Rija&gt;l wa al-Nisa&gt;’ &lt;/i&gt;, &lt;i&gt;min al-‘Arab wa al-Musta’ribi&gt;n wa al-Mustasyriqi&gt;n.&lt;/i&gt;,(Beirut : Da&gt;r al-‘Ilmi li al-Mala&gt;yin, 1986 M), Vol. I&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; . 99 &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;S{alah} ‘Abd al-Qa&gt;dir al-Bakir al-Yafi&gt;’i&gt;. Ta&gt;ri&gt;kh H{adramaut al-Siya&gt;si, II, Mus}t}afa al-Ba&gt;bi&gt; al-H{alaby, Kairo&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; 1932, lihat pula dalam Bisri Affandi, &lt;i&gt;Syaikh Ahmad Surkati Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia&lt;/i&gt;.(Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1999). 9 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Demikian menurut penuturan Sati Muhammad Surkati dalam ‘Umar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sulaima&gt;n Na&gt;ji&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ta&gt;ri&gt;kh Thawrat al-Is}la&gt;h} wa al-Irsha&gt;d,(t.l: t.p,t.t) cet&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; I, hal. 31.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Golongan Ba Alwi atau Alawi atau Sayyid atau Sharif yaitu orang-orang yang menganggap dirinya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, yang berasal dari keturunan sayyid Bashrah, Ahmad Muhajir, yaitu cucu ketujuh dari cucu Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; yang bernama Husain. Lihat Bisri Affandi, (Syaikh Ahmad Surkati…). 63. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad Ibra&gt;hi&gt;m Abu&gt; Shauky&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ta&gt;ri&gt;kh H{arakat…..&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;209-220&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Kelebihan atau keutamaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;‘Abdulla&gt;h ibn Muhammad S{adaqah Zayni Dah}la&gt;n: &lt;i&gt;Irsa&gt;l al-Shiha&gt;b ‘ala S{u&gt;rat al-Jawa&gt;b&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;:(Surabaya, Setia Usaha, tt). 7-8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Baqarah : 253&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Nisa : 34&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Ahzab : 30&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Ahzab : 31&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Ahzab : 32&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Ahzab : 33&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.R. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tirmid}i&gt; dalam kitab Tafsi&gt;r al-Qura&gt;n, no&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. 3129, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ah}mad&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; dalam al-Musnad, kitab Musnad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Sha&gt;miyi&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, no. 16374&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.S.R. Muslim, kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Fad}a'il al-S{ah}a&gt;bah no. 4425, dan Ahmad dalam kitab Musnad al-Ku&gt;fiyi&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 18474&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.R. al-Tirmidhi dalam kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mana&gt;qib&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 3720&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Wanita dari keturunan Ba Alwi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Jawaban ini kemudian di kenal dengan istilah “Fatwa Solo”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn26"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Ahmad ibn Mahfoed, &lt;i&gt;Menjelang 60 tahun berdirinya Yayasan Perguruan al-Irsyad.&lt;/i&gt;(Surabaya :Yayasan Perguruan al-Irsyad Surabaya. 1981), 18-19&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn27"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Q.S. ali Imran : 187&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn28"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref28" name="_ftn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Q.S. al-Baqarah : 159-160&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn29"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref29" name="_ftn29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Q.S. al-Nisa : 59&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn30"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref30" name="_ftn30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Q.S. al-Syura : 10&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn31"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref31" name="_ftn31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Q.S. al-Hasyr : 7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn32"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref32" name="_ftn32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Q.S. ali Imran : 31&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn33"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref33" name="_ftn33" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Q.S. al-Hujurat : 13&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn34"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref34" name="_ftn34" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Tirmidhi dalam kitab al-Qira’at no. 2869, Abu Daud dalam kitab al-‘Ilmu no. 3158,ibn Majah dalam Muqaddimah no. 221, Ahmad dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ba&gt;qi&gt; Musnad al-Mukthiri&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; no. 7118, dan Darimi dalam Muqaddimah no. 348,359.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn35"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref35" name="_ftn35" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.R. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ahmad dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Musnad Shamiyi&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;, hadits no. 16675&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn36"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref36" name="_ftn36" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; ibid , &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;no. 16803&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn37"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref37" name="_ftn37" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Ahmad dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ba&gt;qy&gt; Musnad al-Ans}a&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, no. 22391&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn38"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref38" name="_ftn38" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; bahwa agama Islam membenarkan akan pemahaman ini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn39"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref39" name="_ftn39" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Bukhari kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-S{ulh} no.2499&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Muslim dalam kitab al-Aqd}iyyah&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 3242&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn40"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref40" name="_ftn40" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Ibn &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kathi&gt;r, &lt;i&gt;Tafsi&gt;r al-Qur’a&gt;n al-‘Az}i&gt;m&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, Vol. II, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;tafsir surat al-Ahzab : 33&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn41"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref41" name="_ftn41" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Shams &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Di&gt;n Muhammad al-Dhahaby, &lt;i&gt;Siyar a'la&gt;m al-Nubala&gt;’&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(Beirut: Mu’assasah al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Risa&gt;lah&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, 1414)II, 276-277&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn42"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref42" name="_ftn42" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.S.R. Muslim, dalam kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-T}ala&gt;q&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 1480 (3697)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn43"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref43" name="_ftn43" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Shams &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Di&gt;n Muhammad al-Dhahaby, &lt;i&gt;Siyar a'la&gt;m…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, II. 250-252&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn44"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref44" name="_ftn44" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Shams &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Di&gt;n Muhammad al-Dhahaby, &lt;i&gt;Siyar a'la&gt;m…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, III, 500&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn45"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref45" name="_ftn45" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; ibn Qayyim al-Jawziyyah, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Za&gt;d al-Ma’a&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(Beirut: Mu’assasah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Risa&gt;lah&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, 1421) V,145&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn46"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref46" name="_ftn46" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.S.R. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Bukha&gt;ri&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 5088. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn47"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref47" name="_ftn47" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.R. al-Tirmidhi dalam dalam sunan beliau, hadits no. 1085, dengan derajat &lt;i&gt;hasan&lt;/i&gt; sebagaimana dijelaskan oleh al-Albany dalam Sunan Tirmidhi(Riyadh : Maktabah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Ma’a&gt;rif&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, tt) cet. I. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn48"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref48" name="_ftn48" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Nisa : 115&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn49"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref49" name="_ftn49" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. ali Imran : 85&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn50"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref50" name="_ftn50" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Maa’idah : 45&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn51"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref51" name="_ftn51" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.S.R. al-Bukhari dalam kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Nika&gt;h} no. 4700, Muslim dalam kitab al-Rid}a&gt;’&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 2661 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn52"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref52" name="_ftn52" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Dapat dirujuk lebih terperinci dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Must}ofa&gt; al-'Adawy&gt;,&lt;i&gt;Ja&gt;mi' Ah}ka&gt;m al-Nisa&gt;' &lt;/i&gt;(Kairo : Da&gt;r ibn 'Affa&gt;n, 1419 H) vol. III, 255-290&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn53"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref53" name="_ftn53" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.S.R. Muslim dalam kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Fad}a'il&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; no. 4221, dan Tirmidhi dalam kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mana&gt;qib&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; 3605&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn54"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref54" name="_ftn54" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[54]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Lihat pada contoh-contoh kisah pada halaman 13-14&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn55"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref55" name="_ftn55" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;‘Alla’u al-Di&gt;n Abi&gt; Bakr ibn Mas’u&gt;d al-Ka&gt;sa&gt;ni&gt;(587H), &lt;i&gt;Bada&gt;’i'u al-S{ana&gt;’i' fi&gt; Tarti&gt;b al-Shara&gt;’i' &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, (Beirut: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Da&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; al-Kutub al-‘Arabi, 1410 H), II. 320&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn56"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref56" name="_ftn56" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Burhan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Di&gt;n ‘Ali&gt; ibn Abi&gt; Bakr al-Murghi&gt;na&gt;ni&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Hida&gt;yat Sharh}u Bida&gt;yat al-Mubtadi&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;yang di cetak bersama&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sharah}&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;nya &lt;i&gt;Fath} al-Qadi&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;oleh Ibn &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Huma&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(Kairo : al-Maktabah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Tija&gt;riyah al-Kubra&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; 1401 H), II. 422&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn57"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref57" name="_ftn57" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[57]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Abu al-Baraka&gt;t Si&gt;di&gt; Ah}mad al-Dirdi&gt;r, &lt;i&gt;Syarh} al-Kabi&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(t.p: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Da&gt;r al-Ihya&gt;’&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.t) II, 249&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn58"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref58" name="_ftn58" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[58]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Muh}ammad ibn Idri&gt;s al-Sha&gt;fi’i&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; , &lt;i&gt;al-Umm, &lt;/i&gt;(Beirut : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Da&gt;r al&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1413 H )V.29&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn59"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref59" name="_ftn59" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[59]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Abu Is}haq Ibra&gt;hi&gt;m ibn ‘Ali&gt; al-Shi&gt;ra&gt;zi&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;i&gt;al-Muhadhdhab &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;fi&gt; Fiqh al-Ima&gt;m al-Sha&gt;fi’i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kairo: Mus}t}ofa al-Ba&gt;bi&gt; al-H}alibi&gt;, tt&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;) Vol. II. 50, lihat pula &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ibra&gt;hi&gt;m al-Ruhayli, &lt;i&gt;Mawqif Ahl al-Sunnah wa al-Jama&gt;’ah min Ahl al-Ahwa&gt;’ wa al-Bida’&lt;/i&gt; (Madinah : Maktabah al-‘Ulu&gt;m wa al-H{ikam, 1422&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H), Vol. I. 374&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn60"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref60" name="_ftn60" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[60]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ibn Quda&gt;mah al-Maqdisi&gt;, &lt;i&gt;al-Mughni&gt;, &lt;/i&gt;tah}qi&gt;q : ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Muhsin al-Turky(Kairo: Hajru li&gt; al-T{iba&gt;’ah wa al-Nashr&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, 1406&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;H)cet. 1, IX.391&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn61"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref61" name="_ftn61" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[61]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; H.S.R Muslim dalam kitab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-T}ala&gt;q&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; , no. 1480 (3697)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn62"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref62" name="_ftn62" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[62]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Q.S. al-Nuur : 32&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn63"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref63" name="_ftn63" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="EN-US"&gt;[63]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Dan yang lainnya, lihat lebih lanjut pada rujukan footnote no. 4 pada halaman 13&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-5762061934694732730?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/5762061934694732730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/10/blog-post_09.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/5762061934694732730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/5762061934694732730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/10/blog-post_09.html' title='صورة الجواب للشيخ أحمد السركتي الأنصاري السلفي'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-7159535506402743841</id><published>2009-10-09T07:59:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T08:08:30.866-07:00</updated><title type='text'>الحديث الحسن</title><content type='html'>Problematika Hadits Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengertian bahasa dan perkembangan istilah hadits hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan hadits hasan memiliki kedudukan dan keutamaan yang khusus. Hal ini disebabkan keberadaan riwayat hadits hasan menjadi sebuah bahan perbincangan dan perselisihan di kalangan ulama. Terlebih dalam kedudukan hukum terhadap hadits hasan disisi syariat Islam. Yang jelas dalam hal ini keberadaan pembahasan tertuju kepada hakikat makna yang dikandung di dalam hadits hasan itu sendiri, mereka membagi secara garis besar menjad dua bagian, h}asan li dza&gt;tih, dan h}asan li ghayrih.&lt;br /&gt;Hadits hasan secara etimologi berasal dari kata sifat musyabahah dari الحُسْنُ-  -al-h}usnu yang  memiliki makna – الجَمَالُ – al-jama&gt;l (indah/bagus) .&lt;br /&gt;Sedangkan secara is}tilah}y memiliki sekian banyak definisi, diantara ulama yang memberikan definisi :&lt;br /&gt;Al-Khat}t}a&gt;by&gt; mengatakan : sebuah hadits hasan adalah riwayat yang dikeluarkan oleh orang-orang yang dikenal, terkenal periwayatnya, dan banyak jumlah riwayatnya, yang diterima oleh mayoritas ulama, dan dipakai/digunakan oleh mayoritas fuqaha’.&lt;br /&gt;Al-Tirmidhi&gt; mengatakan : dinamakan sebuah hadits hasan apabila hadits tersebut ketika diriwayatkan tidak terdapat didalam isnadnya orang-orang yang tertuduh pendusta, tidak pula ada keganjilan dalam redaksi riwayat tersebut, ada banyak periwayatan dari hadits yang lainnya, maka inilah yang kami anggap dan kami namakan sebagai hadits hasan.&lt;br /&gt;Ibn Hajar mengatakan : Sebuah kabar/berita yang a&gt;h}a&gt;d,  dinukil dari periwayat yang memiliki kredibilitas hafalan yang kuat, sanad yang bersambung, tanpa ada didalam riwayat tersebut cacat atau kejanggalan maka kami sebut riwayat tersebut dengan nama shah}i&gt;h li dza&gt;tih. Akan tetapi apabila periwayat memiliki kekurangan dalam masalalah hafalan, maka riwayat tersebut berderajat h}asan li dza&gt;tih.&lt;br /&gt;Dikatakan oleh Mahmud al-Tahhan bahwa sekilas dari definisi yang diberikan oleh ibn Hajar terkesan bahwa hadits hasan adalah sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh beberapa periwayat yang kurang akan kekuatan hafalannya. Sehingga kalau diambil berbagai pendapat yang mendefinisikan hadits hasan dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwasanya ia (hadits hasan) adalah : “Sebuah hadits ahad yang diriwayatkan secara muttashil(bersambung) dari berbagai periwayat yang adil, akan tetapi memiliki kekurangan /kurang kuat hafalan yang dimiliki oleh rawi tersebut, yang menukil riwayat dari orang-orang yang semisal dengannya hingga berakhirnya sanad, tanpa adanya ‘illat/cacat dan keganjilan/ syadz”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Perkembangan Terma hadits hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Mushthafa al-Sibai menjelaskan bahwa para ulama pada awal abad pertama hingga kedua Hijriyah tidak pernah mencetuskan terma hasan. Keberadaan terma ini baru muncul awal mula pada zaman masa Imam Ahmad dan al-Bukhari- rahimahumaLlahu-, dan booming keberadaannya pada masa setelah mereka berdua.  Al-Imam al-Mubarakfury menyatakan dengan menukil analisa dari al-Imam ibn Hajar, Ali ibn al-Madini –guru dari Imam al-Bukhari- telah banyak mempergunakan terma hasan dalam musnad dan ‘Ilal miliknya. Sehingga ada asumsi bahwa Ali al-Madini-lah orang yang pertama kali mempergunakan terma hasan dalam ilmu hadits. Yang kemudian dari beliau ini al-Imam al-Bukhari, al-Imam Ya’qub ibn Shibawayh, dan Imam-imam yang lain menirunya. Serta dari al-Imam al-Bukhari pula-lah al-Imam al-Tirmidhi mengenal terma ini. Kemudian pada tahap yang berikutnya imam al-Tirmidhi yang lebih mendominan dalam mempergunakan terma hasan dalam memberikan definisi yang lebih riil lagi.&lt;br /&gt;Al-Imam Syaikh al-Islam ibn Taimiyyah mengatakan bahwa ulama-ulama sebelum Imam Tirmidhi tidak mengenal pembagian kualitas derajat hadits menjadi tiga, mereka hanya membagi menjadi dua, yaitu shahih dan dhaif. Yang oleh mereka pula dhaif ini dibagi menjadi dua: Dhaif yang boleh diamalkan  dan dhaif yang wajib untuk ditinggalkan.&lt;br /&gt;Muhammad ‘Ajjaj al-Khati&gt;b mengatakan sebenarnya terma h}asan telah banyak dipergunakan oleh para guru Imam al-Tirmidhi. Hanya saja kadarnya tidak banyak. Sehingga pada zaman Imam al-Tirmidhi pemakaian terma h}asan ini semakin banyak dan mewarnai dalam karya emas beliau al-Ja&gt;mi’. Sehingga acap sekali bahwa karya emas Imam al-Tirmidhi ini diklaim sebagai As}l fi&gt; ma’rifah al-H{adi&gt;th al-H{asan(asal mula pengenalan terma hadits h}asan, pent.) .&lt;br /&gt;Di tempat lain al-Imam Jalal al-Din al-Suyuthi dalam Tadri&gt;b al-Ra&gt;wi&gt; menyatakan : “Kitab Jami’’ al-Tirmidhi adalah asal untuk mengetahui yang hasan. Beliaulah yang memasyhurkan dan sering menyebutkannya, meskipun sebagian ulama sebelumnya telah membicarakannya secara terpisah-pisah”. Menurut Hammam ‘Abd al-Rahim Sa’id apa yang dilakukan Imam Tirmidhi adalah manhaj jadid(metode baru) , dan andaikan beliau tidak melakukannya tentunya ada sekian banyak hadits Nabi  yang terbuang sia-sia.  Dan jelas manhaj yang ditempuhnya menempati peringkat kedua setelah Imam al-Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Tingkatan kredibilitas para periwayat hadits&lt;br /&gt;Tingkatan kredibilitas para periwayat hadits secara garis besar di bagi menjadi dua, yaitu al-Ta’dil(pujian) dan al-Jarh(celaan/kritikan).&lt;br /&gt;Dalam tingkatan al-Ta’dil(pujian), para periwayat hadits ini di bagi oleh para ulama dalam enam tingkatan, diantaranya :&lt;br /&gt;a. Yang mengandung sifat mubalaghah(menunjukkan makna sangat..) dalam menjelaskan kekuatan periwayatan (dalam wazan أَفْعَلَ ) misalnya: fula&gt;n athbatu al-Na&gt;s(fulan adalah orang yang paling tsiqah), atau ungkapan : “Pada diri orang ini adalah puncak kejujuran”.&lt;br /&gt;b. Ungkapan yang menunjukkan penguatan dengan digunakannya satu sifat atau dua sifat dalam menilai jatu diri seorang rawi, misalnya : tsiqah tsabat, tsiqah tsiqah.&lt;br /&gt;c. Ungkapan yang menggambarkan sifat dalam menunjukkan kekuatan hafalan rawi, misalnya : Tsiqah, atau h}ujjah.&lt;br /&gt;d. Ungkapan yang menunjukkan ta’dil akan tetapi tidak diiringi dengan sifat kekuatan hafalan yang dimiliki oleh rawi, misalnya, shaduq, mahalluhu al-shidq, la ba’sa bihi.&lt;br /&gt;e. Ungkapan yang tidak menunjukkan ta’dil atau jarh,misalnya : fulan Syaikh, atau manusia banyak yang meriwayatkan darinya.&lt;br /&gt;f. Ungkapan yang mendekati al-jarh, misalnya : Fulan shalih al-hadits, atau di tulis periwayatan darinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkatan al-Jarh(celaan), para periwayat hadits ini di bagi oleh para ulama dalam enam tingkatan pula, diantaranya :&lt;br /&gt;a. Ungkapan yang menunjukkan kelemahan periwayatan dari seorang rawi, misalnya : Fulan layyin al-hadits(fulan lemah hafalan haditsnya), atau fi&gt;hi maqa&gt;l(ada komentar tentang si rawi).&lt;br /&gt;b. Ungkapan yang menunjukkan larangan mengambil hujjah dari seorang rawi misalnya : Fulan tidak dibutuhkan periwayatannya, atau fulan lemah periwayatannya, atau dalam diri fulan banyak ditemukan kemungkaran periwayatan.&lt;br /&gt;c. Ungkapan yang menunjukkan larangan menulis riwayat dari rawi yang dibicarakan, misalnya : Fulan tidak di tulis periwayatannya, tidak halal mengambil riwayat darinya, sangat lemah.&lt;br /&gt;d. Para periwayat yang tertuduh berbuat dusta dalam periwayatan atau yang semisalnya, contoh : Fulan tertuduh berbuat dusta, dia(rawi) tertuduh memalsukan riwayat, pencuri hadits, matruk(ditinggalkan periwayatan darinya), tidak tsiqah.&lt;br /&gt;e. Ungkapan yang menunjukkan sifat dusta dari diri rawi, misalnya : Kadzab(pendusta), dajjal, pemalsu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;f. Ungkapan yang menunjukkan puncak kedustaan dan ini adalah tingkatan terburuk, misalnya : Fulan adalah manusia yang paling pendusta, dalam diri rawi ini ujung dan puncak segala kedustaan, atau ia(rawi) memiliki rukun dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Kategorisasi hadits hasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 1. Kategori hadits hasan li dzatih dan hasan li ghayrih&lt;br /&gt;a. Hasan li&gt; dza&gt;tih memiliki definisi “sebuah hadits ahad yang diriwayatkan secara muttashil(bersambung) dari berbagai periwayat yang adil, akan tetapi memiliki kekurangan /kurang kuat hafalan yang dimiliki oleh rawi tersebut, yang menukil riwayat dari orang-orang yang semisal dengannya hingga berakhirnya sanad, tanpa adanya ‘illat/cacat dan keganjilan/ syadz”.&lt;br /&gt;Salah satu contoh dari riwayat tersebut adalah riwayat Imam Ahmad dalam al-Musnad , dan beliau berkata:&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا يَحْيَىْ بْنُ سَعِيْد حَدَّثَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ&lt;br /&gt;Diberitakan kepada kami(Ahmad ibn Hanbal) dari Yahya ibn Sa’id yang diberitakan dari Bahzu ibn Hakim ibn Mu’awiyah dari ayahnya(Hakim ibn Mu’awiyyah) dari kakeknya(Mu’awiyyah) bahwasanya ia(Mu’awiyah) mengatakan : Aku bertanya kepada Rasulullah  : Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk (aku) berbuat baik kepadanya? Dijawab oleh beliau  : Ibumu, kemudian aku(Mu’awiyyah) bertanya lagi: Kemudian siapa ? Dijawab oleh beliau : Ibumu, dan aku bertanya untuk yang ketiga kali : kemudian siapa? Dan dijawab : Ibumu. Kemudian untuk yang keempat kali aku bertanya : Kemudian siapa ? Dan dijawab : Ayahmu, kemudian yang lebih dekat, dan yang lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kami gambarkan silsilah rawi secara skema adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;مُعَاوِيَةُ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَكِيمُ بْنِ مُعَاوِيَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَهْزُ بْنُ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَحْيَىْ بْنُ سَعِيْدٍ     يَزِيْدُ بْنِ هَارُوْنَ&lt;br /&gt;أَحْمَدُ بْنِ الْحَنْبَلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kita lihat pada riwayat di atas bahwa sanadnya bersambung(muttashil), tidak terdapat di dalam riwayat ini keganjalan ataupun cacat. Riwayat ini dinukil oleh Imam Ahmad dari Yahya ibn Sa’id, dua orang ini sangat dikenal sebagai Imam yang mulia dan terpandang. Bahzu ibn Hakim ibn Mu’awiyyah adalah dari kalangan ahl al-shidq(orang yang dipercaya) sehingga beliau ditsiqahkan oleh Ali al-Madini, Yahya ibn Ma’in, al-Imam al-Nasa’i serta beberapa Imam yang lainnya. Akan tetapi ada sebagian ulama yang menganggap adanya kesamaran dalam beberapa periwayatan darinya, sehingga dalam masalah ini sempat ada komentar dari Syu’bah ibn al-Hajjaj. Dan ini adalah salah satu sebab ia tidak dimasukkan  kalangan periwayat yang memiliki kekuatan dalam masalah hafalan. Akan tetapi Syu’bah menganggap ia(Bahzu) termasuk dari kalangan periwayat yang tidak begitu kuat hafalannya. Sedangkan ayahnya(Hakim ibn Mu’awiyah) ditsiqahkan oleh al-‘Ijliy dan ibn Hibban, al-Nasai mengatakan bahwa ia(Hakim) adalah tidak masalah periwayatannya(la ba’sa bihi). Sehingga diambil sebuah kesimpulan oleh para ulama’ bahwa hadits Bahzu di atas berderajat Hasan li dzatih atau bahkan peringkat tertinggi dari kalangan derajat hasan li ghayrih.&lt;br /&gt;Selain itu hadits di atas juga diriwayatkan dari jalan yang lain dari sahabat Abu Hurairah oleh Syaikhain(al-Bukhari dan Muslim) dengan redaksi yang hampir sama, dengan derajat hadits shahih.  Dari riwayat ini kemudian riwayat Bahzu di atas terangkat derajatnya menjadi shahih li ghayrih(shahih dengan sebab faktor eksternal).&lt;br /&gt;b. Hasan li ghayrih memiliki definisi bahwasanya riwayat ini adalah riwayat yang dha’if/lemah akan tetapi ada banyak jumlah periwayatan dari jalan yang lain, dan sebab lemahnya riwayat ini bukan karena sifat kefasikan rawi atau kedustaan rawi.&lt;br /&gt;Salah satu contoh hadits hasan li ghayrih adalah sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-Tirmidhi, beliau berkata :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ ابْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ&lt;br /&gt;Diberitakan kepada kami(Tirmidhi) dari Muhammad ibn Basysyar yang memberitakan dari Yahya ibn Sa’id dan Abdurrahman ibn Mahdiy dan Muhammad ibn Ja’far, mereka(tiga orang ini) mengatakan : Diberitakan kepada kami dari Syu’bah dari ‘Ashim ibn Ubaidillah ia mengatakan: Aku mendengar Abdullah ibn ‘Amir ibn Rabi’ah dari ayahnya bahwa ada seorang wanita dari Bani Fazarah yang menikah dengan mahar sepasang sandal. Kemudian Rasulullah  bertanya kepadanya : Apakah engkau ridha akan dirimu dan hartamu dengan mahar yang hanya sepasang sandal ini?. Dan dijawab oleh wanita tadi: Benar aku ridha, kemudian ia(Amir ibn Rabi’ah) mengatakan : Setelah Rasulullah mendengar jawaban wanita tersebut beliau  memperbolehkan keabsahan pernikahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skema sederhana dapat kita paparkan silsilah periwayatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَامِرُ بْنِ رَبِيْعَةَ بْنِ كَعْبٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَبْدُ اللَّهِ ابْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَاصِمُ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شُعْبَةُ بْنِ الْحَجَّاجِ بْنِ الوَرد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَحْْيَى بْنُ سَعِيدٍ  عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ  مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَحْمَدُ بْنِ الْحَنْبَل&lt;br /&gt;Muhammad ibn Basyar : beliau ditsiqahkan oleh al-‘Ijly, sedangkan Imam Nasai menyatakan bahwa beliau tidak ada masalah periwayatannya(la ba’sa bihi). Imam ibn Hibban mengatakan akan keotentikan periwayatan darinya.&lt;br /&gt;Yahya ibn Sa’id, Abdurrahman ibn Mahdiy, dan Muhammad ibn Ja’far : ketiga orang ini dinilai oleh sekian banyak Imam seperti Ali al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Waqi’, dan lain sebagainya sebagai orang-orang yang tsiqah.&lt;br /&gt;Syu’bah : Sufya&gt;n al-Thauri memberikan julukan Ami&gt;r al-Mukmini&gt;n fi&gt; al-h}adi&gt;th, Ahmad ibn Hanbal menyatakan tidak ada perselisihan antar umat tentangnya akan keshalihan riwayat darinya, Imam Abu Dawud menyatakan bahwa beliau tsiqah tsabat, demikian pula Muhammad ibn Sa’id.&lt;br /&gt;‘Ashim ibn Ubaidillah : Yahya ibn Ma’in melemahkan riwayatnya, demikian pula Imam al-Bukhari menyatakan akan kemunkaran riwayat darinya, dan Muhammad ibn Sa’d mengatakan bahwa riwayat darinya tidak dibutuhkan.&lt;br /&gt;Abdullah ibn ‘Amir ibn Rabi’ah :Abu Zur’ah al-Razy, al-‘Ijly,dan ibn Hibban mentsiqahkannya.&lt;br /&gt;Dari kesemua rawi di atas terlihat bahwa masalah utama pada hadits ini adalah pada seorang rawi yang bernama ‘Ashim ibn Ubaidillah, sekian banyak ulama rijal melemahkan riwayat darinya. Sehingga hadits ini berderajat dha’if(lemah). Akan tetapi riwayat yang semisal dengan hadits ini berjumlah banyak sehingga terangkat derajatnya menjadi hasan li ghayrih(hasan dengan sebab faktor eksternal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2. Perbedaan pokok dan contoh hadits hasan dan shahih&lt;br /&gt;Tidak ada perbedaan pokok yang terjadi antara hadits shahih dengan hadits hasan,  syarat yang dimiliki oleh hadits shahih yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. bersambungnya sanad(tidak ada sama sekali sanad yang terputus dari awal hingga akhir sanad)&lt;br /&gt;b. diriwayatkan oleh para perawi yang adil(kriteria adil : Muslim, baligh, berakal/tidak ‘kurang waras’, tidak fasiq, dan tidak melanggar norma-norma kesopanan dan santunan Islam)&lt;br /&gt;c. tidak ditemukan ‘illat(cacat/penyakit yang hinggap dalam sebuah riwayat)&lt;br /&gt;d. tidak syadzh(asal definisi syadz adalah sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqat, akan tetapi periwayatan tersebut menyelisihi periwayat lain yang lebih tsiqah darinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terkecuali pada poin berikutnya, dimana untuk dikatakan sebuah riwayat adalah shahih harus diriwayatkan oleh orang yang dhabith(memiliki kekuatan hafalan lisan ataupun tulisan). Apabila periwayat memiliki kekuatan hafalan yang ‘kurang dhabith’ alias tidak begitu kuat maka sebuah riwayat atau hadits akan berderajat hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang paling mudah (antara hadits shahih dan hasan) sebagaimana riwayat di atas yang akan kita jelaskan di dalam tabel di bawah ini  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصحيح(رواه البخاري ومسلم) الحسن(رواه أحمد في مسنده)&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي  قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ  فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ  حَدَّثَنَا يَحْيَىْ بْنُ سَعِيْد حَدَّثَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ  قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan, kedua riwayat di atas memiliki lafadz/redaksi yang hampir sama, masing-masing sanad keduanya muttashil, periwayatnya semua adalah adil(berdasarkan syarat-syarat adil yang telah disepakati oleh ahli hadits), tidak ditemukan ‘illat, dan syadz dalam kedua riwayat tersebut. Pada riwayat Imam Bukhari dan Muslim periwayatnya dari awal sanad hingga berakhirnya adalah tsiqat tanpa terkecuali. Demikian pada riwayat Imam Ahmad(seluruh rawi adalah tsiqat), terkecuali pada salah satu rawi yang bernama Bahzu ibn Hakim ibn Mu’awiyyah dimana banyak perbedaan penilian antar ulama yang mempertanyakan kredibilitas hafalan yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Kehujjahan hadits hasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehujjahan dari segi wurud (Maqbul - Mardud) dan dari segi dalalah )Qath’iy - Dzhanny).&lt;br /&gt;Kehujjahan hadits hasan di dalam Islam tidak lepas dari asal mula pembagian hadits dari segi jalan pengambilan periwayatannya. Dan dalam hal ini pembagian tersebut terbagi menjadi dua : Mutawatir dan Ahad.&lt;br /&gt;Mutawatir : yang memiliki definisi secara terminology adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak periwayat dari orang-orang yang semisalnya(tsiqah, terpercaya, credible),mulai dari tingkatan awal sanad hingga berakhirnya tingkatan sanad, yang sangat tidak dimungkinkan sejumlah periwayat tersebut sepakat di dalam kedustaan sebuah berita. Penukilan  riwayat mutawatir ini melalui perantara panca indera.&lt;br /&gt;Ahad : yang memiliki definisi secara terminology adalah hadits yang memiliki derajat tidak sampai pada syarat mutawatir atau dengan kata lain sebuah riwayat yang diriwayatkan dari seseorang, atau dua, atau lebih dari itu akan tetapi jumlah periwayatnya tidak sampai pada derajat jumlah periwayat mutawatir.&lt;br /&gt;Hadits Ahad terbagi menjadi dua macam dari segi dilalah, maqbul dan mardud . Keberadaan hadits Ahad dari segi penerimaannya(maqbul) secara garis besar di bagi menjadi dua macam yaitu Shahih dan Hasan, yang kemudian masing-masing dari dua bagian tersebut di bagi lagi menjadi dua macam li dzatih dan li ghayrih. Akan tetapi dalam hal ini terjadi sekian banyak perselisihan antara ulama muhaditsin dan ushuliyyin dalam mensikapi hadits/khabar ahad.&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat akan keberadaan khabar ahad ini, apakah dilalahnya mengandung ‘ilmu(yang dapat ditetapkan kepastiannya) ataukah al-Dzhan(tidak dapat ditentukan kepastiannya). Secara garis besar mereka(Muhadditsin dan Ushuliyyin) terbagi menjadi beberapa pendapat diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengandung ilmu secara yakin dan mutlak, baik didukung oleh qarinah(indikasi ) maupun tidak. Pendapat ini adalah sebagaimana yang diikuti oleh jumhur ahli hadits dan pengikut madzhab dzhahiry, seperti pendapat imam Ahmad ibn Hanbal. Berkata Ibn Qayyim al-Jawziyyah : “pendapat ini diperkuat pula oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan beberapa teman Abu Hanifah…”&lt;br /&gt;2. Yang menganggap bahwa khabar ahad adalah menunjukkan dzhan(prasangka belaka), tidak mengharuskan ilmu secara mutlak. Baik ditopang oleh beberapa indikasi atau tidak. Secara umum, pendapat ini adalah pendapat jumhur ushul dan diikuti sebagian ahli hadits seperti al-Nawawi.&lt;br /&gt;3. Khabar Ahad menunjukkan ilmu dengan yakin, apabila ditunjang oleh beberapa indikasi. Pendapat ini adalah pendapat penganut madzhab dan ahli ushul al-Fiqh yang didukung oleh Imam al-A&gt;midy dan al-Juwayniy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Beberapa istilah riwayat hasan  yang dipergunakan Imam al-Tirmidhi dalam al-Jami’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Imam al-Tirmidhi dalam Sunan beliau banyak mempergunakan beberapa istilah ketika menjelaskan kedudukan derajat yang dimiliki oleh sebuah riwayat. Dan terkadang beliau mempergunakannya sebagai penggabungan derajat hukum yang di kandung oleh sebuah riwayat, misalnya antara shahih dan hasan atau antara keduanya. Dapat kami ringkas beberapa istilah yang al-Tirmidhi gunakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;• Apabila Imam al-Tirmidhi mengatakan “Shahih gharib” terhadap sebuah riwayat maka istilah ini mengandung makna bahwa dalam riwayat tersebut berkumpul dua derajat hukum, yaitu shahih dan gharib(bersendiri periwayatannya). Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sebuah riwayat gharib bisa jadi berderajat shahih, hasan atau bahkan dha’if.&lt;br /&gt;• Apabila Imam al-Tirmidhi mengatakan “Hasan Shahih” terhadap sebuah riwayat maka istilah ini mengandung makna bahwa dalam riwayat tersebut memiliki sekian banyak jalur periwayatan. Keberadaan riwayat yang berderajat hasan yang diiringi dengan sekian banyak jalur periwayatan lain yang semakna atau semisalnya, sehingga mendukung kedudukan riwayat hasan tersebut menjadi shahih. Selain itu istilah ini dipergunakan Imam al-Tirmidhi untuk menjelaskan bahwa sebuah riwayat telah lepas dari derajat gharib.&lt;br /&gt;• Apabila Imam al-Tirmidhi mengatakan “Hasan gharib” terhadap sebuah riwayat maka istilah ini mengandung makna bahwa dalam riwayat tersebut terdapat sisi ke-gharib-an dari sisi matan dan sanad dan hanya diriwayatkan dari satu jalur saja. Istilah ini juga mewakili makna hasan li dzatih.&lt;br /&gt;• Apabila Imam al-Tirmidhi mengatakan “Hasan Shahih gharib” terhadap sebuah riwayat maka istilah ini mengandung makna bahwa dalam riwayat tersebut bisa jadi ada dua sisi pandang. Yang pertama sebuah riwayat yang memiliki ke-gharib-an dari sisi sanad saja, dan maksud yang di tuju adalah sebagaimana hasan shahih. Yang kedua sebuah riwayat yang memiliki ke-gharib-an dari sisi sanad dan matan, keberadaan riwayat yang seperti ini berada di antara derajat shahih dan hasan itu sendiri dan menjadi lahan khilaf di antara ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Perbedaan istilah hadits hasan di kalangan para ulama&lt;br /&gt;Ada sebagian diantara ulama muhaditsin yang mempergunakan beberapa terma selain shahih dan hasan dalam menjelaskan keberadaan hukum sebuah riwayat yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Seperti al-shalih, al-jayyid, al-qawiy, al-ma’ruf, al-mahfudz, al-mujawwad, dan al-tsabit.&lt;br /&gt;- al-Jayyid sebagaimana yang ditetapkan oleh ibn Hajar bahwasanya para muhaditsin dalam mengambil kehujjahan sebuah riwayat tidak membedakan antara derajat shahih dan al-jayyid. Yang jelas keberadaan terma jayyid adalah untuk menjelaskan kehujjahan sebuah riwayat yang memiliki status derajat di bawah shahih, demikian pula halnya dengan al-qawiy.&lt;br /&gt;- al-Shalih adalah sebuah terma riwayat yang mencakup makna shahih dan hasan, dengan sebab ke-shalih-an kedua derajat tersebut untuk diambil sebagai hujjah. Selain itu terma ini juga digunakan untuk riwayat yang memiliki derajat dha’if ringan, sehingga dapat di ambil ‘ibrah (tauladan) dari makna yang terkandung dalam sebuah riwayat tersebut.&lt;br /&gt;- al-Ma’ruf adalah derajat sebuah riwayat yang merupakan konotasi dari riwayat al-munkar , sedangkan al-Mahfudzh adalah konotasi dari al-Syadz .&lt;br /&gt;- al-Mujawwad dan al-Tsabit, kedua terma ini mencakup makna shahih dan hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Cara mengetahui sebuah riwayat adalah berderajat hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara untuk mengetahui keberadaan sebuah riwayat apakah berderajat shahih atau dha’if adalah tidak mudah. Demikian halnya dengan hadits hasan, perlu kejelian dan ketelitian dalam mengungkap keberadaan derajat yang dimiliki oleh sebuah riwayat.&lt;br /&gt; Sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa syarat keberadaan sebuah riwayat dinilai berderajat hasan adalah tidak terlepas dari lima syarat yang harus dipenuhi.  Yaitu sanad yang bersambung(ittishal), diriwayatkan oleh para rawi yang adil, terlepas dari ‘illat dan syadz, dan yang terakhir adalah para periwayatnya memiliki kekuatan hafalan yang ‘agak kurang’{{{{{{(kurang dhabith). Dan tentunya satu persatu dari kelima syarat tersebut haruslah di teliti terlebih dahulu, mulai dari masalah ittishal al-sanad, keadilan yang dimiliki oleh para rawi(dengan merujuk kepada referensi khusus yang membicarakan akan hal tersebut), tidak adanya ‘illat di dalam sanad atau matan, tidak adanya syadz terhadap beberapa riwayat lain yang lebih utama, dan harus mengetahui kredibilitas para rawi dari riwayat tersebut satu persatu(dengan merujuk referensi yang ditujukan ke sana). Setelah diteliti langkah-langkah tersebut di atas dengan teliti dan cermat barulah dapat diketahui derajat sebuah riwayat yang sedang diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Kitab yang memuat hadits hasan:&lt;br /&gt;Beberapa kitab hadits yang banyak memuat di dalamnya riwayat hasan diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1. al-Jami’ yang ditulis oleh al-Imam Abu ‘Isa Muhammad ibn ‘Isa al-Tirmidhi (w.279H), yang lebih dikenal karyanya tersebut dengan nama Sunan al-Tirmidhi.&lt;br /&gt;2. al-Sunan yang dihimpun oleh al-Imam abu Dawud  Sulaiman al-Si&gt;jista&gt;ni&gt;(w.202H), dikenal juga dengan nama Sunan abu Dawud&lt;br /&gt;3. al-Mujtaba&gt; yang dihimpun oleh Imam Abu Abdirrahman Ahmad al-Nasa’i(w.303H), yang dikenal karyanya dengan nama Sunan al-Nasai.&lt;br /&gt;4. Sunan al-Mus}t}afa&gt; milik ibn Majah Muhammad ibn Yazid(w.273H), dikenal dengan Sunan ibn Majah.&lt;br /&gt;5. al-Musnad, karya Imam Ahmad ibn Hanbal(w.241H).&lt;br /&gt;6. al-Musnad, karya dari Imam Abu Ya’la&gt; al-Mawshuly&gt; Ahmad ibn ‘Ali(w.307H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Khatimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan hadits hasan menjadi sebuah polemik baru yang terjadi di kalangan ahli hadits dan ushuliyyin. Penulis mencoba untuk memberikan kesimpulan akan keberadaan hadits hasan dalam dunia ilmu hadits.&lt;br /&gt;1. Hadits hasan adalah “sebuah hadits ahad yang diriwayatkan secara muttashil(bersambung) dari berbagai periwayat yang adil, akan tetapi memiliki kekurangan /kurang kuat hafalan yang dimiliki oleh rawi tersebut, yang menukil riwayat dari orang-orang yang semisal dengannya hingga berakhirnya sanad, tanpa adanya ‘illat/cacat dan keganjilan/ syadz”.&lt;br /&gt;2. Pengenalan terma hasan diperluas oleh al-Imam al-Tirmidhi dalam dunia hadits, dan ini adalah sebuah manhaj baru dalam dunia ilmu hadits yang sebelumnya jarang diperbincangkan.&lt;br /&gt;3. Keberadaan hadits hasan mengurangi ‘pembuangan’ sekian banyak riwayat hadits di dalam kitab-kitab hadits, yang dahulu periwayatan hadits(non shahih) tersebut dianggap bermasalah.&lt;br /&gt;4. Kehujjahan hadits hasan menjadi lahan perbincangan dan perselisihan dikalangan muhadditsin dan ushuliyyin.&lt;br /&gt;5. Banyaknya karya kumpulan hadits dari para ulama yang menukil riwayat hasan, disamping shahih, dan dha’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt; al-Albany, Muhammad Nas}r al-Din, Sunan al-Tirmidhi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’a&gt;rif, s.a), 263,  yang dikumpulkan dari S{ah}i&gt;h&gt; dan D{a’i&gt;f Sunan al-Tirmidhi oleh Mashhu&gt;r Hasan a&gt;lu Salma&gt;n.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ibn Hanbal, Ahmad, al-Musnad, hadits no. 20281 (Riyadh: Bayt al-Afka&gt;r al-Dawliyyah, 1419)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ‘Itr, Nur al-Din, Manhaj al-Naqd fi&gt; ‘Ulu&gt;m al-H{adi&gt;th, (Damaskus: Da&gt;r al-Fikr, 1418)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Jawziyyah, Ibn Qayyim, Mukhtasar Sawa’iq al-Mursalah(Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, s.a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Matra&gt;fy, Abdullah, Hukmu al-Ih}tija&gt;j bi khabar al-Wa&gt;hid idza&gt; ‘Amila al-Ra&gt;wi bi Khila&gt;fihi.(Riyadh: Maktabah al-Rushd, 1420),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Mubarakfury, Muhammad Abd al-Rahman, Muqaddimah Tuh}fah al-Ahwadhi , (Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, s.a),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Mundziriy, Zaky al-Din ‘Abd al-‘Adzhim, Mukhtasar Sahih Muslim (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1421), tahqiq Muhammad Nasr al-Din al-Albany&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sa’id,Hamma&gt;m ‘Abd al-Rah}i&gt;m, al-Fikr al-Manhajiy ‘ind al-Muh}addithi&gt;n, (Qatar: s.p, 1408)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Shakir, Ah}mad Muh}ammad, al-Ba&gt;’ith al-Hathi&gt;th Sharh} Ikhtisa&gt;r ‘Ulu&gt;m al-Hadi&gt;th, (al-Kuwayt : Jam’iyyah Ihya&gt;’ al-Tura&gt;th al-Isla&gt;miy, 1414 H),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Siba&gt;’i, Mus}t}afa&gt;, al-Sunnah wa Maka&gt;natuha fi&gt; al-Tashri’ al-Islamy&gt;, (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1405 H) cet.IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Suyu&gt;t}i, Tadrib al-Rawi, (Riya&gt;d}: Maktabah al-Kauthar, 1418),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-T&gt;ahh}a&gt;n, Mahmu&gt;d: Taysi&gt;r Mus}t}alah}} al-H{adi&gt;th (Beirut : Da&gt;}r al-Fikr, s.a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ibn Taimiyyah, Taqiy al-Din, Majmu&gt;’ al-Fata&gt;wa&gt;, (Riyadh : Da&gt;r ‘A&gt;lim al-Kutub, 1412).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; al-Zubaydi, Mukhtasar Sahih al-Bukhary (Mukhtasar al-Zubaydiy), (Beirut: al-Yamamah, 1420),&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203601133881900069-7159535506402743841?l=harryabuazzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/feeds/7159535506402743841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/10/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/7159535506402743841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7203601133881900069/posts/default/7159535506402743841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harryabuazzam.blogspot.com/2009/10/blog-post.html' title='الحديث الحسن'/><author><name>Harry Abu 'Azzam al-Tsaqafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18356769932280414539</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_zG58QQ2nZms/SsmB25LMAcI/AAAAAAAAAAs/B7fUW17Hr4E/S220/watching.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7203601133881900069.post-556526552885935017</id><published>2009-10-05T13:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T13:23:57.880-07:00</updated><title type='text'>Lembaga Pendidikan Islam : Madrasah</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSUHARI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Times New Arabic"; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;} @font-face 	{font-family:"AGA Arabesque"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:Symbol; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	vertical-align:super;} span.MsoPageNumber 	{font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUHARI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:70.9pt 70.9pt 70.9pt 70.9pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1; 	mso-footnote-numbering-restart:each-page;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:172305424; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1343814670 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1 	{mso-list-id:298846245; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-656212774 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2 	{mso-list-id:553278693; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:333976164 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3 	{mso-list-id:957298545; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1382444648 -632923292 67698715 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-text:%1; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level2 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4 	{mso-list-id:1214346762; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1656803156 -632923292 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-text:%1; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5 	{mso-list-id:1525825956; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-941822622 67698701 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l5:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l5:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l5:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l5:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l5:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l6 	{mso-list-id:1791245996; 	mso-list-template-ids:-986007822;} @list l6:level1 	{mso-level-text:"%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level2 	{mso-level-start-at:2; 	mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-text:"%2\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:36.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-text:"%3\)"; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level4 	{mso-level-text:"\(%4\)"; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-text:"\(%5\)"; 	mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-text:"\(%6\)"; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:108.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level7 	{mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7 	{mso-list-id:1910115764; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1412208456 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-font-weight:normal;} @list l7:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8 	{mso-list-id:1975790614; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-63548244 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l8:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l8:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l8:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l8:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l8:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l8:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Lembaga Pendidikan Islam : Madrasah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Asal-usul dan perkembangannya dalam dunia Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;I. Sejarah munculnya madrasah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pada sekitar tahun 459 H&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika sekian banyak kesadaran masyarakat Islam untuk menuntut ilmu dan pengetahuan, sehingga pada tahun ini pula dibuka sebuah lembaga pendidikan (dari sekian banyak lembaga pendidikan yang akan berdiri dan berkembang) di Baghdad oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sang perintis al-waziir(menteri) dari Raja al-Saljuqy al-‘Adzhim yang bernama Nidzham al-Mulk. Sehingga dari awal pendirian lembaga pendidikan ini dalam waktu yang relative singkat banyak berdiri sekian banyak lembaga pendidikan lainnya hingga menyebar sampai ke seluruh pelosok negeri(Baghdad) atau bahkan hingga pada pelosok desa-desa kecil yang ada&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sebelum berdirinya lembaga pendidikan resmi, lembaga pendidikan non formal sesungguhnya telah lama berjalan di kalangan masyarakat Islam di berbagai penjuru negeri yang ada. Sekian banyak halaqah-halaqah yang telah berjalan dalam rangka menyebarkan dan mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat yang ada. Diantara tempat-tempat non formal yang mereka pergunakan dalam proses belajar mengajar adalah masjid-masjid, atau rumah orang-orang alim, took-toko penjual buku, perpustakaan, dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Saat semakin menyebar dan berkembangnya lembaga pendidikan formal sepeti madrasah yang dirintis oleh Nidzham al-Mulk, semakin besar kesempatan emas bagi para pengajar dalam rangka menebarkan dan mengajarkan ilmu pengetahuan, demikian pula bagi para pelajar yang memiliki semangat yang besar dalam menuntut ilmu dan pengetahuan untuk menyalurkan apa yang mereka cita-citakan melalui sarana madrasah ini. Sehingga peminat pelajar dan pengajar yang sebelumnya mereka menyalurkan keinginan mereka dalam trasnformasi ilmu dan pengetahuan melalui sarana non formal(masjid-masjid, atau rumah orang-orang alim, toko-toko penjual buku, perpustakaan, dan lain sebagainya) semakin menipis dan berkurang secara signifikan. Mereka lebih condong untuk menggunakan sarana pendidikan formal(madrasah) dalam rangka transformasi ilmu dan pengetahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;II. Tempat transformasi ilmu dan pengetahuan sebelum berkembangnya madrasah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pusat-pusat keilmuan pada masa Islam klasik terbagi menjadi dua, yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;II. 1. Pusat keilmuan yang berada di luar istana, diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;a. al-Kuttab tempat pembelajaran membaca dan menulis(pemberantasan buta huruf)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-Kuttab merupakan sarana transformasi ilmu dan pengetahuan yang pertama kali berkembang di masyarakat sebelum datangnya Islam, walaupun perkembangannya bisa dikatakan sangatlah lambat. Dikisahkan bahwa awal mula yang mengajarkan ilmu membaca dan menulis arab di kalangan masyarakat Makkah adalah Sufyan ibn Umayyah ibn Abdi al-Syams, kemudian Abu Qays ibn Abd al-Manaf ibn Zahrah ibn Kilaab, yang mereka berdua belajar dari Basyr ibn abd al-Mulk yang belajar dari al-Hiirah. Ibn Khaldun meriwayatkan bahwasanya yang mempelajari tata cara menulis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertama kali kepada al-Hiirah adalah Sufyan ibn&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Umayyah, atau dikatakan pula bahwa yang pertama belajar adalah Harb ibn Umayyah yang mengambil ilmu dari Aslam ibn Sidrah.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Di kemudian hari-ya akhirnya banyak orang-orang Makkah yang mempelajari ilmu membaca dari sekian banyak masyarakat negeri sekitar ketika mereka melalui negeri-negeri tersebut dalam perjalanan perdagangan mereka. Dikisahkan pula bahwa orang yang pertama kali mengajarkan ilmu al-Khat(menulis) di jazirah Arab adalah seorang lelaki dari lembah al-Qura yang kemudian mengajarkan ilmu ini kepada masyarakatnya.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dari inilah awal perkembangan pengajaran baca dan tulis di jazirah Arab, akan tetapi sangat disayangkan bahwa perkembangan pendidikan baca dan tulis ini sangtlah lambat, hal ini terbukti ketika datangnya Islam, diketahui bahwa jumlah orang Quraisy yang dapat membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; akan tetapi dengan datang dan menyebarnya Islam di jazirah Arab, yang membawa misi dan visi khusus baik dalam masalah ubudiyah hingga dalam masalah perpolitikan membawa dampak yang khusus bagi umat Islam untuk lebih termotivasi dalam mempelajari ilmu membaca dan menulis. Kemudian dengan semakin berkembangnya ilmu dan pengetahuan Islam terlebih dalam ilmu periwayatan hadits Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; yang membutuhkan kemampuan seorang rawi untuk bisa membaca dan menulis. Bahkan tidaklah seseorang disebut sebagai kalangan periwayat hadits Nabi yang credible sehingga seorang rawi itu memiliki kemampuan menghafal, kemudian ia tuangkan dalam bentuk tulisan, sehingga kemampuan baca dan tulis tersebut menjadi tolok ukur utama bagi periwayat ketika seseorang menilai kapasitas hafalan dan kredibilitas yang dimiliki oleh sang rawi.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu membaca dan menulis bagi umat Islam, hal ini dapat kita lihat dari kisah perang Badar. Dalam perang Badar ini umat Islam mengalami kemenangan sehingga banyak dikalangan masyarakat musyrik Makkah yang menjadi tawanan perang. Kemudian Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; memberikan sebuah kebijaksanaan kepada tawanan tersebut yang memiliki kemampuan membaca dan menulis untuk menebus diri mereka dengan cara mengajarkan kemampuan membaca dan menulis kepada umat Islam. &lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Syaikh Ahmad Amin menjelaskan pula bahwasanya peran al-kuttab yang merupakan lembaga pendidikan non formal ini sangatlah besar, mereka menggunakan rumah para guru/Syaikh untuk mempelajari tata cara membaca al-Quran dengan cara yang benar, kemudian tata cara menulis, selain itu pula mereka mempelajari ilmu bahasa dan berbagai hal yang berkaitan dengannya. &lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;b. Al-Kuttab sebagai tempat pembelajaran membaca al-Quran dan dasar-dasar ilmu agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Keberadaan kuttab sebagai tempat pengajaran ilmu al-Quran pada awal Islam merupakan salah satu tujuan para orang tua untuk mendidik anak mereka sebagai generasi Qurani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;c. Toko/pasar buku milik para penulis dan penyair(&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;حوانيت الوارقين&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Perkembangan toko dan pasar buku sejak berdirinya dinasti Abbasiyah sangatlah pesat, keberadaan pedagang buku tersebut tidaklah hanya mencari keuntungan perdagangan belaka. Mayoritas pedagang tesebut adalah orang-orang ahli sastra Arab yang memiliki pengetahuan luas tentang ilmu dan pengetahuan. al-Imam ibn al-Jawzy (597 H) mengibaratkan bahwa : “pasar kertas di Baghdad pada zamanku tidaklah hanya sekedar pasar belaka, akan tetapi di pasar tersebut merupakan tempat berkumpul para ulama’ dan para ahli sastra(penyair)”.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;d. Rumah para Ulama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penggunaan rumah para ‘Alim(Ulama’) adalah sangat dikenal pada era sebelum Islam hingga pada masa kedatangan Islam dan sesudahnya. Tradisi ini berlangsung cukup lama, dan bahkan banyak ditemukan hingga saat ini beberapa ‘Alim yang mengajarkan atau memberikan transformasi keilmuan kepada para muridnya di rumah mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;e. al-S{a&gt;lu&gt;na&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;b&gt;al-Adabiyyah (&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الصالونات الأدبية&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;al-S{a&gt;lu&gt;na&gt;t al-Adabiyyah merupakan salah satu tempat orang-orang dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan al-Islam dan bahasa Arab. al-S{a&gt;lu&gt;na&gt;t (&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الصالونات&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;merupakan bentuk &lt;i&gt;jama’&lt;/i&gt;(plural) dari kata (&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الصالون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) yang memiliki arti sebuah ruangan atau rumah tempat berkumpulnya para sastrawan dan penyair Arab dalam mengaplikasikan ilmu yang dimiliki. Selain itu di tempat ini pula mereka (para sastrawan dan penyair Arab) saling berdiskusi dan tukar pendapat tentang ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. &lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Banyak para pemikir dan sastrawan Islam yang berbicara tentang al-S{a&gt;lu&gt;na&gt;t al-Adabiyyah, diantara mereka adalah ibn Abdi Rabbih&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, al-Maqiry, dan al-Maqri&gt;zy&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;f. Al-Badiyah(desa-desa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Desa-desa terpencil sangat mambantu dalam penyebaran ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Arab. Mengingat banyaknya kesalahan penggunaan bahasa Arab(yang banyak dikenal dengan istilah – &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللحن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; – &lt;i&gt;al-lahn&lt;/i&gt;) yang merupakan dampak dari interaksi masyarakat Arab dengan masyarakat non Arab dalam dunia perdagangan mereka. Sehingga keberadaan desa-desa yang masih menggunakan dan mengenal betul akan bahasa Arab yang benar (lepas dari kesalahan nahwu/&lt;i&gt;al-lahn&lt;/i&gt;) sangatlah dibutuhkan dan dijadikan sebagai lahan rujukan terhadap kesalahan bahasa yang terjadi di masyarakat pada saat itu. Bahkan diriwayatkan bahwasanya seorang laki-laki salah dalam menggunakan tata bahasa Arab pada zaman Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;, ketika beliau mendengar kesalahan tersebut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sambil bersabda : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَرْشِدُوْا أَخَاكُمْ فَقَدْ ضَلَّ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Tunjukilah(benarkan) saudara kalian, sesungguhnya ia salah”&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;g. Masjid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sejarah Islam mencatat akan keutamaan yang dimiliki oleh masjid sangatlah besar, disamping sebagai sarana ibadah, masjid juga bersfungsi sebagai sarana transformasi ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan agama Islam. Sekian banyak halaqah-halaqah yang terbentuk sebagai salah satu wadah pendidikan non formal pada awal penyebaran Islam, dan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu hingga berlangsung dari tahun-ketahun atau bahkan dari abad ke abad yang berikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;II.2 Pusat keilmuan yang berada di dalam istana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Banyak ditemukan sekian banyak riwayat yang menceritakan bagaimana para penguasa(Khalifah) Islam mendatangkan beberapa pengajar(mu’alimin) untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka sekian banyak ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan al-Quran, Hadits, Adab(sastra), suluk, akhlaq dan yang lainnya. Sebagaimana kisah Abdul Malik ibn Marwan ketika memberikan wasiat kepada &lt;i&gt;al-Muaddib&lt;/i&gt;(pengajar) anaknya dengan mengatakan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَلِّمْهُمُ الصِّدْقَ كَماَ تُعَلِّمُهُمُ القُرْآنَ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ajarkanlah kepada mereka al-Shidq(kejujuran), sebagaimana engkau mengajarkan kepada mereka al-Quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;III. Tenpat Transformasi ilmu dan pengetahuan formal : Madrasah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;III. 1. Sebab perpindahan pola belajar-mengajar dari Masjid ke madrasah&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tidak diragukan lagi akan besarnya semangat yang dimiliki oleh generasi Islam dalam menuntut ilmu ketika awal Islam, dan seiring perkembangan zaman dan Islam, kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu semakin besar pula. Banyak ditemukan halaqah-halaqah pengajaran ilmu di sekian banyak masjid yang tersebar pada saat itu. Secara otomatis dengan banyaknya halaqah berkaitan pula dengan semakin banyaknya para pengajar dan santri yang diajarkan ilmu oleh sang pengajar tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak adanya kelas/pembatas menyebabkan penyelenggaraan pendidikan di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masjid sangat mengganggu(masjid menjadi gaduh dan bising akibat terdengar suara pengajar dan sekian banyak santri) bagi orang lain yang ingin melaksanakan ibadah di dalamnya, baik itu berupa memperpanjang waktu shalat, dzikir, dan lain sebagainya. Walaupun gangguan yang ditimbulkan di dalam masjid sebenarnya tidak signifikan, akan tetapi secara tidak langsung akan merubah fungsi utama masjid yaitu sebagai tempat beribadah, shalat, dzikir, dan yang lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sebab yang berikutnya, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan beserta cabang-cabang yang dimiliki, sebagaimana contoh ilmu kalam. Ilmu ini membutuhkan waktu khusus bagi pengajar ataupun siswa untuk menggunakannya sebagai latihan berpidato, musyawarah, debat dan lainnya. Akhirnya semakin menambah jam penggunaan masjid sebagai tempat belajar dan mengajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sebab lainnya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;timbulnya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagian guru mulai berfikir untuk mendapatkan rezki melalui institusi pendidikan, dan diksahkan sebagian besar dari mereka ada yang pekerjaannya sepanjang hari adalah mengajar. Oleh karena itu mereka berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka melalui jalur pendidikan yang tidak mungkin di dapatkan di masjid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Akhirnya didirikannya madrasah sebagai pengganti lokasi tempat menuntut ilmu yang baru dan mengembalikan masjid kepada fungsi awalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam penelitian Makdisi, ia mengatakan keberadaan pendirian madrasah terutama madrasah nizhamiyyah yang didirikan oleh Nidzham al-Mulk adalah tidak terlepas dari kepentingan politik Negara pada saat itu. Mengingat pesatnya dan menyebarnya perkembangan pemahaman syi’ah di kalangan dinasti fatimiyyah di Mesir, perkembangan pemahaman syi’ah ini di anggap cukup membahayakan keberadaan pehamanan resmi yang di anut oleh dinasti al-Saljuqy. Dimana pemahaman resmi pada saat itu adalah pemahaman ‘Asy’ariyyah dan Syafi’iyyah. Sehingga terdapat tiga tujuan utama dalam penyelenggaraan madrasah yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;P&lt;b&gt;engadaan kader-kader      pengajar dan santri ahlu al-Sunnah yang mumpuni keilmuan dan pemahamannya      dalam menghadapi kaum syi’ah,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Membendung berkembangnya      pemahaman syi’ah, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dan menyiapkan tenaga kerja      yang berpehamanan ahlu al-Sunnah sebagai karderisasi ketika mereka bekerja      di instansi pemerintahan dynasti Saljuqy.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Perlawanan terhadap kaum Syi’ah tidak cukup dengan perlawanan senjata semata, tapi juga dengan penanaman ideology yang kokoh sehingga dapat membantah dan melawan ideology kaum Syi’ah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pertimbangan seperti ini dilakukan karena Syi’ah sangat aktif dan sistematik dalam melakukan indoktrinasi melalui pendidikan atau aktivitas pemikiran orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;III. 2. Madrasah Nidzhamiyyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Makdisi mengajukan teori bahwa perkembangan madrasah melalui tiga tahapan, yang pertama masjid, masjid Khan, dan madrasah itu sendiri.&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Tahap masjid berlangsung mulai dari abad ke delapan hingga pada abad ke sembilan, yang menfungsikan masjid selain sebagai tempat shalat juga sebagai tempat majelis ta’lim. Tahap kedua adalah masjid Khan, yaitu masjid yang dilengkapi dengan sarana al-khan(berupa asrama dan pondokan bagi para santrinya, yang dilengkapi pula dengan toko yang memenuh kebutuhan guru dan siswa). Tahap ini sangat representative bagi para murid yang berasal dari daerah yang jauh sehingga memudahkan mereka dalam menuntut ilmu yang mereka inginkan. Menurutnya(Makdisi) pada zaman Badr ibn&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;H{asanawayh al-Kurdi(w.1015 M) sewaktu menjadi Gubernur di kawasan Adud al-Daulah telah mendirikan masjid al-khan ini berjumlah tidak kurang dari 3.000 buah.&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Baru setelah dua tahap di atas,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;didirikan madrasah sebagai institusi pendidikan resmi yang dikhususkan sebagai tempat atau sarana belajar mengajar. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwasanya madrasah merupakan penggabungan dan penyempurnaan dua system pendidikan sebelumnya yaitu masjid dan masjid al-khan. Walaupun dalam hal ini teori makdisi di bantah oleh Syaikh Ahmad Syalabi sebagaimana penjelasan di atas yang menjelaskan bahwa perkembangan pendidikan dari masjid ke madrasah tidak melalui tiga tahapan, akan tetapi langsung dua tahapan(masjid dan madrasah). Selain itu pendirian madrasah Nidzhamiyyah adalah sebagai pembatas, untuk membedakan dengan era pendidikan sebelumnya.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Era baru yang dimaksud adalah terletak pada ketentuan-ketentuan yang lebih jelas yang berkaitan dengan komponen-komponen pendidikan dan pada keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan madrasah. Walaupun dalam keterkaitan pemerintah terhadap pengelolaan madrasah di bantah oleh George Makdisi, akan tetapi yang perlu kita perhatikan bahwasanya keberadaan Nizam al-Mulk pada saat itu adalah seorang waziir yang masih sangat aktif dalam pemerintahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Raja al-Saljuqy. Sehingga Abd al-Majid Abd al-Futuh menyatakan : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;“dari kajian tentang pertumbuhan madrasah Nidzhamiyyah dan mengikuti sejarah perkembangannya, kami dapat menentukan tiga tujuan utamanya. &lt;b&gt;Pertama: &lt;/b&gt;menyebarkan pemahanman sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi’ah. &lt;b&gt;Kedua: &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyediakan para guru dari kalangan sunni yang cakap dan handal untuk mengajarkan madzhab sunni dan menyebarkannya di tempat lain. &lt;b&gt;Ketiga: &lt;/b&gt;membentuk kelompok kerja dari kalangan pekerja sunni&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan manajemen”.&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dari penjelasan di atas dapat sekian banyak motivasi yang mendasari kelahiran madrasah , yaitu selain motivasi agama, dan motivasi ekonomi, karena berkaitan dengan ketenaga kerjaan, juga memotivasi politik. Dengan berdirinya madrasah, maka pendidikan Islam memasuki periode baru yaitu :”Pendidikan menjadi fungsi bagi Negara, dan sekolah-sekolah dilembagakan untuk tujuan pendidikan sectarian dan indoktrinasi politik”.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kebijakan yang terjadi pada kasus madrasah nidzhamiyyah ini ternyata masih dilanjutkan oleh pemerintah berikutnya, yaitu pemerintahan al-Mustanshir, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin al-Ayyubi. Dan modelnya mereka ini mengikuti jejak Nidzham al-Mulk, dengan memasukkan kepentingan-kepentingan di atas ke dalam peran madrasah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;III. 3. Lembaga waqaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam keberadaannya di madrasah Nidzhamiyyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Keberadaan lembaga waqaf dalam perannya di lingkup madrasah sangatlah besar. Ibn Taimiyyah menjelaskan akan keberadaan objek lembaga waqaf yang meliputi madrasah, masjid, &lt;i&gt;khawanik&lt;/i&gt;(semacam biara/pesantren), masjid Jami’, rumah sakit, &lt;i&gt;ribat&lt;/i&gt;, shadaqah, pembebasan budak perang, dan lain sebagainya dari objek waqaf. Kaum muslimin waktu itu memiliki sekian banyak faktor yang mendorong mereka dalam menegakkan lembaga waqaf ini diantara motivator tersebut adalah : 1. Upaya pendekatan diri kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;U&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;, 2. Motivasi dalam diri pribadi sebagai bentuk &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Lembaga ini dipercayakan kepada seorang yang &lt;i&gt;amin&lt;/i&gt;(amanah) dengan sebutan al-Mutawalli. Dengan klasifikasi hendaknya ia adalah seorang yang beragama Islam, memiliki tanggung jawab moral yang besar, dapat melaksanakan tugas / memiliki kemampuan, adil(tidak memiliki record(catatan) kejahatan atau pelanggaran moral. Lembaga ini juga sangat membantu dalam kesuksesan kegiatan belajar-mengajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;III. 4. Syistem : setiap elemen pendidikan yang menyatu dalam mewujudkan tujuan pendidikan di madrasah Nidzhamiyyah&lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;1. Pembagian divisi ilmu pengetahuan : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ibn Butlan(salah satu tokoh      Islam ahli kedokteran w.460H/1068M) dan pembagian tiga divisi ilmu      pengetahuan yaitu, Ilmu-ilmu(yang berkaitan dengan) Islam, Filsafat dan      ilmu alam, kemudian seni kasusasteraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Subordinasi dari ilmu seni      kasusasteraan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Badan Waqaf dan pembagian      secara garis besar menjadi dua dalam divisi ilmu pengetahuan, yaitu &lt;b&gt;pertama:      &lt;/b&gt;institusi pembelajaran yang menganut pemahaman klasik/tradisional,      mengacu dan mengfokuskan pembelajaran pada ilmu agama Islam. &lt;b&gt;Yang      kedua: &lt;/b&gt;institusi pembelajaran yang mengikuti perkembangan zaman      terhadap ilmu pengetahuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;2. Manajemen Pembelajaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kurikulum, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Yang mengikuti tahapan pembelajaran dasar utama agama Islam, yaitu al-Quran, hadith, ulum al-Quran, ulum al-hadith,ushul al-din dan ushul al-Fiqh dan pengembangan ilmu-ilmu yang lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Penataan kelas/ruangan belajar      mengajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;i)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Penataan posisi guru dan murid di kelas, dijelaskan oleh Abu Sa’d al-Mutawalli (yang akhirnya beliau menjadi seorang guru besar di madrasah nidzhamiyyah) selama beliau belajar di madrasah tersebut, pada awal mulanya beliau duduk di belakang. Saat Syaikh yang mengajar adalah Abu al-Harith ibn Abi al-Fadl al-Sarakhsi, banyak pertanyaan yang dilontarkan dan beliau(Abu Sa’ad) jawab dengan tegas, lugas, dan tepat. Sehingga pada hari berikutnya sang guru memintanya agar duduk senantiasa dekat dengan beliau bahkan dikemudian hari ia(Abu Sa’d) duduk berada di samping sang guru. Hal ini mengindikasikan penataan tempat duduk murid adalah sang guru yang menentukan.&lt;a style="" href="#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;ii)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Fungsi dari pengaturan kelas menurut versi sang guru. Banyak dijelaskan bahwa fungsi pengaturan tersebut adalah penataan komunikasi guru kepada murid keseluruhan yang disesuaikan dengan kemampuan daya tangkap dari masing-masing murid yang ada. Para murid yang cerdas duduk di depan dekat dengan sang guru, agar bagi murid yang memiliki kecerdasan kurang dapat mengambil transformasi keilmuan pada lapisan yang kedua(kepada murid cerdas/senior) dalam menjelaskan keterangan guru lebih lanjut kepada mereka yang ‘kurang’&lt;a style="" href="#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;iii)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Berdoa di dalam kelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kegiatan belajar mengajar di kelas diawali dan diakhiri dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta(Allah). Hal ini diindikasikan sebagai bentuk mengharapkan berkah agar ilmu yang didapatkan dapat bermanfaat dan berguna.&lt;a style="" href="#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pengaturan jadwal harian proses      belajar mengajar, dan hari libur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kamal al-Din ibn al-Zamlakani(w.727H/1327M) mengisahkan bahwa hari-hari belajar adalah hari Sabtu hingga Rabu, dan libur pada hari Kamis dan Jumat. Selain liburan dua hari pada setiap minggu juga ada liburan khusus pada bulan suci Ramadhan, bahkan juga ada bulan khusus yang libur penuh di dalamnya yaitu Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.&lt;a style="" href="#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pengaturan lama study&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pengaturan lama study tidak terbatas kepada ketentuan waktu yang ada, selain empat tahun study untuk menyelesaikan ilmu dasar Syari’ah Islam. Seseorang dapat melanjutkan studynya ke berbagai tempat dan mempelajari berbagai ilmu lainnya sesuai dengan apa yang ia inginkan tanpa ada batasan waktu. Dalam hal ini sekian banyak kisah para tokoh Islam yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan tanpa mengenal rasa lelah. &lt;a style="" href="#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;4. Metodologi Belajar/menuntut ilmu&lt;a style="" href="#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Metodologi para penuntut ilmu komunitas muslimin dapat dijelaskan sebagai berikut : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sistem Hafalan, merupakan salah satu system tertua dalam mendapatkan dan menyimpan ilmu seseorang agar tidak hilang. Cara seperti ini sangat dikenal di dunia Islam terutama pada awal sebelum datangnya Islam dan setelah kedatangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Cara kedua adalah dengan cara me-&lt;i&gt;repeat&lt;/i&gt;- atau dengan kata lain mengulang-ulang apa yang telah diperoleh dari ilmu dan pengetahuan agar lebih mantap dan tetap hafalan tersebut di dalam ingatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Cara ketiga adalah memahami ilmu yang telah diperoleh, Karena tidak semua ilmu yang telah diperoleh dan dihafalkan difahami dengan benar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ilmu tesebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mudzakara adalah cara keempat yang ‘agak mirip’ dengan cara yang pertama, yang membedakan adalah cara ini selain menghafal juga memahami ilmu pengetahuan yang dipelajari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;e&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mengikat hafalan dan pemahaman dengan menulis, sebuah cara yang sangat dibutuhkan oleh setiap penuntu ilmu yang memiliki kekuatan hafalan dan pemahaman ‘agak kurang’, walaupun cara ini juga sangat dibutuhkan bagi penuntut ilmu yang cerdas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;5. Komunitas Madrasah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Professor atau yang dikenal juga dengan istilah mudarris/pengajar atau Syaikh adalah sebuah sebutan bagi orang yang memiliki keahlian di dalam suatu atau sekian banyak ilmu pengetahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                                &lt;/span&gt;i.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Status didalam komunitas madrasah adalah sangat penting, selain itu ia berfungsi sebagai penunjuk dan pengangkat para guru dan asisten guru yang layak untuk menggantikan tugas mengajar yang diembannya apabila sang guru berhalangan. Diantara pengajar yang sangat terkenal di dalam madrasah nidzhamiyyah dan mengangkat keberadaan madrasah ini adalah Imam al-Ghazali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                             &lt;/span&gt;ii.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Honor yang didapatkan adalah berasal dari pembayaran infaq/iuran para murid, dana pensiun, bantuan gaji, dan anggaran belanja madrasah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Murid, yang memiliki sekian banyak klasifikasi, antara lain : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Secara relative pembagian murid ada tiga macam, sebagai pemula- al-mubtadi’, mutawasith(intermediate), dan kelas akhir(muntahin). Kemudian sebagai santri/siswa yang menerima beasiswa, dan sebagai santri/siswa yang menguasai dasar-dasar ilmu yang disebut dengan istilah mutafaqqih dan faqih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tempat tugas masing-masing jabatan pada madrasah dan fungsi yang diemban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pengaturan tempat tugas dan fungsional masing-masing jabatan telah di atur, professor, dosen/mudarris, asisten guru, pegawai dan lain sebagainya. Kesemuanya bertujuan untuk keberlangsungan dan kelancaran proses belajar dan mengajar di madrasah Nidzhamiyyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;IV. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Beberapa Madrasah lain yang berdiri berikutnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Selain madrasah Nidzhamiyyah, juga terdapat dan tercatat beberapa madrasah yang lain diantaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mada&gt;ris(beberapa madrasah)      yang didirikan oleh Nu&gt;r al-Di&gt;n Zanky&gt; di Damaskus yang      berjumlah lebih dari 5 buah. Di kota Damaskus sendiri berjumlah 5 buah      madrasah antara lain : Madrasah Da&gt;r al-Hadi&gt;th al-Na’i&gt;miy,      al-Shalahiyyah, al-‘Imadiyyah, al-Kilasah, dan al-Nuriyyah al-Kubra.      Selain di Damaskus ada beberapa Madrasah lainnya yang berdiri di lain      lokasi yang berjumlah 8 buah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mada&gt;ris yang didirikan pada      masa al-Ayyu&gt;biy dan memiliki sekian banyak madrasah yang mempelajari      sekian banyak ilmu pengetahuan dan tidak hanya terikat kepada ilmu agama      semata(yang juga mempelajari ilmu-ilmu umum dan sains misalnya ilmu      kedokteran). Madrasah ini berjumlah lebih dari 16 buah dan menyebar di      beberapa penjuru negeri seperti Mesir, Bait al-Maqdis(Palestina), Damaskus      dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Madrasah al-Nuriyyah al-Kubra      adalah salah satu madrasah yang berdiri pula setelah madrasah nidzhamiyyah,      awal berdiri lembaga pendidikan ini adalah untuk pengajaran ilmu syari’ah      dalam lingkup madzhab Imam Abu H{ani&gt;fah al-Nu’ma&gt;n.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Arabic&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;V. Tradisi keilmuan madrasah :
